Perang yang dimulai oleh Israel dengan bantuan Amerika Serikat ke Iran yang menjadi pemberitaan panas dan membuat banyak narasi yang beredar. Perang ini seketika merubah arahan geopolitik di Asia Barat. Memaksa negara-negara yang bahkan tidak terlibat langsung merasakan akibatnya.
Amerika bahkan menyerang Iran ketika masih berada di meja perundingan yang difasilitasi oleh Oman. Sampai Ini Amerika masih terus membom Iran. Ini merupakan serangkaian serangan dalam dua tahun ini setelah tahun lalu juga terjadi perang selama 12 hari. Apa yang menjadi awal mula kedua negara ini bergelut?
Bermula dari tahun awal tahun 1900 ketika raja dinasti Qajar (Berkuasa 1796-1925) membutuhkan banyak uang untuk memperpanjang kemakmuran hidup dan kekuasaan, Ia memberikan hak mengolah minyak secara eklusif untuk mengelola dan mengekstraksi kepada Inggris dengan syarat sangat berat sebelah. Untuk mendapatkan hak tersebut sejumlah pejabat Iran disuap untuk memenangkan negosiasi itu. William Knox D’Arcy berhasil mendapatkan kontrak selama 60 tahun.
Kesepakatan konsesi membuat D’Arcy memiliki hak penuh atas minyak yang ditemukannya dan Iran hanya mendapatkan jatah 16% dari keuntungan. Pemerintah Iran tidak diizinkan memeriksa pembukuan jumlah minyak yang ditemukan. Pada 1908 akhirnya D’Arcy menemukan ladang minyak di Masjed Soleiman yang menjadi salah satu tempat dengan cadangan minyak terbanyak di dunia. Setahun setelahnya sindikat investor Inggris membentuk Anglo-Persian Oil Company (APOC) untuk mengambil apa saja yang ada sesuai dengan konsesi D’Arcy.
Hal ini menjadikan APOC pemilik Tunggal cadangan minyak besar di hampir seluruh wilayah Iran. Kesepakatan yang ditanda-tangani pada tahun 1901 ini tidak mengizinkan siapa pun melakuan pengeboran, pemurnian dan menjual minyak Iran kecuali kepada APOC.
Ketika Angkatan laut Kerajaan Inggris menganti kapal berbahan batu bara menjadi tenaga minyak pada 1914, Inggris menyadari penuh ladang minyak di Iran dan sangat penting untuk menguasainya secara penuh. Menjelang perang dunia pertama akhirnya pemerintah Inggris membeli 51% saham APOC atas saran Winston Churchill dan menjadikannya di bawah kendali negara. Karena ini Inggris mengambil alih dan mengali ladang minyak yang lebih banyak. Minyak murah Iran menjadi tulang punggung pengerakan ekonomi Inggris tahun 1920-1930 dan kekuatan militer mereka.
Walaupun Inggris merasakan manfaat dan meningkatkan status ekonomi tapi Iran nyaris tidak mendapatkan manfaat apapun. Penerimaan pendapat dari APOC sangat rendah, apalagi Iran tidak bisa memeriksa pembukuan dan hanya percaya pada data yang diserahkan oleh Inggris. Inggris berhasil memanipulasi nilai keuangan tanpa adanya audit.
Pada dekade itu, Dinasti Qajar digantikan oleh pemimpin baru setelah kudeta yang dilakukan pada tahun 1921. Dinasti Pahlavi yang didirikan oleh Reza Shah naik dan memerintah Iran dengan tangan otoriter. Mengorganisir banyak tentara, anti komunis, secular dan memberlakukan sensor ketat. Hal ini membuat tentara dan polisi punya kekuatan absolut meskipun Iran menjadi lebih terbuka akan masuknnya budaya baru.
Namun perjanjian dengan Inggris tetap berlaku, ditandatangani pada tahun 1933 dan selama 60 tahun kedepan  menetapkan pembayaran tetap kepada Iran hanya sebesar empat pound Inggris untuk setiap ton minyak mentah yang diekspor. Hal ini membuat Inggris semakin kaya dan kehidupan Masyarakat Iran semakin miskin. Iran mengerakan revolusi industri di Inggris dan tetap miskin di dalam negerinya.
