HomeHiburanFilmKisah Tanah Palestina dalam Film

Kisah Tanah Palestina dalam Film

Published on

Sudah tiga tahun sejak Israel melakukan genosida terhadap Gaza. Setiap harinya Israel juga melakukan berbagai pembatasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Tiga tahun ini juga dunia melihat bagaimana bahayanya menjadi warga Palestina, melalui layar televisi maupun telepon gengam. Namun kekejaman dan brutalnya kondisi di sana terus berlangsung walaupun protes diserukan dari seluruh dunia.

Tentu saja pembantaian ini tidak dimulai tiga tahun lalu tapi jauh sebelumnya. Mulai dari Inggris yang menjajah Palestina dan menjanjikan tanah yang dijajahnya ke pihak lain. Kemudian peristiwa Nakba (1948) yang terjadi 77 tahun lalu menjadi titik balik ketika banyak warga Palestina terusir dari tanah kelahirannya.

Kejadian Tiga tahun lalu juga menjadi titik penting bagi masyarakat Palestina ketika seluruh dunia membuka mata terhadap penjajahan yang terjadi di sana. Setiap hari berita tentang korban juga memenuhi media massa.  Berikut beberapa kisah tentang Palestina yang diangkat ke layar lebar dan menjadi perlawanan melalui sinema.

The Voice of Hind Rajab

Film ini mengangkat cerita dari kisah nyata dari proses evakuasi yang dilakukan Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza dan percakapan mereka dengan Hind Rajab yang berumur 5 tahun. Film ini mendapatkan banyak penghargaan dan perhatian khalayak luas tentang brutalnya tentara IDF. Perjalanan pertolongan yang sebenarnya hanya berjarak 8 menit itu menjadi berjam-jam menegangkan dan nasib korban dan awak ambulance yang akan mengevakusi, nasip mereka baru diketahui setelah Israel menarik tentara mereka 12 hari kemudian dari lokasi.

Omar merupakan relawan baru yang bekerja untuk Bulan Sabit Merah Palestina dan masih menjalani pelatihan untuk menerima panggilan darurat dibantu oleh rekannya yang lebih senior. Pada 29 Januari 2024 mereka menerima telepon bahwa ada anak yang tertembak didekat tempat SPBU Fares di Tel al-Hawa, bagian utara Jalur Gaza. Wilayah ini berada dalam garis penjajahan Israel dan penduduknya banyak yang sudah mengungsi. Panggilan ini berhenti bahkan sebelum anak itu berhasil mengatakan identitasnya. Omar yang baru saja bertugas tentu saja emosi dan terkejut, Ia ingin segera menolong anak tersebut. Rana, rekan kerjanya yang lebih berpengalaman tentu saja menghentikan tindak gegabah itu. Terlebih sudah banyak petugas ambulan Bulan Sabit Merah Palestina kehilangan nyawa mereka saat bertugas.

Setelah melakukan beberapa telepon untuk konfirmasi identitas, mereka mengatahui bahwa panggilan sebelumnya berasal dari Hind Rajab yang saat itu masih hidup dan terjebak dalam mobilnya yang ditembak beruntun. Hind memohon untuk para petugas menyelamatkannya. Ia berhasil menelepon beberapa kali. Omar memaksa Mahdi atasannya untuk segera mengirim bantuan. Jaraknya hanya 8 menit. Mahdi disatu sisi sebagai koordinator harus melakukan banyak telpon keberbagai pihak terkait termasuk Palang Merah Internasional untuk melobi Israel agar mau membuka jalur yang aman untuk proses penyelamatan. Mereka harus mengikuti protokol yang dibuat oleh Israel dan menunggu mereka membuka jalan, jika tidak ingin kehilangan para petugas lapangan kehilangan nyawa mereka lagi. Proses negosiasi ini memakan waktu dan menguras emosi.

Namun menunggu lampu hijau itu memakan waktu yang lama. Bahkan saat izin akhirnya didapat. Mobil ambulan bergerak dan ketika hanya 400-meter lagi mencapai tempat Hind Rajab terperangkap, mobil itu ditembak beruntun. Hind Rajab, keluarga dan petugas ambulan pada akhirnya tewas dan ditemukan 12 hari kemudian dalam kondisi mengenaskan. Mobil keluarga Hamada milik keluarga Hind terdapat 355 bekas tembakan peluru. Suara panggilan yang digunakan oleh film ini adalah rekaman asli dari kejadian. Film ditutup dengan potongan Hind sebelum genosida di Gaza terjadi. Hari-hari bahagianya.

