HomeNewsKhasKisah Suami Cut Meutia, Pang Nanggroe yang Berjuluk Napoleon Aceh

Kisah Suami Cut Meutia, Pang Nanggroe yang Berjuluk Napoleon Aceh

Published on

Pang Nanggroe, -suami kedua Cut Meutia- dijuluki Belanda Napoleon Aceh. Beliau ahli siasat perang gerilya. Belanda terus memburunya di era 1900-an, hingga syahid pada 20 September 1910 dalam sebuah pertempuran.

Awalnya, Pang Nanggroe adalah panglima perang Teungku Chik Di Tunong, suami kedua Pahlawan Nasional Cut Meutia yang mempimpin sejumlah pejuang Aceh dalam perang dengan Belanda. Sementara suami pertama Cut Meutia adalah Teuku Syamsarif, abang Chik Di Tunong, mereka bercerai karena beda prinsip setelah Syamsarif memilih menyerah kepada Belanda.

Teungku Chik Di Tunong gugur setelah tertangkap pada Maret 1905. Sebelum dihukum mati, beliau berpesan kepada Cut Meutia agar mau menikah dengan Pang Nanggroe dan meneruskan perjuangan bersama anaknya, Teuku Raja Sabi.

Pang Nanggroe jago taktik, Belanda menjulukinya Napoleon dari Aceh. Merujuk Napoleon Banaparte, Kaisar Prancis (1804-1814), terkenal saat Perang Revolusioner di Eropa. Nama Pang Nanggroe semakin diburu setelah berhasil menenggelamkan 45 marsose bersenjata lengkap di Krueng Sampoiniet, Aceh Utara. Saat itu, dia belum menikah dengan Cut Meutia.

Kisahnya, bermula dari perang mata-mata dan berita palsu yang disebarkan untuk memancing lawan masuk perangkap, sebagaimana diceritakan HC Zentgraaff dalam bukunya ‘Atjeh’ (1938).

Pada 20 November 1902, Letnan PRD de Kok dan pasukannya singah di pasar Sampoiniet (Aceh Utara). Di sana mereka membahas rencana patroli dan melihat jalur yang akan dipakai untuk menyergap pasukan Pang Nanggroe. Dalam gelap malam itu, seorang mata-mata Pang Nanggroe menyelinap, mendengar detil setiap rencana itu. Malam itu juga berita tersebut sampai ke Pang Nanggroe.

Pagi-pagi sebelum Letnan de Kok dan pasukannya berangkat operasi, tersiar kabar bahwa pasukan Pang Nanggroe ada di seberang sungai Sampoiniet. Letnan de Kok tak mudah percaya. Ia mengutus mata-matanya ke sana. Hasilnya valid, kelompok pejuang Aceh terlihat lalu lalang.

Berangkatlah Letnan de Kok bersama 45 marsose yang dipimpinnya itu. Ketika sampai di sana, 21 November 1902, hari sudah gelap. Kelompok pejuang Aceh itu tidak tampak lagi. Beberapa penduduk memberitahu bahwa pasukan Pang Nanggroe sudah bergerak jauh melewati sungai itu.

Letnan de Kok yang sudah lama memburu Pang Nanggroe, tak ingin tangkapannya menghilang begitu saja. Ia akan membawa pasukannya ke seberang sungai untuk menangkap apa yang disebutnya sebagai ‘ikan besar’ itu.

Peta gerilya Cut Meutia. Foto: dok. Tropenmuseum

Empat orang penduduk diminta mendayung dua perahu ke seberang sungai di bawah todongan senjata. Letnan de Kok dan 45 marsose naik kedua perahu tersebut. Ia meminta lelaki pendayung perahu mempercepat laju.  Tiba-tiba dalam remang malam, satu tembakan terdengar. Lalu, “bruuuuk” keempat lelaki pendayung di kedua perahu itu menendang lantai perahu sekuat tenaga, sesuai kode tembakan tadi, kemudian terjun ke sungai. Perahu itu bocor. Mereka memanfaatkan kepanikan de Kok dan pasukanya itu untuk membalikkan kedua perahu. Secepat kilat para pendayung menghilang dalam air.

Ketika perahu itu sudah terbalik, pasukan Letnan de Kok yang panik ditembaki dari seberang sungai. Ternyata Pang Nanggroe dan pasukannya tidak meningalkan kawasan itu, sebagaimana informasi yang diterima Letnan Kok di seberang sungai, yang ternyata berita palsu sebagai pancingan. Dan keempat pendayung itu, merupakan orang-orang pilihan dari pasukan Pang Nanggroe, yang berhasil melaksanakan siasat itu dengan baik.

“Dengan isyarat tembakan dari seberang sungai, awak-awak perahu bangsa Aceh tersebut membalikkan perahu-perahu tadi, dan mereka meloloskan diri dengan berenang ke pinggir sungai. Seluruh anggota pasukan itu tenggelam di sungai, sebagian selamat, 28 orang marsose mati, dan 42 senapan hilang,” tulis Zentgraaff.

Setelah peristiwa tersebut, Pang Nanggroe terus dicari Belanda. Perlawanan makin gencar dilakukan bersama Cut Meutia, setelah mereka menikah, sepeninggal Teungku Chik Di Tunong.

Setelah Pang Nanggroe Syahid pada 20 September 1910 (sebagian menyebut tanggal 26), Cut Meutia meneruskan perjuangan bersama anaknya Raja Sabi. Cut Meutia kemudian menyusul syahid pada 24 Oktober 1910. Pejuangan dilanjutkan Raja Sabi. []

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Pemerintah Aceh Sampaikan Duka Mendalam

Pemerintah Aceh menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya mantan Gubernur Aceh periode 2012-2017,...

Aceh Ambil Bagian di PRJ 2026, Dorong Promosi Wisata dan UMKM

Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh kembali berpartisipasi dalam Pekan Raya...

Tokoh Masyarakat Subulussalam Gagas Dapil DPRA Baru untuk Aceh Singkil-Subulussalam

Forum Penggagas Penataan Daerah Pemilihan (Dapil) DPRA Aceh Singkil–Subulussalam mulai menginisiasi langkah-langkah untuk mendorong...

Insiden KMP Aceh Hebat 2, Pemerintah Aceh Pastikan Korban Mendapat Penanganan Maksimal

Pemerintah Aceh menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas insiden yang menimpa Kapal Motor Penyeberangan...

Gubernur Aceh dan SKK Migas Sepakat Revisi POD Blok Andaman

Gubenur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyapakati penyampaian revisi...

More like this

Zaini Abdullah Meninggal Dunia, Pemerintah Aceh Sampaikan Duka Mendalam

Pemerintah Aceh menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya mantan Gubernur Aceh periode 2012-2017,...

Aceh Ambil Bagian di PRJ 2026, Dorong Promosi Wisata dan UMKM

Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh kembali berpartisipasi dalam Pekan Raya...

Tokoh Masyarakat Subulussalam Gagas Dapil DPRA Baru untuk Aceh Singkil-Subulussalam

Forum Penggagas Penataan Daerah Pemilihan (Dapil) DPRA Aceh Singkil–Subulussalam mulai menginisiasi langkah-langkah untuk mendorong...