Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Angkatan 110 di Banda Aceh resmi berakhir pada Minggu malam (1/11/2026). Sebanyak 28 peserta dari AJI Banda Aceh dan AJI Bireuen yang mengikuti pengujian jenjang muda, madya, dan utama seluruhnya dinyatakan lulus dan berkompeten.
Uji kompetensi tersebut dilaksanakan selama dua hari mulai 31 Oktober sampai 1 November 2026 di Gedung Asrama Haji Kelas I Aceh, Kota Banda Aceh. Para peserta di antaranya 5 untuk jenjang muda, 14 madya, dan 9 utama.
Adapun tim penguji yaitu Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida, Danu Sukendro, Taufik Budi Wijaya, Adi Warsidi dan Muhammad Hamzah, serta dua penguji magang yakni Uzair dan Agus Rahmat Budiono.
Ketua AJI Kota Banda Aceh, Reza Munawir, mengatakan UKJ merupakan salah satu upaya organisasi untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Menurutnya, kompetensi menjadi aspek penting yang harus dimiliki setiap jurnalis, tidak hanya dalam menghasilkan karya jurnalistik, tetapi juga memahami etika, menjaga independensi, serta mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikan kepada publik.
“Uji kompetensi ini bukan sekadar untuk mendapatkan pengakuan atau sertifikat. Lebih dari itu, UKJ menjadi ruang bagi jurnalis untuk mengukur kemampuan, mengevaluasi praktik jurnalistik, sekaligus memperkuat pemahaman terhadap profesionalisme dan kode etik jurnalistik,” kata Reza, Senin (2/11/2026).
Reza menjelaskan, selama uji kompetensi yang telah berlangsung selama dua hari tersebut, para peserta mengikuti sejumlah rangkaian ujian hingga praktik sesuai modul yang telah ditetapkan oleh tim penguji.
“Ada 14 modul, ujiannya berbentuk lisan dan tulisan. Teman-teman juga praktik langsung bagaimana membuat media dan mengelola redaksi untuk menghasilkan produk jurnalistik berkualitas,” ujarnya
Berdasarkan hasil ujian dan praktik tersebut, semua peserta dari tiga jenjang baik muda, madya, dan utama, dinyatakan kompeten.
“Capaian ini harus menjadi refleksi dan dimaknai sebagai tanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik,” tuturnya.
Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, mengingatkan para jurnalis yang telah dinyatakan kompeten agar tidak menjadikan predikat tersebut sebagai akhir dari proses peningkatan kapasitas diri.
“Predikat kompeten bukan garis akhir. Terus berjuang, upgrade diri, patuhi kode etik, sampaikan kebenaran, dan tetap profesional,” katanya.
Salah seorang peserta UKJ jenjang madya, Subur Dani, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan AJI.
Dirinya menilai UKJ menjadi kesempatan bagi jurnalis untuk mengukur kemampuan sekaligus memperdalam pemahaman mengenai standar profesi kewartawanan.
“UKJ ini memberikan pengalaman dan pembelajaran bagi kami sebagai jurnalis. Melalui proses pengujian, kami tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga menunjukkan kemampuan dalam praktik jurnalistik mulai dari mencari, mengolah, hingga menyajikan informasi kepada masyarakat,” katanya.
Subur berharap, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar jurnalis semakin memahami tanggung jawab profesinya, terutama dalam menghadapi tantangan dunia jurnalistik yang terus berkembang.
“Harapannya, kompetensi yang diperoleh melalui UKJ ini dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari. Sebab, jurnalis tidak hanya dituntut cepat dalam menyampaikan informasi, tetapi juga harus akurat, berimbang, independen, dan tetap berpegang pada kode etik jurnalistik,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, Jumat (30/10), di lokasi yang sama, juga digelar tiga sesi diskusi dalam rangkaian Seminar Jurnalisme 2026. Diskusi sesi pertama mengangkat tema “Meliput Isu Strategis: Infrastruktur Kelistrikan di Aceh”, dengan menghadirkan Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN UID Aceh, Eriasmono, sebagai narasumber yang dipandu Juli Amin sebagai moderator.
Sesi kedua membahas “Optimalisasi Pajak Kendaraan Bermotor sebagai Penggerak Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Aceh”. Diskusi ini menghadirkan perwakilan industri sektor otomotif Aceh, Azhar, dan Kepala Bidang Pendapatan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Saumi Elfiza, dengan Zainal Arifin M. Nur sebagai moderator.
Pada sesi siang, diskusi dilanjutkan dengan tema “Jurnalis dan Serikat Pekerja Media: Pentingnya Jaminan Sosial bagi Pekerja Media”. Sesi ini menghadirkan Fransiskus Marcelino Talokon sebagai narasumber melalui konferensi daring (Zoom), yang dipandu Nurul Hasanah.


