HomeGaya HidupIbnu Batutah, Muslim Traveler Masyhur Asal Magrib

Ibnu Batutah, Muslim Traveler Masyhur Asal Magrib

Published on

Suka jalan-jalan? Menjelajahi tempat-tempat indah dan bertemu orang-orang baru? Atau mencoba makanan dengan beragam cita rasa? Mungkin kita punya hobi yang sama dengan penjelajah muslim yang sudah memulainya lebih dari 700 tahun lalu, rasa penasaran yang mendalam mumbuatnya berpetualang lebih dari seperempat abad lamanya.

Pada abad ke 14, ada seorang traveler muslim asal Moroko yang menghabiskan hampir 30 tahun lebih berkelana melintasi Afrika, Asia Barat, India, Asia Tenggara, China hingga ke Andalusia. Berlindung dibawah kepemimpinan sultan-sultan Islam. Ia melintasi 44 negara modern yang kita kenal sekarang. Menantang dirinya sendiri demi rasa ingin tahu yang tinggi. Berjalan kaki, menyeberangi lautan, menumpang kafilah unta dan kadang kala membahayakan dirinya sendiri. Catatan perjananannya yang panjang sekarang dikenal dengan nama Al-Rihla.

Salah satu buku tentang perjalanan yang sangat terkenal. Ia menghabiskan lebih dari separuh hidupnya berkelana. Ia menjelajah sekitar 117,000 km lebih jauh dari Marco Polo (24,000 km).

Abu Abdullah Muhammad Ibn Batutah (Ibnu Batutah) lahir dalam lingkungan keluarga hakim (qadis) di Tangier pada 24 Februari 1304. Pada masa Dinasti Marinid. Ia belajar di Sekolah Maliki Sunni yang mendominasi pendidikan di Afrika Utara pada saat itu. Pada umur 21, Ia memulai perjalanan pertamanya ke Mekah untuk melaksanakan Haji.

Awalnya ia berjalanan sendirian dengan keledainya namun kemudian segera bertemu dengan kafilah lain diperjalanan. Mulai saat itu hingga 24 tahun kemudian ia tidak pernah kembali ke Moroko.

Ibnu Batutah menuju Mekkah dan Madinah dengan menyelusuri Afrika Utara. Ia tiba di Alexandria pada awal musim semi-1326. Kala itu Mesir berada dibawah Dinasti Mamluk. Tempat inilah yang kemudian memantapkan keyakinananya untuk menjelajahi dunia. Ia melanjutkan perjalanannya ke Damaskus, Palestina ke Madinah. Ini adalah jalur yang disiapkan oleh otoritas Mamluk untuk menjamin keamanan para jamaah haji dari perampokan, ancaman dan masalah diperjalanan.

Setelah selesai ibadah haji, Ia mengikuti rombongan asal Iraq yang kembali ketanah air mereka. Namun alih-alih berhenti di Bagdad bersama rombong. Ia memisahkan diri menuju Persia. menelusuri selatan sungai Tigris menuju Basrah sampai Isfahan. Kemudian menyebrang gunung menuju Bagdad. Setelah tinggal beberapa saat Ia kembali menelusuri utara Sungai Tigris ke Mosul dan Mardin (Sekarang Kawasan Turkiye) kembali ikut rombongan menuju Mekah untuk melaksanakan haji kedua.

Kali ini Ia memutuskan melanjutkan perjalannya menggunakan jalur laut. Setelah melaksanakan ibadah haji. Ibnu Batutah berjalan menuju Pelabuhan Jeddah di garis pantai laut merah. Menumpang perahu yang bergerak melawan arah mata angin yang bertiup kencang dan sampailah ke Yaman.

Menemui raja dinasti Rasulid di daratan tinggi Taízz dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan perdagangan penting, Aden pada 1329 M. menumpang kapan menuju Somalia dan Mogadishu. Jalur perjalanan kemudian berpindah ke pesisir pantai Swahili, Kilwah (Tanzania) dan dengan berubahnya angin musim penghujan Ia kembali berlayar ke Arabia sampai ke Oman dan Selat Hormuz untuk melaksanakan haji ketiganya.

