Banjir yang terus berulang di Aceh tidak bisa lagi dipandang sekadar sebagai bencana alam. Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menegaskan bahwa laju deforestasi yang tak terkendali telah menjadi akar masalah utama, sehingga penghentian perusakan hutan menjadi kunci mendesak untuk memutus siklus banjir yang kian mengancam keselamatan dan kehidupan masyarakat Aceh.
Yayasan HAkA menyatakan banjir besar yang melanda berbagai wilayah Aceh pada akhir November 2025 bukanlah peristiwa alam yang berdiri sendiri, melainkan akibat dari kerusakan ekologis yang berlangsung lama. Hilangnya tutupan hutan dinilai telah merusak keseimbangan alam serta menghilangkan fungsi hutan sebagai pelindung alami dari banjir dan longsor.
Juru Kampanye Hutan dan Satwa Liar Yayasan HAkA, Raja Mulkan, menyerukan penghentian deforestasi sebagai langkah mendesak untuk memutus mata rantai bencana berulang di Aceh. Seruan ini disampaikan melalui aksi kampanye “Stop Deforestation”, yang bertujuan mengingatkan publik bahwa kerusakan hutan hari ini akan berujung pada penderitaan masyarakat di masa depan.
Menurut Raja Mulkan, tanggung jawab perlindungan hutan tidak hanya berada di tangan pemerintah atau pelaku usaha, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Tanpa kesadaran kolektif dan keberanian untuk menghentikan praktik perusakan hutan, Aceh akan terus menghadapi krisis ekologis yang berulang.
“Hutan Aceh adalah benteng terakhir hutan yang ada di Pulau Sumatra, memiliki peran strategis sebagai penyangga kehidupan, sumber keanekaragaman hayati, serta benteng alami terhadap bencana. Kehilangan hutan berarti kehilangan perlindungan, kehilangan ruang hidup, dan kehilangan masa depan,” ujarnya lewat keterangan tertulis, Ahad (18/1/2026).
Oleh karena itu, kata Mulkan, pembangunan tidak boleh lagi mengorbankan hutan, dan kebijakan yang melemahkan perlindungan lingkungan harus dihentikan.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun Aceh memiliki kawasan hutan terluas di Sumatra, hal itu bukan jaminan wilayah ini aman dari bencana. Sekitar 47 persen daratan Aceh berada di wilayah dengan lereng curam hingga sangat curam, yang semakin rentan terhadap longsor dan banjir bila tutupan hutannya terus berkurang.
Sebagai refleksi, Raja Mulkan mempertanyakan: “Apakah bencana banjir yang kita alami sanggup mencegah manusia untuk tidak merusak hutan lagi?”
Yayasan HAkA menilai momentum banjir yang terjadi saat ini harus menjadi titik balik untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam. Hutan tidak boleh lagi dipandang sekadar komoditas semata, tetapi sebagai penentu keselamatan dan keberlanjutan hidup bersama.
“Stop deforestasi sekarang. Selamatkan hutan Aceh. Selamatkan masa depan,” demikian Mulkan. []