Palestine 36

Film ini membawa penonton ke tahun 1936 – 1939 saat Palestina berada dalam penjajahan Inggris Raya. Drama sejarah ini menceritakan Yusuf yang hidup ditengah perlawanan kemerdekaan pecah diseluruh wilayah Palestina untuk menghentikan pendudukan yang dilakukan Inggis yang telah berlangsung 30 tahun. Ia terbawa oleh hidup antara ketidakjelasan akan masa depan, kampung halaman yang dirindukannya dan keadaan kehidupan tanpa istirahat di Yerusalem.

Berlatarkan di Ramalah, dengan menggunakan nama desa fiktif bernama Basma. Film seakan berbicara dengan warnanya sendiri. Rekaman kelam. kembali kemasa lalu menggabungkan arsip-arsip yang tersimpan, dominasi para pengungsi Yahudi dari Eropa yang datang membangun pemukiman mereka dengan menghancurkan desa-desa Palestina. Gambaran orang-orang Palestina yang terus melawan penjajahan lama dan penjajahan baru dimulai. Ketika Pemerintahan mulai memberlakukan proses pendaftaran aset tanah baru untuk mempermudah pendatang dari Eropa memiliki tanah milik warga Palestina dan bagaimana pendatang ini dengan mudahnya memperdagangkan hak milik orang lokal.

Dari Film ini kita bisa melihat keteguhan hati orang-orang Palestina. Memadukan gambaran masa kini dan memori sejarah masa lampau. Sehingga lebih memahami latar belakang genosida yang paling banyak tampil di media sekarang yang mengetuk hati nurani. Sang sutradara Annemarie Jacir, juga memberi gambaran jelas bagaimana Inggris memperlakukan orang-orang Kristen dan Muslim di Palestina sama jahatnya.

Adegan pembuka film dimulai dengan suara dari radio mandat pertama Inggris di Palestina. Ini dipilih oleh Jaric untuk memperlihatkan kekejaman yang dilakukan oleh Inggis selama penjajahan. Pengigat pada penonton bahwa kekerasan yang diterima oleh warga Palestina sudah dimulai jauh sebelum tanggal 7 Oktober 2023.

Cover American Doctor. dok. IMDB

American Doctor (2026)

Film dokumenter ini mengikuti perjalanan tiga dokter dari Amerika serikat dengan latar belakang yang berbeda berusaha menyelamatkan jiwa pasien-pasien di Gaza, mempertaruhkan segalanya bekerja digarda terdepan dan tanpa mereka sadari terjebak antara tugas mereka yang terikat sumpah sebagai para medis dan politik di negaranya.

Perjalanan 3 dokter menghabiskan hari-hari sepanjang akhir tahun 2024 dan awal tahun 2025 di Rumah sakit Nasser, Khan Younis – Jalur Gaza. Ketiganya berbeda latar belakang, keahlian dan kepribadian, namun menghadapi hal yang sama ditengah ketidakpastian kondisi, bahaya dan pengaruh baik fisik maupun psikologi, juga keistimewaan mereka dapatkan dibandingkan rekan sejawat dari Palestina dalam hal keselamatan.

Ketiga dokter ini, Mark Perlmutter merupakan ahli bedah tulang keturunan Yahudi Amerika, Ferode Sidhwa adalah alhli bedah trauma keturunan Parsi (Zoroaster) dan Dokter gawat darurat keturunan Palestina, Thaer Ahmad sepakat bahwa mereka harus mengungkapkan pengalaman mereka untuk meningkatkan kesadaran atas apa yang terjadi di Gaza. Operasi yang dilakukan tanpa bius, obat-obatan yang terputus, rumah sakit yang dibom dan keselamatan petugas medis disana. Berjuang untuk menepati janji kepada rekan-rekan dan pasien Palestina mereka, untuk melanjutkan perjuangan di tempat yang paling penting di Amerika Serikat. Saat kembali ke Amerika mereka berusaha agar hiruk pikuk dari ruang operasi di Gaza juga didengar oleh para anggota parlemen Amerika yang mendukung penyediaan dana untuk Israel terus melakukan genosida di Palestina. Perjalanan dari ruang operasi, Lorong-lorong rumah sakit yang berdarah-darah keruangan parlemen. Suara mereka menimbulkan ancaman.

