Pemerintah Aceh menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas insiden yang menimpa Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Aceh Hebat 2 yang terjadi di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026).
Insiden ledakan yang terjadi di kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 diduga berasal dari tabung hidrolik. Saat kejadian, 14 taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati sedang mengikuti praktik lapangan bersama Kepala Kamar Mesin (KKM).
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 11.13 WIB saat kapal bersandar di dermaga Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, setelah menyelesaikan proses bongkar muatan dari Pelabuhan Balohan, Sabang.
Akibat insiden itu, sebanyak 15 korban saat ini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh. Seluruh korban dilaporkan dalam kondisi stabil, namun enam orang di antaranya harus menjalani operasi karena mengalami luka bakar serius.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan Pemerintah Aceh terus memantau perkembangan penanganan para korban dan memastikan seluruh pihak terkait memberikan layanan terbaik bagi mereka yang terdampak dalam peristiwa tersebut.
“Atas nama Pemerintah Aceh, kami menyampaikan rasa prihatin dan duka atas musibah yang menimpa para taruna Politeknik Pelayaran Malahayati dan kru kapal. Keselamatan dan pemulihan kondisi korban menjadi prioritas utama saat ini,” kata Nurlis dalam keterangannya, Jumat.
Pemerintah Aceh, lanjut Nurlis, telah meminta seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) terkait untuk berkoordinasi secara intensif dengan pihak rumah sakit, operator kapal, serta instansi pelabuhan guna memastikan seluruh korban memperoleh penanganan medis yang optimal hingga proses pemulihan selesai.
“Kami mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Dinas Perhubungan Aceh, PT ASDP Indonesia Ferry, KSOP Malahayati, Kantor Kesehatan Pelabuhan, tenaga medis dan semua pihak yang sejak awal kejadian bergerak cepat melakukan evakuasi dan penanganan terhadap para korban,” ujarnya.
Selain fokus pada penanganan korban, Pemerintah Aceh juga menilai penting dilakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya insiden tersebut. Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat menjadi dasar untuk memperkuat standar keselamatan dan prosedur operasional guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
“Pemerintah Aceh mendukung proses pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh pihak berwenang. Penyebab kejadian harus diketahui secara jelas agar langkah-langkah perbaikan dan mitigasi dapat dilakukan secara tepat,” kata Nurlis.[]


