Jauh sebelum penjelajah Eropa menggunakan kapal mereka mencari pulau-pulau yang jauh, ternyata orang-orang Muslim telah melakukannya. Penjelajah dari Arab sudah berlayar dan mencatat jauh sebelum itu.
Mari kita putar peta dan kembali ke masa keemasan Bagdad dan berkenalan dengan Abdul Hassan Al Masúdi, salah seorang penjelajah muda yang penasaran dan haus akan ilmu. Ia menulis banyak dari petualangan itu dan menjadi rujukan ilmu pengetahuan paling awal di bidang geografi, geologi, zoologi bahkan gempa bumi.
Abul Hasan Ali Ibn Hussain ibn Ali Al Masúdi (895-957 M) lahir pada saat Bagdad mengalami perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Buku-buku dapat diperoleh dengan kualitas terbaik dan murah. Perpustakaan menyediakan buku-buku tebal dan terjemahan karya-karya dari banyak pemikir-pemikir masyhur dunia. Ia hidup sezaman dengan tokoh intelektual muslim lainnya seperti Al Razi, Abu Tabari, Al Ashari, Mansur al Hallaj hingga Al Farabi. Hal ini membuatnya sangat haus akan ilmu pengetahuan. Keluarganya juga sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan. Al Masúdi merupakan keturunan langsung dari Abdullah Ibn Mas’ud, sahabat Nabi Muhammad SAW.
Tidak banyak data tentang masa kecilnya namun berdasarkan catatan yang Ia tulis sendiri, saat itu Dinasti Abbasyiah sedang berada di bawah sultan Al Mu’tadid. Kala itu Islam telah menyebar sampai ke Spanyol dan India. Kala itu penyebaran Islam menjadi luas namun keadaaan di Bagdad tidak begitu baik karena peralihan politik dan kekuatan Dinasti Abbasyiah. Meskipun begitu perdagangan dan perjalanan telah menghapus banyak hambatan yang ada, melampaui batas wilayah, agama dan etnis masyarakat.
Kabar akan kota-kota yang makmur di sepanjang pantai Afrika Timur, Asia Selatan hingga Pasifik Barat. Dari Mobasa, Mogadishu, Kochi, Gujarat sampai ke Kanton. Hal ini membuat Al Masúdi muda bergejolak, Ia ingin menjelajah, mengamati dan mempelajari sesuatu yang baru. Pada saat berusia 20 tahun Ia mulai berkenala untuk pertama kalinya ke Persia dari Bagdad. Saat itu ia mulai menulis. Dari sini ia mengetahui lebih banyak tentang wilayah di luar Jazirah Arab.
Setelah kembali ke Bagdad setahun kemudian, Al Masúdi telah merancang rute baru. Kala itu ia memilih Mesir lalu ke Mansura dan Multan (sekarang Pakistan) yang digambarkan sebagai delta sungai dengan penduduk yang makmur. Mansura sendiri adalah ibukota dari Sind. Kafilah lalu berkelana menuju Surat di Gujarat. Di sini Ia mulai mempelajari astrologi hindu dan ilmu perbintangan yang kemudian menjadi kontribusi dalam penulisan bidang astronomi Islam. Ia bahkan sempat meneliti biota laut dekat perairan Bombay.
Perjalanan dilanjutkan ke Malabar, pantai barat India menuju Sri Lanka lalu ke Sumatra bahkan sempat singgah di Aceh sebelum kemudian berlayar ke Malaka. Malaka sudah menjadi bandar yang sibuk saat itu dan menjadi jalur perdagangan penghubung kapal-kapal di Samudera Hindia (Pantai Timur India) dan Laut China Selatan. Dari sini penjelajahan berlanjut ke utara menuju Kanton, China dan sampai pada tahun 920, kota yang kala itu berada di bawah Dinasti Tang. Ia mencatat tentang kemakmuran dan bisnis garam.
Saat kembali Ia menelusuri jalur awal di sekitar tepi Samudra Hindia dan menuju Madagaskar dan Pantai Timur Afrika melewati kota-kota kaya emas dan rempah lalu kembali ke pelabuhan Basrah (Irak).
Setibanya di tanah air, Ia segera menulis pengalaman dan hal-hal yang diamatinya. Al- Masúdi adalah pengigat yang hebat dan penulis yang cepat serta berbakat. Karya ini diberi nama “Maruj az Zahab wa al-Ma’adin al-Jawahir” (The Meadows of Gold and the Mines of Gems – Padang Rumput Emas dan Tambang Permata).