Kali ini Ibnu Batutah ingin berkelana lebih jauh. Ia memutuskan untuk mencari lowongan untuk bekerja di kesultanan Delhi, yang kala itu dipimpin oleh Muhammad bin Tughluq. Ia dikenal sebagai raja yang kaya raya.

Rute perjalanan selanjutnya yang dipilih adalah menuju Anatolia menyebrangi laut merah ke kairo, Semenanjung Sinai ke Palestina, Suriah ke Alanya (Turki), Bursa ke Kaspia, Bukhara, Samarkand ke Afgatistan. Sampai ke Sungai Indus pada September 1333 M.

Sultan Delhi saat itu mengangkat Ibnu Batutah menjadi hakim kerajaan karena pendidikan yang cukup lama yang ia dapat di Mekah. Namun setelah bekerja agak, Ia merasa tidak cocok dan mencoba untuk mencari cara untuk segera meninggalkan Delhi saat rombongan haji selanjutnya dibentuk oleh sultan. Namun selalu gagal.  Setelah enam tahun kehidupannya pasang surut. kesempatan untuk kabur datang dari utusan Dinasti Yuan tiba di Delhi.

Mereka meminta izin untuk membangun kembali sebuah tempat ziarah bagi pengikut Budha dari Tiongkok di Himalaya dan Ibn Batutah kemudian dikirim untuk mendampingi rombangan ini.

Naasnya ditengah jalan iring-iringan ini dirampok sekelompok bandit. Ia terpisah, diculik dan nyaris terbunuh sebelum kemudian berhasil kabur. Berhasil mengejar rombongannya dalam perjalanan ke Khambhat (Cambay- Gujarat) dan dari sana mereka berlayar ke Calicut (Pantai Malabar, Kerala – India Selatan). Namun malangnya kapal mereka dihantam badai dan salah satunya tenggelam. Ia memilih tinggal namun tidak kembali ke Delhi karena takut dianggap gagal.

Tekatnya berlayar hingga ke Tiongkok belum pupus dan Ibnu Batutah memutuskan berlayar memutar dan mengunjungi Maladewa terlebih dahulul. Disini ia sempat kembali bekerja sabagai hakim. Dari sini Ia ke Sri Lanka, kembali bekerja sebentar di Kerajaan Madurai (India) lalu kembalii ke Maladewa untuk berlayar, Sampai Bangladesh – Assam dan berlayar memutar menuju Asia Tenggara.

Dari sini Ibnu Batutah sempat singah di Samudera Pasai pada tahun 1345. Ia mencatat bahwa kala itu Pasai dipimpin Sultan Malik Al-Zahir Jamal Ad-Din yang saleh dan menjalankan tugas-tugas keagamaan dengan semangat. Tempat itu kaya akan kamper, pinang, cengkeh dan timah. Kotanya bertembok kayu. Pasai menganut mazhab imam Shafií. Adat istiadatnya mirip dengan yang pernah ia lihat kala singgah di pesisir india, terutama di kalangan muslim Mappila (Malabar Muslim yang sekarang ada di Utara Kerala) yang juga bermazhab Shafi’í.

Ia juga mencatat bahwa Pasai juga menandai berakhirnya Dar al-Islam, karena tidak ada lagi wilayah sebelah timurnya yang diperintah oleh seorang muslim. Ibnu Batutah berada selama dua minggu di Samudra Pasai sebagai tamu Kerajaan. Sultan kemudian memberikannya perbekalan dan mengirimnya pergi dengan salah satu kapalnya menuju Tiongkok.

Perjalanan berlajut ke Champa dan dari sini Ia akhirnya mencapai Quanzhou, Fujian di Tiongkok pada tahun 1345. Daerah ini berada dalam kekuasaan Dinasti Yuan. Kota ini oleh orang-orang Muslim menyebutnya Zaitun, walaupun Ia tidak menemukan pohon di sana. Para seniman lokal disana pandai membuat lukisan potret. Orang asing yang baru datang digambar untuk tujuan keamanan.

