BerandaHiburanMusikSukee 300, Lagu Rafly hingga Kisah Bangsa Asing di Tanah Aceh

Sukee 300, Lagu Rafly hingga Kisah Bangsa Asing di Tanah Aceh

Published on

Sukee 300 (lhee reutoh) ban aneuk drang. Sukee Ja Sandang jeura haleuba. Sukee Tok Batee na bacut-bacut. Sukee Imum Peut, Imum Peut, nyang gok-gok donya.

Ini penggalan lirik lagu berjudul Sukee 300 yang dinyanyikan Rafly Kande. Dirilis dalam album Syurga Firdaus pada 2006 oleh Kasga Record, Sukee 300 naik daun kembali pada tahun ini di media sosial TikTok.

TikTok menyematkan kata ‘populer’ saat pengguna mencari Sukee 300 di kategori suara. Lagu ini setidaknya sudah dipakai sebagai musik latar untuk lebih dari 12 ribu video. Jenis videonya pun beragam dari pengungsi Rohingya di Aceh hingga sepak bola antarkampung.

Kian populer, Sukee 300 dinyanyi ulang oleh selebritas TikTok yang kontennya tentang musik: Ayu Amanda. Videonya yang membawakan Sukee 300 disaksikan lebih dari 1,5 juta pengguna dan disukai lebih dari 72 ribu akun.

Tak jarang, pengguna media sosial bertanya-tanya apa sebenarnya makna dari Sukee 300 tersebut?

Toleransi umat beragama di Aceh
Toleransi umat beragama saat Ramadan di Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh (1991) menjelaskan bahwa menurut cerita-cerita lama di Aceh, salah satu peninggalan zaman Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar adalah penggolongan rakyat Aceh dalam sukee-sukee (suku-suku) atau disebut pula dengan nama kawom.

“Pembagian ini didasarkan atas keturunan dari nenek moyang pihak laki-laki dan adat-istiadat yang bersamaan dari suku-suku yang tinggal di Aceh,” tulis buku itu.

Empat suku tersebut adalah Sukee 300, Imum Peut, Tok Batee, dan Ja Sandang.

Sukee 300 disebut berasal dari orang-orang Mantir (di beberapa buku ditulis Mante) dan orang-orang Batak. Imum Peut ditulis sebagai orang-orang Hindu yang telah memeluk agama Islam. Adapun Tok Batee mereka orang-orang asing yang tinggal di Aceh seperti Arab, Parsi, dan Turki. Sementara itu, Ja Sandang adalah orang-orang Hindu yang mengabdi ke majikan mereka termasuk Sultan Aceh.

“Keempat kawom mempunyai pemimpin masing-masing yang disebut panglima kawom yang dipilih oleh kawom-nya sendiri,” demikian penjelasan buku itu.

Salah seorang turis berjalan melewati kebun kelapa menuju ke Pantai Matanurung. Foto: Ahmad Ariska/acehkini
Salah seorang turis berjalan melewati kebun kelapa menuju ke Pantai Matanurung, Simeulue. Foto: Ahmad Ariska/acehkini

Sementara, penjelasan berbeda ditulis Snouck Hurgronje dalam terjemahan bukunya Aceh di Mata Kolonialis (1985). Menurutnya, banyak sekali terdapat bantahan terhadap teori tentang asal-usul orang Aceh dari empat sukee, terlepas dari masalah bagaimana asal mula suku-suku itu.

Misalnya, banyak penduduk dataran rendah sesungguhnya sama sekali tidak tahu dari suku mana mereka berasal.

“Kembali kita harus memahami bahwa sejak dahulu kala telah terdapat pembauran keturunan dengan unsur-unsur asing, walau tetap dirasakan ada suatu kebanggaan kesukuan,” tulis Snouck.

Snouck berpandangan Sukee 300 suatu nama agak aneh untuk suatu unit genealogis. Mungkin boleh diartikan sebagai 300 keluarga atau 300 pria pejuang. “Namun siapakah yang dapat menjamin kebenaran dari pada asumsi ini?” tulisnya.

Sementara Ja atau To’ Sandang berarti nenek moyang. Kedua sebutan ini, seperti eumpee yang dilekatkan pada barang yang dilambangkan sebagai orang, misalnya pohon-pohon yang keramat, sumur, batu karang atau jurang.

