Apa yang tergambarkan jika melihat bertemakan film tentang perang? Pahlawan melawan penjahat? Tokoh antagonis yang jahat? Pahlawan yang patriotik? Korban yang menyedihkan? Kebanyakan film tentang perang memang menyajikan permasalahan hitam-putih dan sinematografi yang penuh ledakan.
“One Upon a Time in the Middle East” atau “Welcome to Dragon Restorant”menyajikan sesuatu yang berbeda. Film ini memakai kacamata orang biasa yang berusaha tetap bertahan di tengah situasi eskalasi perang yang meningkat. Berusaha menyelamatkan diri atau berusaha mati-matian tetap bisa menjalankan hidup seadanya. Film ini memfokuskan narasinya pada “orang-orang kecil” yang hidupnya berubah karena perang.
Pengambilan gambar dimulai ketika Xu Fu yang diperankan Shen Teng, seorang koki yang memutuskan melakukan hijrah dari kampung halamannya, pindah dan bekerja demi membayar utang keluarga dan hidup lebih baik. Ia akan bekerja pada restoran China di kota Bahata, sebuah negara Kawasan Asia Barat. Di restoran ini dia bertemu dengan Ma Jusheng (Jiang Qiming) sang manager.
Restoran bernama Long ini, berkembang pesat saat mereka bekerja sama menjalankan ide-ide mengembangkan bisnis tersebut. Berkat keteguhan, kerja keras, keahlian memasak dan pandai membaca peluang bisnis. Restoran perlahan menjadi popular di antara penduduk lokal. Tempat ini hampir selalu penuh. Xu Fu mulai mendapatkan keuntungan besar dan mulai melihat masa depannya yang cerah dan indah.
Namun keadaan berbalik tajam ketika perang pecah. Kehidupan yang dulunya berjalan normal, sekejab mata berubah menjadi ajang bertahan hidup. Kenyataan harus kehilangan rekannya Ma Junsheng kemudian menjadi titik balik dalam hidupnya. Kekacauan perang membuat orang biasa mencari nafkah untuk menghidupi keluarga berubah tiba-tiba. Bagaimana restoran ini bertahan di tengah perang?
Ketika film perang biasanya mengambarkan sisi kepahlawanan dan medan laga. “Welcome to Dragon Restorant” menyorot sisi lain yang jarang dibidik, bagaimana orang biasa berusaha susah payah bertahan yang digambarkan melalui diaspora China. Meskipun begitu cerita ini terasa tetap dekat karena “China Town” hampir bisa ditemui di manapun. Lagi pula orang-orang seperti Xi Fu gampang ditemui, mereka yang berkerja keras mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.
Film ini menceritakan tentang perang, makanan, bisnis dan hubungan sesama manusia dengan cara yang menarik. Makanan yang disajikan juga mengugah selera. Tema tentang makanan pun menjadi pilihan brilian karena walaupun sedang berperang, manusia tetap membutuhkan makan dan ini sangat manusiawi dan mengingatkan penonton bahwa tidak ada alasan baik apapun untuk berperang.
Memang film yang rilis pada bulan Agustus 2026 mengambarkan dengan gamblang dengan latar belakang serangan Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003 namun tidak ada lokasi yang disebut. Sang sutradara Wen Muye mengungkapkan hal ini dilakukan karena Ia tidak ingin membatasi perang di area tertentu. Karena perang kapan pun terjadi baik dulu atau masa akan datang, selalu ada rasa kemanusiaan yang muncul, dan harga yang harus dibayar oleh orang biasa.
Terlepas dari beberapa potongan adegan yang vulgar beberapa ledakan dan AI, film ini menjadi film anti perang dengan sentuhan empati epik dibandingkan dengan film yang mengangkat tema serupa. Lebih simpati terhadap masyarakat sekitar, tidak mengambarkan China sebagai pahlawan karena tidak ada perannya yang signifikan dalam layar. Interpretasinya netral dan objektif mengenai invasi Amerika dan dampaknya bagi Kawasan itu. Film juga menggunakan bahasa Mandarin, Inggris dan Arab yang dengan kombinasi baik dan tertata.
Film juga mengambarkan konteks yang memadai untuk penonton untuk memahami dinamika dibalik munculnya berbagai pemberontakan dan kenapa orang mau bergabung. Tidak hanya itu, tidak ada sentimen anti Amerika yang digambarkan mutlak, malah lebih kepada rasa simpati terhadap tentara yang merindukan rumah karena tidak ingin berada di medan perang.
Film yang mengangkat tema kisah orang-orang biasa menang sedang digemari. Awal tahun 2026 Film indie Dear You yang menceritakan diaspora China di Asia Tenggara dan kerja keras mereka membangun hidup baru dan menjaga kebudayaan leluhur juga menjadi box office bahkan tanpa ada aktor terkenal didalamnya. Begitu juga dengan “Once Upon in the Middle East” yang segara memuncaki tangga box office di China dan menjadi film yang paling banyak dibicarakan bulan ini.
Film ini seakan menjadi jawaban dari banyak pertanyaan kenapa Tiongkok tidak ingin terlibat secara langsung dalam perang yang terjadi antara Amerika-Israel terhadap Iran. Seperti digambarkan dalam film ini masyarakat di kawasan konflik lebih membutuhkan hidup yang damai dari pada pahlawan yang datang setelahnya. Karena perang adalah asal mula siklus permasalahan tanpa akhir.


