BerandaNewsKhasHasan Tiro setelah 14 Tahun Kepergian

Hasan Tiro setelah 14 Tahun Kepergian

Published on

Di kompleks makam yang hening, dekat persawahan yang luas dan Krueng Aceh yang meliuk-liuk, Teungku Hasan Tiro istirahat untuk selama-lamanya. Setelah 14 tahun kepergian, di antara terang cahaya dan gelap bayang-bayang, sosoknya masih ‘bergulat’ di ruang—waktu hidup rakyat Aceh.

Kapal berpenumpang 28 orang itu memasuki perairan Gampong Pasi Lhok, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, tepat pukul 08.30. Kedatangan ini meleset jauh dari rencana semula.

“Rencana tiba malam, tapi jadi siang,” tulis seorang penumpang kapal itu dalam diari berjudul Jum Meurdehka: Seunurat njang Gohlom Lheueh Nibak Teungku Hasan di Tiro (1985).

Hasan Muhammad di Tiro mencatat momen kepulangannya itu pada Sabtu, 30 Oktober 1976. Ia balik ke tanah lahir usai menetap 25 tahun di Amerika Serikat.

Dua hari sebelumnya, Tiro bersama 15 pengawal dan 12 anak buah kapal berlayar dari suatu tempat yang disebut pelabuhan di Asia. Tanpa detail nama. Tapi ia mendeskripsikan angin kencang di laut Andaman dan mengarungi ke arah selatan Selat Malaka.

Ia mengenang pelayaran itu laksana Julius Caesar menyeberangi Rubicon sehingga meletus perang saudara Romawi. Menurut Hasan Tiro, Rubicon yang ia lalui lebih luas dan maksudnya bukan untuk perang saudara, tapi menyatukan kembali bangsa Aceh.

“Kita mendirikan kembali Neugara Islam Atjeh Meurdehka,” tulis Tiro.

Tgk Hasan Tiro saat tiba di Aceh
Tgk Hasan Tiro saat pulang ke Aceh usai konflik, 11 Oktober 2008. Foto: Suparta

Sepucuk senjata pun tidak ia bawa pulang. Yang ada hanya amanat: wajib selamatkan Aceh sebagai bangsa. Modalnya hanya satu: nama Tiro.

Hasan Tiro membandingkannya dengan cerita Napoleon Bonaparte mendarat di Perancis sekembali dari Mesir dan Fidel Castro mendarat di Kuba dengan 200 orang pasukan.

Bedanya, Hasan Tiro hanya seorang diri. Tanpa pasukan. “Tanpa rekan, tanpa senjata, pengawal-pengawal saya larang mendarat bersama saya, dan tanpa bantuan luar negeri,” tulisnya.

Merdeka di Tjokkan

Kapal masih terombang-ambing di laut Pasi Lhok. Tiro menyuruh seorang di kapal turun ke darat untuk menemui Muhammad Daud Husen. Ia sedang tak di rumah karena pergi ke Kota Sigli. Seseorang diperintah mencari.

Sembari menanti, Tiro meminta kapten memindahkan kapal ke tengah laut. Detail lokasi diberikan ke seseorang di darat agar Daud Husen bisa ke sana.

Dalam sebuah upacara Milad GAM. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Dalam sebuah upacara Milad GAM. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi

Pukul 5 sore, satu perahu kecil merapat ke kapal Tiro. Bukan Daud Husen yang muncul, tapi wakilnya. Tiro beralih ke perahu itu dan berpisah dengan pengawal dan anak buah kapal.

Sekitar pukul 6 sore, perahu kecil itu berlabuh di Kuala Tari, sebelah timur Pasi Lhok. “Di sana, 12 anak muda dan M Daud Husen telah menanti saya,” sebut Hasan Tiro.

Sekeliling Kuala Tari dipenuhi hutan dan tambak. Tiro dan belasan orang itu berhenti di gubuk di pinggir tambak. Larut malam, mereka jalan kaki 6 jam menuju gunung Panton Weng.

Kelak, sekitar sebulan Tiro berdiam di markas Panton Weng. “Tidak susah menyesuaikan diri hidup dalam rimba, meskipun saya datang dari New York.”

Akhir November 1976, Hasan Tiro dan pasukannya bergeser ke hutan Tiro. Usai naik-turun gunung, mereka tiba di Tiro pada 3 Desember 1976.

“Nama tempat ini adalah Tjokkan. Ini tempat gerilya paling bersejarah,” tulis Hasan Tiro. Gunung ini jadi markas para pejuang Aceh melawan Belanda hingga pemberontakan Darul Islam pimpinan Daud Beureu-eh.

Di puncak gunung Tjokkan, Hasan Tiro mendeklarasikan Atjeh Sumatra Meurdehka pada 4 Desember 1976. Kelak nama ini dikenal Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hari-hari setelahnya, Hasan Tiro berpindah-pindah markas.

Tgk Hasan Tiro di Swedia
Tgk Hasan Tiro bersama sejumlah petinggi GAM di Swedia. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi

Almanak 4 Desember bagi Hasan Tiro momen penting dalam sejarah Aceh. Sebab, 3 Desember 1911, Wali Neugara Atjeh Sumatra terakhir Teungku Chik Maat di Tiro syahid dalam perang melawan Belanda di Alue Bhot, Tangse.

“Belanda menganggap 4 Desember sebagai hari pertama berakhirnya Neugara Atjeh Meurdehka yang berdaulat dan hari kemenangan Belanda atas Neugara Kerajaan Atjeh,” tulis Hasan Tiro.