Ia disambut oleh kepala dagang muslim setempat dan dipersilahkan tinggal dilingkungan komunitas muslim disana. Kawasan ini memiliki masjid, rumah sakit dan pasar tersendiri. Setelah dua minggu perjalanan dilanjutkan ke kota lain. Kali ini ia ditemani oleh rekan senegaranya yang telah menjadi pedagang kaya di Tiongkok. Tujuan mereka menuju Hangzhou untuk mengantarkan hadiah Kepada kaisar Huizong dari Yuan. Hangzhaou digambarkannya sebagai kota terbesar yang pernah dilihanya dengan pemandangan yang mempesona karena danau dan dikelilingi pengunungan.

Perjalanan berakhir di Beijing. Sebelum ia kembali menyelusuri rute yang sama dan naik kapal dari Sultan Pasai yang berada di Quangzhou dan kembali ke Moroko. Awalnya Ibnu Batutah sampai ingin kembali singgah di Delhi namun dibatalkan. Karena rute lebih baik jika ingin ke tanah suci adalah kembali ke Damaskus. Rute yang pernah ia lewati sebelumnya. Ia memilih rute Basrah dan sepanjang selat Hormuz. Disana ia mendapat kabar bahwa dinasti Ilkhanat sudah runtuh akibat perang saudara berkepanjangan.

Pada tahun 1348 ia sampai ke Damaskus (Suriah), di sana kabar tentang kematian wabah hitam menjadi berita sehari-hari. Wabah ini telah menyebar dari Mesir ke Suriah, Palestina dan Jazirah Arab dengan kematian yang terus meningkat. Setelah melaksanakan haji ia kemudian kembali ke tanah kelahirannya setelah seperempat abad kemudian.

Tidak berlama-lama di kampungnya. Ibnu Batutah merencanakan perjalanan ke Andalusia. Jadi pada tahun 1350 ia mengikuti rombongan menuju Granada. Namun disana juga wabah hitam sudah menyebabkan banyak kekacauan. Meninggalkan Granada ia kembali Fez dan melihat kota ini seperti kota mati. Setelah keadaan membaik Ibn Batutah menuju Gurun Sahara menuju Taghaza, Mali dan Timbuktu.

Dalam perjalanannya melintasi gurun, Ia menerima surat dari Sultan Moroko yang memintanya pulang. Ia sampai kembali pada tahun 1354. Sultan Moroko memintanya untuk menulis tentang penjelajahan yang sudah dilakukan selama ini. Ia kemudian mulai menulis dengan bantuan Ibn Juzayy. Awalnya buku ini diberi judul Tuhfat al-anzar fi gharaaib al-amsar wa ajaaib al asfar (A girf to those who contemplate the Wonders of Cities and the Marvels of Traveling – Sebuah hadiah untuk mereka yang merenungkan keindahan kota dan keajaiban perjalanan) yang kemudian dikenal dengan nama Al- Rihla (Perjalanan). Inilah kemudian yang menjadi bacaan petualangan menakjubkan seorang Muslim Traveler dari Negeri Magrib. []

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

The Aceh Institute: Semen Langka, Negara Belum Mampu Memenuhi Hak Korban Banjir

Delapan bulan pasca banjir besar November 2025, hak dasar korban banjir di Aceh belum...

Hutan Adat Kampong Singgersing Subulussalam Menuju Pengakuan Negara

Hutan Adat Kampong Singgersing di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, selangkah lagi menuju...

Pengelolaan Sumur Minyak Masyarakat Aceh Utara Akan Diatur lewat Qanun

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menerima kunjungan Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (Banleg...

Pemerintah Aceh Raih Penghargaan atas Peningkatan Akses Pendidikan

Pemerintah Aceh meraih Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Sumatera pada kategori...

Faisal Ilyas Jadi Dirut Baru PEMA

PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PEMA memasuki babak baru setelah Faisal Ilyas mendapat amanah...

More like this

The Aceh Institute: Semen Langka, Negara Belum Mampu Memenuhi Hak Korban Banjir

Delapan bulan pasca banjir besar November 2025, hak dasar korban banjir di Aceh belum...

Hutan Adat Kampong Singgersing Subulussalam Menuju Pengakuan Negara

Hutan Adat Kampong Singgersing di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, selangkah lagi menuju...

Pengelolaan Sumur Minyak Masyarakat Aceh Utara Akan Diatur lewat Qanun

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menerima kunjungan Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (Banleg...