Setelah perang dunia kedua, Reza Shah digantikan oleh anak bungsunya Mohammad Reza Pahlevi sebagai Shah yang baru. Setelah Inggris dan Amerika sebagai sekutu menjamin Iran tetap menjadi negara netral, pemilihan umum dilakukan. Mohammad Mosaddeq terpilih sebagai Perdana Menteri dan rakyat Iran menuntut agar segera menasionalisasi industry perminyakan. Pada tahun 1951, Pemerintah Perdana Menteri Mohammad Mosaddeq membentuk Perusahaan Minyak Nasional Iran (NIOC). Inggris tidak setuju dan melakukan embargo ekonomi namun proses nasionalisasi tetap dilakukan. Hingga Raja memecat Mosaddeq setahun kemudian.
Gejolak terjadi, rakyat Iran mendukung perdana Menteri mereka dan memaksa raja mengasingkan diri dan mengangkat kembali Mosaddeq sebagai Perdana Menteri. Namun Kudeta tahun 1953 yang dipimpin oleh badan intelijen Inggris (M16) dan Amerika Serikat (CIA) dibantu oleh mantan jenderal angkatan darat menggulingkan pemerintahan Mosaddeq dan membuka jalan bagi perjanjian minyak baru. Kudeta tersebut memaksa Mosaddegh untuk mundur dari jabatannya, ditangkap dan diadili atas tuduhan pengkhianatan.
Iran kembali diperintah sebagai otokrasi di bawah Dinasti Shah, dengan dukungan kuat dari Amerika dan sekutu. Perjanjian minyak barupun diberlakukan. Setahun kemudian perundingan baru dijalankan dengan pembagian merata antara Perusahaan minyak Iran dan konsorsium multinasional yang dibentuk Inggis bernama The British Petroleum Company. Namun 20 tahun berjalan hasil yang diharapkan tidak memihak Iran, mereka tetap menerima hasil sedikit.
Pada tahun 1973, setelah Shah mengancam bahwa perjanjian tersebut tidak akan diperpanjang kecuali konsorsium tersebut menggandakan produksi minyak atau menyerahkan produksi minyak sepenuhnya kepada Iran. Hal ini disebabkan oleh Perang Arab-Israel tanggal 6-25 Oktober 1973 kebutuhan minyak meningkat dan melihat posisi Iran waktu itu sebagai pengekspor minyak terbesar kedua di dunia, Shah ingin menetapkan kenaikan harga penjualan minyak. Namun Rakyat Iran terlanjur tidak percaya pada pemerintah.
Shah juga menciptakan banyak peraturan baru yang melahirkan kontroversi, terutama bidang ekonomi, kewenangan militer dan agraria. Ini banyak dikritik oleh tokoh-tokoh Islam disana. Hingga. pada tahun 1978, Shah menjadi sangat tidak populer di kalangan rakyat Iran.
Demonstrasi harian mengacaukan kawasan tersebut, dan Shah memberlakukan darurat militer untuk menekan oposisi. Kemarahan terhadap Dinasti sangat besar bahkan berbagai kelompok baik sekuler dan sayap kiri memberi dukungan mereka kepada Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin revolusi, meskipun tidak sependapat dengan arah politiknya. Karena tekanan yang terus meningkat, akhirnya Shah dan keluarganya melarikan diri keluar negeri.
Revolusi terjadi. Pada tanggal 31 Maret 1979, referendum diadakan untuk menyepakati apakan dasar pemerintahan akan dialihakan dari Monarki menjadi Republik Islam. Hasilnya 99,31% rakyat setuju. Konsitusi barupun dibentuk dan menjadikan Khomeini sebagai pemimpin tertinggi pada Desember 1979. Ekonomi kapitalis Iran yang modern digantikan oleh kebijakan ekonomi dan budaya Islam lebih populis.
Pengaruh barat berakhir di Iran. Iran kemudian diembargo besar-besaran secara ekonomi. Namun Setelah Revolusi 1979, Perusaan minyak nasional mengambil alih industri perminyakan Iran dan membatalkan perjanjian minyak internasional Iran. Awalnya kebijakan ini dilakukan untuk memulihkan ekonomi dan pelestrarian sumberdaya jangka panjang. Setelah Perang Iran-Irak, kebijakan ini digantikan oleh pendekatan yang lebih agresif: memaksimalkan ekspor dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dari tahun 1979 hingga 1998, Iran tidak menandatangani perjanjian minyak apa pun dengan perusahaan minyak asing. Berfokus pada Pembangunan dalam negeri walaupun dirundung sanksi ekonomi. []