Tikungan Sang Republikan

Hasan Tiro lahir di Tiro, Pidie, 25 September 1925. Berasal dari keluarga ulama, ia ikut dalam perang melawan Belanda, saat Indonesia baru merdeka. Hasan Tiro sempat kuliah di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Pada awal 1948, menjadi anggota staf Wakil Perdana Menteri II Syafruddin Prawiranegara.

Melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat, Hasan Tiro sempat bekerja paruh waktu di Perwakilan Indonesia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Selanjutnya konflik terjadi di Aceh, Hasan Tiro bergabung dalam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh, di bawah pimpinan Teungku Daud Beureueh. Beliau menjadi Duta Besar Aceh untuk perjuangan di PBB, tahun 1953. Pemerintah Indonesia mencabut kewarganegaraannya.

Perjuangan DI/TII Aceh padam lewat perjanjian perdamaian pada 9 Mei 1962, Aceh mendapat otonomi khusus. Hasan memilih tetap tinggal di Amerika Serikat menjadi pengusaha di bidang minyak, emas, timah, dan permukiman.

Tgk Hasan Tiro (tengah)
Tgk Hasan Tiro (tengah) di Malaysia saat gendak kembali ke Aceh, Oktober 2008. Foto: Suparta

Usai konflik DI/TII, ia kerap bertemu sejumlah tokoh Aceh di luar negeri, membahas politik dan nasib Aceh. Sampai kemudian sebuah kesimpulan diambil, bahwa gerakan kemerdekaan harus dideklarasikan. Persoalan ketidakadilan dan kesejahteraan yang belum didapat warga Aceh menjadi dasar utama, berbanding terbalik dengan kekayaan alam.

Setelah mendeklarasikan GAM, ia menjadi buruan kelas wahid aparat keamanan, dicap pemberontak yang merongrong stabilitas keamanan Indonesia. Tiga tahun lamanya, Hasan Tiro bergerilya, memimpin pasukannya di belantara Aceh.

Pada 28 Maret 1979, ia meninggalkan Aceh melalui sebuah pelabuhan kecil di pesisir Jeunieb, Bireuen. Ia kembali ke Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Alby, Norsborg, Swedia. Memimpin perjuangan hampir tiga dekade di sana.

Damai di Helsinki, Hasan Tiro Pergi

Nyaris tiga dekade setelah deklarasi di hutan Tiro, perjuangan kemerdekaan Aceh berakhir di meja perundingan. GAM berdamai dengan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Butir perjanjian ini dikenal dengan MoU Helsinki.

Aceh tetap bagian dari Indonesia. Tapi sebagai daerah khusus dan istimewa dengan otonomi lebih luas.

Bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) juga berkibar di kawasan makam pendirinya: Teungku Hasan Tiro, di Meureu, Indrapuri, Aceh Besar, Senin (4/12/2023).
Bendera Gerakan Aceh Merdeka berkibar di kawasan makam pendirinya: Teungku Hasan Tiro, di Meureu, Indrapuri, Aceh Besar, Senin (4/12/2023). Foto: Kiriman untuk acehkini

Lima tahun setelahnya, sang deklarator Teungku Hasan Muhammad di Tiro wafat. Ia berpulang pada usia 84 tahun dalam perawatan medis di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh, pada 3 Juni 2010.

Hasan Tiro dimakamkan di Gampong Manggra, Indrapuri, Aceh Besar—tepat di sebelah nisan leluhurnya: Pahlawan Nasional dari Aceh Teungku Chik di Tiro.

Dalam ceramah yang sendu melepas jenazah Hasan Tiro ke rumah terakhirnya, ulama Aceh Teungku Muhibbuddin Waly berkata, “Semoga kita semua menjaga amanah Wali (Hasan Tiro) untuk terus menjaga perdamaian abadi di Aceh.”[]

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Petugas Haji Asal Aceh Meninggal Dunia saat Tugas di Mina

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Seorang petugas haji asal Aceh, Manshur bin Ahmad,...

Foto: Suasana Salat Iduladha di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh

Ribuan jemaah melaksanakan salat Iduladha 1445 Hijriah di Lapangan Blang Padang, Kota Banda Aceh,...

Pj Gubernur Aceh Salat Iduladha di Lapangan Blang Padang

Pj Gubernur Aceh Bustami bersama istri Mellani Subarni melaksanakan salat Iduladha di Lapangan Blang...

Foto: Pawai Takbiran Malam Iduladha 1445 H di Kota Banda Aceh

Menyambut Hari Raya Iduladha 1445 Hijriah, Pemerintah Aceh menggelar pawai takbir keliling di Kota...

Cek Kebutuhan Meugang, Mellani Subarni Kunjungi Pasar

Penjabat Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Aceh, Mellani Subarni mengunjungi...

More like this

Petugas Haji Asal Aceh Meninggal Dunia saat Tugas di Mina

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Seorang petugas haji asal Aceh, Manshur bin Ahmad,...

Foto: Suasana Salat Iduladha di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh

Ribuan jemaah melaksanakan salat Iduladha 1445 Hijriah di Lapangan Blang Padang, Kota Banda Aceh,...

Pj Gubernur Aceh Salat Iduladha di Lapangan Blang Padang

Pj Gubernur Aceh Bustami bersama istri Mellani Subarni melaksanakan salat Iduladha di Lapangan Blang...