Adapun Ja atau Tok Batee, yakni nenek moyang. Mungkin telah dapat diduga bahwa kelompok sub suku ini menganggap individualitas mereka terwujud dalam pemujaan mereka terhadap batu-batu keramat.

Sukee Imum Peut, menurut Snouck, muncul atau dibentuk di bawah kepemimpinan empat kepala yang disebut imum. Imum (imam) dalam masyarakat Aceh bermakna sebagai pemimpin bidang agama hingga pemerintah seperti Imum Mukim.

Bagi Snouck, bukan tidak mungkin bahwa sejumlah kawom kecil-kecil yang masing-masing tentu memiliki nama namun tak membentuk nama secara kolektif, lalu menggabungkan diri menjadi satu—terutama dalam menghadapi suatu keadaan berbahaya.

Ketika upaya-upaya besar ke arah sentralisasi pengawasan diadakan di Aceh, maka persatuan ini memperoleh bantuan empat imam untuk mengurusi masjid-masjid mereka serta memelihara hubungan dengan para penguasa teritorial.

“Namun demikian banyak juga orang yang mempunyai pandangan lain, bahwa nama ini menunjuk pada adanya empat kelompok asli, bergabung satu sama lain,” tulis Snouck.

Pameran naskah kuno di Museum Aceh
Pameran naskah kuno di Museum Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Soal syair empat sukee itu—yang kemudian dinyanyikan Rafly—Snouck menyebut bahwa sangat berat sebelah dan diperkirakan diciptakan oleh Imum Peut.

Ini terlihat dari makna syair itu: Suku 300 tak berarti apa-apa seperti bibit drang (sejenis tanaman semak yang tumbuh seperti rumput liar di sepanjang pagar), orang-orang Ja Sandang seperti adas (jadi sedikit lebih berguna), Tok Batee boleh jugalah, tapi Imum Peuet, inilah yang menggetarkan dunia.

Snouck menyebut ada syair lain yang justru tiga sukee lain mengucilkan Imum Peut, yaitu “Sukee Lhee Reutoih Uleebalang, Sukeé Ja Sandang jeut keu raja” yang bermakna Suku 300 para Uleebalang dan Suku Ja Sandang dapat menjadi raja.

“Bagaimanapun, tentang pembagian penduduk menjadi empat bagian ini, sepanjang ingatan manusia, tak dapat ditemukan lagi dan seandainya dulu-dulunya memang benar-benar ada, maka pembauran antara mereka telah berlangsung betul-betul sempurna,” tulis Snouck.[]

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News



Artikel Terbaru

Pj Sekda Azwardi Serahkan Piala Juara Umum POPDA XVII untuk Kota Banda Aceh

Kontingen Kota Banda Aceh keluar sebagai juara umum Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Aceh...

Kakanwil Kemenag Aceh: Asuransi Jiwa Ditransfer Langsung ke Rekening Jemaah Haji

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Azhari, mengatakan bahwa klaim asuransi jiwa...

Jemaah Haji Asal Aceh Meninggal di Tanah Suci Bertambah Lagi Jadi 13 Orang

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Seorang jemaah haji asal Aceh kembali dilaporkan meninggal dunia...

Pengemis di Aceh Curi Tas Berisi Rp16,9 Juta, Uang Dipakai untuk Bayar Utang

Pengemis di Aceh berinisial EL (43 tahun) diduga mencuri tas berisi Rp16,9 juta. Uang...

Ratusan Jemaah Haji Kloter Dua Aceh Tiba di Tanah Air

Sebanyak 388 jemaah haji Aceh yang tergabung kelompok terbang (kloter) kedua tiba dengan selamat...

More like this

Pj Sekda Azwardi Serahkan Piala Juara Umum POPDA XVII untuk Kota Banda Aceh

Kontingen Kota Banda Aceh keluar sebagai juara umum Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Aceh...

Kakanwil Kemenag Aceh: Asuransi Jiwa Ditransfer Langsung ke Rekening Jemaah Haji

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Azhari, mengatakan bahwa klaim asuransi jiwa...

Jemaah Haji Asal Aceh Meninggal di Tanah Suci Bertambah Lagi Jadi 13 Orang

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Seorang jemaah haji asal Aceh kembali dilaporkan meninggal dunia...