“Eomma… yeogi, igo hanbeon manjyeoboseyo, Allah ileumi sso issoyo (bu, di sini. Coba sentuh katanya ada tertulis nama Allah)” kata seorang anak ke Ibunya sesaat setah memasuki ruang pameran di lantai 3 gedung Museum Nasional Korea. Yang dipamerkan adalah salah satu koleksi seni Islam paling signifikan di dunia.
Pameran dengan tema “Islamic Art: A Journey of Splendor (Seni Islam: Perjalanan Kemegahan)” digelar nyaris setahun dari 22 November 2025 sampai 11 October 2026 di ruang World Art Gallery. Pameran ini digelar atas kerja sama dengan Museum Seni Islam (MIA) di Doha, Qatar. Karya yang dipajang ada 83 jenis mencakup manuskrip Al-Quran dengan ukiran tangan rumit, karpet kerajaan islam yang mewah, keramik, dan kerajinan batu mulia yang halus.
Selain desainnya yang inspiratif serta barang-barang menakjupkan ada suatu benda yang menarik perhatian Acehkini, adanya manuskrip tua Dalail Khirat. Di Aceh setiap malam jumat, syair-syair ini masih dilantunkan dari meunasah ke meunasah yang disebut dengan kegiatan meudalae. Lantunan puji-pujian kepada Rasulullah ini ditulis oleh ulama sufi asal Moroko bernama Imam al-Jazuli.
Benda lain yang menarik perhatian pengunjung ada Planispheric Astrolabe. Astrolabe adalah instrumen astronomi, yang digunakan untuk berbagai hal seperti mengukur ketinggian matahari atau bintang untuk menentukan waktu matahari terbit, matahari terbenam, atau waktu salat.
Pada astrolabe yang dipamerkan ini dibuat berdasarkan prinsip proyeksi stereografis. ada 29 tanda penunjuk Bintang, Nama-nama Bintang tersebut diukir dengan huruf kufi. Disana juga terukir nama pengrajin yang membuat astrolabe tersebut, tanggal dan tempat pembuatannya, 709 H (1309-1310 M) Granada, Spanyol.
“Saya pikir awalnya saat melihat promosi pameran ini akan banyak orang asing yang datang, ternyata pengunjung orang Koreanya lebih banyak” kata Mentari, salah seorang pengunjung dari Indonesia. “Tapi bagus juga mengigat sangat sedikit informasi tentang Islam yang dapat kita peroleh di Korea,” tambahnya lagi.


Walaupun pengenalan budaya Islam relatif baru di negeri gingseng. Namun berdasarkan perkembangan sejarah, semenanjung Korea sudah bersentuhan dengan dunia muslim jauh sebelum itu melalui perdagangan. Misalnya saja ada artefak berukir aksara Persia yang ditemukan di pemakaman Kerajaan Silla. Pada pertengahan abad ke 7 saat para pedagang dari Arab berdagang dengan Dinasti Tang (Tiongkok) mereka juga bertemu dengan orang-orang dari Kerajaan Silla Bersatu (668–935). Pertemuan pedagang dari Dinasti Goryeo (918 – 1392) dengan pedagang-pedagang Arab, memperkenalkan nama Korea.
Pameran ini seperti memperkenalkan kembali kebudayaan Islam kepada Masyarakat Korea Selatan dengan peninggalan masa lalu yang indah, menelusuri evolusi ekspresi seni Islam di berbagai wilayah yang membentang dari Spanyol hingga Tiongkok, menyoroti jaringan budaya, pencapaian ilmiah, dan bahasa estetika yang membentuk produksi artistik di seluruh dunia Islam. Karya dikumpulkan, menawarkan pengetahuan tentang 1.400 tahun kreativitas.
Pameran diatur dalam beberapa katagori berdasarkan periode yang berurutan berdasarkan sejarah. Pada bagian pertama ditampilkan bagaimana seni Islam dan keimanan berkait erat yang memperlihatkan esensi seni manuskrip awal pada penulisan Al-Quran dan beberapa di antaranya dari Dinasti Timurid (1370-1507). Manuskrip Al-Quran ini menampilkan perkembangan gaya kaligrafi, dari aksara Kufi awal pada perkamen hingga halaman-halaman selanjutnya yang dihiasi dengan iluminasi tumbuhan dan ornamen geometris yang rumit.
Bagian kedua merupakan perpaduan nilai estetika yang dibentuk oleh kebudayaan islam. Benda-beda yang dipajang berasal dari jazirah arab dan berbagai wilayah yang menjadi perkembangannya. Terlihat keindahan dari Teknik-teknik cangih pada pahatan yang halus para pengrajing di permukaan kaca, keramik maupun logam.
Bagian terakhir mengajak pengunjung datang melihat seni istana dan tradisi akademik yang berkembang pada masa Turki Usmani (1299-1922), Safawi (1501-1736), dan Mughal (1526-1857). Ada karpet mewah, tekstil, dan ornamen rumit menunjukkan, keindahan dekoratif, dan kecanggihan estetika masing-masih masa perkembangan Islam. Diakhir ruangan ditutup dengan ruang resepsi Damaskus tahun 1817 yang direkonstruksi secara digital. Di mana pengunjung bisa berfoto. Seolah berada didalam istana sultan. []




