Tim Dia-Bencana (Diabetes Bencana) Universitas Syiah Kuala (USK) meneliti akses terapi dan obat pasien diabetes pascabencana banjir bandang di Pidie Jaya dan Bireuen.
Riset berjudul “Dia-Bencana: Komunikasi Kesehatan dan Perilaku Pencarian Informasi Terapi dan Akses Obat pada Pasien Diabetes Pascabencana di Aceh” ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK tahun 2026 dan akan berlangsung hingga akhir tahun.
Ketua tim, Rizanna Rosemary, mengatakan tujuan utama penelitian ini adalah melihat apakah terdapat perbedaan pola akses terapi dan obat-obatan sebelum dan sesudah bencana.
“Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi sistem komunikasi kesehatan dan proses pencarian informasi pasien diabetes terkait terapi dan akses obat, mengukur tingkat kepatuhan terapi beserta alasannya pada pasien diabetes, serta mengkaji hambatan dan peluang komunikasi kesehatan diabetes pascabencana,” kata Rizanna, Rabu (29/7/2026).
Menurut Rizanna, komunikasi kesehatan masih jarang digalakkan, padahal hal tersebut sangat penting. Ia menekankan bahwa informasi kesehatan tidak selalu datang dengan sendirinya, melainkan harus dicari secara aktif.
“Perilaku pencarian informasi kesehatan menjadi hal penting yang perlu dimiliki oleh pasien maupun pendampingnya,” ujar Rizanna.
Sebagai bagian dari penelitian tersebut, tim menggelar edukasi kesehatan tentang kepatuhan terapi pada pasien diabetes pascabencana di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya, Kamis, 23 Juli 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh lima dosen USK, yaitu Rizanna Rosemary, Alfi Rahman, dan Uswatun Nisa dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Sarah Firdausa dari Program Studi Ilmu Penyakit Dalam, serta Nurul Kamaly dari Program Studi Ilmu Pemerintahan.
Edukasi kesehatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Pidie Jaya, Eddy Azwar; Kepala Puskesmas Meurah Dua, Jamaluddin; serta 50 peserta yang terdiri dari penderita diabetes beserta pendampingnya. Kegiatan ini juga melibatkan Puskesmas Meurah Dua dan Puskesmas Meuredu di Kabupaten Pidie Jaya.
Selain sosialisasi kepatuhan terapi dan materi edukasi kesehatan tentang diabetes, rangkaian kegiatan juga diisi dengan survei kepatuhan pasien, pemeriksaan kesehatan, dan cek gula darah gratis.
Seusai edukasi, tim Dia-Bencana juga akan melakukan diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD Pidie Jaya, BPJS Pidie Jaya, sejumlah tenaga kesehatan di Pidie Jaya, serta para keuchik gampong di wilayah tersebut untuk memperdalam temuan.
Eddy Azwar menyampaikan apresiasi kepada Tim Dia-Bencana USK. Ia mengungkapkan bahwa angka penderita diabetes di Pidie Jaya cukup tinggi, terutama pada laki-laki, dengan rincian 1.852 kasus pada laki-laki dan 1.542 kasus pada perempuan.
“Tim ini insyaallah akan membantu kami menangani penyakit tidak menular. Saat ini, ada tiga penyakit tidak menular yang sangat serius dan harus ditangani, yaitu diabetes, hipertensi, dan jantung. Mari kita ikuti kegiatan ini dengan serius, dan kami yakin akan ada jalan keluar serta solusi yang baik, baik bagi peserta maupun pihak dinas terkait dalam penanganan diabetes,” ujarnya.
Sarah Firdausa, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus anggota tim, mengungkapkan bahwa diabetes merupakan penyakit dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia. Menurutnya, selain kesadaran penderita, pendamping juga memiliki peran besar dalam penanganan diabetes, apalagi perilaku sehari-hari sering kali memicu diabetes.
Edukasi ini berlangsung dengan baik, dan peserta kegiatan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, terlihat dari banyaknya peserta yang mengajukan pendapat dan pertanyaan terkait kepatuhan terapi yang mereka jalani.[]