Film ini sudah memukul dengan brutal dan mengerikan dari awal dimulai. Dokter Perlmutter meminta agar sutradara Poh Si Teng menunjukkan foto bayi yang tewas dalam serangan rudal tanpa disensor. Karena sensor gambar bisa mengaburkan juga peristiwa yang terjadi. Pengalaman Dokter Ahmad yang kesulitan mendapatkan visa ke Palestina juga gambarkan dalam film. Sebagai Keturunan Palestina, Ia sulit kembali ke kampung halamannya. Sang Sutradara sendiri memilih untuk mundur dari pekerjaannya di ABC news dan menggunakan dana pribadi untuk proses pembuatan film ini. Beruntung saat Ia kembali ke tanah airnya Malaysia, Ia mendapatkan tambahan dana dari sumbangan untuk terus melanjutkan produksi film ini.

All That’s Left of You (2025)

Film drama yang berkisah tentang trauma generasi yang dialami sebuah keluarga yang dimulai ketika Nakba (1948). Masing-masing menyimpan pengalaman pahit kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel yang memisahkan keluarga mereka. berlatar tahun 1948, 1978, 1988, hingga 2022 dalam rentang waktu 75 tahun. Ketika Sharif muda melakukan perlawanan hingga berpisah dengan keluarganya dan ditahan. Pertemuannya dengan sang anak Salim dan dan kemudian cucunya Noor yang meninggal karena telat mendapatkan pertolongan medis. sebab pembatasan perjalanan yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Perjalanan emosional dari film ini sangat terasa dekat dan personal. Pengambilan gambarnya juga membuat penonton merasakan secara langsung kesedihan, kisah cinta, pengorbanan dan perlawanan. Film dibuka dengan gambaran seorang remaja Palestina berhadapan langsung dengan tentara Israel dalam aksi protes di Tepi Barat. Lalu ibunya bercerita luka turun-menurun mereka dimulai dari sang kakek yang terusir dari rumahnya di Jaffa.

Jaffa sendiri sekarang sudah hilang menjelma menjadi bagian dari Tel Aviv. Inggris di dalam film juga memiliki peran besar dalam memicu peristiwa Nakba dan berdirinya Israel. Kala orang-orang Palestina terusir dari rumahnya harus menggungsi tanpa status yang jelas, rumah-rumah mereka diambil paksa oleh tentara Israel dan menjadi tempat tinggal bagi orang-orang Yahudi yang kabur dari Eropa karena Holocaust. Rumah Sharif salah satunya, Ia harus kehilangan rumah dan kebun jeruknya serta harus mengungsikan keluarganya ke Nablus.

Tentu saja film-film tentang Palestina membuat penonton belajar lebih banyak tentang sejarah penjajahan dan kekejaman yang terjadi disana serta menjadi luka kolektif bersama. Kita melihat bersama penderitaan, ketakutan dan kelaparan yang terjadi terhadap rakyat Palestina namun tidak ada yang berubah setelah itu. Seperti kata Omar di Film Hind Rajab “Harus Ada berapa banyak lagi foto anak-anak di Palestina yang meninggal mengenaskan tersebar di media sosial? Nyatanya tidak ada yang bergerak mengakhiri semua ini”. []

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News

Artikel Terbaru

Brigjen Latif Usman Resmi Jadi Wakapolda Aceh, Gantikan Ari Wahyu Widodo

Brigjen Pol. Latif Usman resmi menjabat Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Aceh setelah menggantikan...

Ini 15 Gampong di Aceh yang Terpilih Jadi Percontohan Desa Antikorupsi 2026

Sebanyak 15 gampong/desa dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh terpilih menerima penganugerahan Percontohan...

Bebas Pasung Saja Tidak Cukup, RSJ Aceh dan Pemkab Nagan Raya Siapkan Pendampingan ODGJ

Pembebasan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari pemasungan menjadi langkah awal dalam penanganan kesehatan...

UIA Wisuda 227 Mahasiswa, Ketua Prodi Ekonomi Syariah Raih Hadiah Umrah

Universitas Islam Aceh (UIA) mewisuda 227 mahasiswa dari program pascasarjana dan sarjana dalam Sidang...

Wagub Aceh Minta Pembangunan Huntap Korban Bencana Tuntas 2027

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, atau akrab disapa Dek Fadh meminta pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan...

More like this

Brigjen Latif Usman Resmi Jadi Wakapolda Aceh, Gantikan Ari Wahyu Widodo

Brigjen Pol. Latif Usman resmi menjabat Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Aceh setelah menggantikan...

Ini 15 Gampong di Aceh yang Terpilih Jadi Percontohan Desa Antikorupsi 2026

Sebanyak 15 gampong/desa dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh terpilih menerima penganugerahan Percontohan...

Bebas Pasung Saja Tidak Cukup, RSJ Aceh dan Pemkab Nagan Raya Siapkan Pendampingan ODGJ

Pembebasan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari pemasungan menjadi langkah awal dalam penanganan kesehatan...