Buku ini mengambarkan secara rinci dan menarik tentang wilayah, letak geografi yang mempengaruhinya dan ekologi sekitar. Karya ini kemudia menjadi rujukan awal tetang sejarah dan geografi ensiklopedia yang mencatat sejarah universal dari keberadaan dunia hingga era Abbasiyah, bersamaan dengan pengamatan terperinci tentang wilayah non-Islam yang telah dikunjunginya, termasuk India sampai China.
Al Masúdi juga mendokumentasikan beragam bahasa, praktik keagamaan, dan fragmentasi politik kerajaan-kerajaan yang ada bahkan memberikan deskripsi awal tentang Iklim setempat, pola angin monsun dan pembalikan arus laut sampai gempa bumi yang pernah terjadi.
Al Masúdi juga menulis tentang Aceh pada zaman itu, saat Ia sempat singgah. Ia menyebut wilayah Kandari dan Ramni (yang diyakini sebagai Lamuri – Kerajaan Aceh kuno di pesisir Aceh Besar). Di kawasan ini terdapat produksi kapur barus yang melimpah, rempah yang dijadikan bumbu, cengkeh dan banyak gajah. Catatan ini kemudian menjadi salah satu yang paling awal yang mencatat tentang perdagangan di bandar Aceh.
Pengembaraan hidup kemudian membuatnya pindah ke Damaskus (Suriah) dan tak lama kemudian kembali hijrah ke Fustrat (Kairo – Mesir) di sini ia menyelesaikan seri kedua dari tulisan sebelumnya dan berisi 30 jilid, berjudul Maruj al Zaman (Sejarah Waktu). Buku ini mencatat secara detail tentang budaya, praktik keagamaan, dan adat istiadat masyarakat yang telah dikunjunginya serta membuat pengamatan tentang peradaban mereka.
Karyanya ini yang membuat Al Masúdi menjadi sejarawan pertama yang tulisannya berdasarkan penelitian langsung, pengamatan empiris dan induktif. Bahkan lebih awal dari Ibn Khaldun yang dianggap sebagai bapak histotiografi modern. Tidak hanya itu, kemudian ia menulis Kitab al-Aswat (Buku Tengah) yang merincikan secara runut peristiwa sejarah dari zaman kuno hingga tahun 955 M. Karya ini menjadi yang tulisan ilmiah pertama yang memisahkan kejadian sejarah dari legenda, mitos dan desas-desus turun-temurun. Salah satu jilidnya sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford.
Ketertarikannya pada juga agama-agama dan praktik-praktiknya seperti Yahudi, Kristen, Zoroastrianisme, agama-agama Yunani Kuno, kepercayaan dan tradisi di India and China, membuatnya menulis kategorisasi agama yang dinamai, “typology of religions.”
Sebelum meninggal pada 957, cendikiawan ini sempat menulis al-Tanbih wa al-Ishraf (book of indications and revisions) yang memberi ringkasan dan review dari karya-karya sebelumnya. Walaupun kadang-kadang disebutkan sebagai Herodotus dari Arab namun metode pengumpulan sumber yang mereka lakukan jauh berbeda. Al Masúdi melakukan pendekatan yang jauh dari kontroversi. Ia mengumpulkan data berlandaskan pada geografi, etnografi, ekologi hingga antropologi, metodelogi yang digunakannya berakar pada metode induktif.
Pada saat yang sama, sambil menulis karyanya Ia juga Menyusun peta dunia yang baru. Al Masúdi adalah seorang ahli geologi dan mineralogi yang ulung. Ia mempelajari gempa bumi dan dalam salah satu risalahnya ia menganalisis gempa bumi tahun 855 Masehi. Ia juga mengemukakan teori evolusi dari mineral ke tumbuhan, hewan, hingga manusia, jauh sebelum Charles Darwin yang melakukannya sembilan ratus tahun kemudian. Al Masúdi juga menulis tentang laut bahkan kincir angin.
Pada karya Maruj az Zahab wa al-Ma’adin al-Jawahir, Al Masʿudi menulis alasannya melakukan penelitian “Tujuan saya adalah untuk menelusuri tanah dan sejarah banyak bangsa, dan saya tidak memiliki tujuan lain.”
“Informasi yang telah kami kumpulkan di sini adalah buah dari penelitian bertahun-tahun dan upaya yang melelahkan dari perjalanan dan penjelajahan kami di Timur dan Barat, dan berbagai bangsa yang berada di luar wilayah Islam,” tulisnya.
Al Masʿudi melihat dirinya seperti seorang pria yang, setelah menemukan mutiara dari segala jenis dan warna, mengumpulkannya menjadi sebuah kalung dan menjadikannya perhiasan yang dijaga dengan sangat hati-hati oleh pemiliknya. []


