Di tengah keterbatasan fisik, Yusri M Ali, seorang difabel di Banda Aceh, menunjukkan kegigihan dalam berjualan ikan bakar. Tak mau jadi peminta-minta.
Yusri M Ali duduk belasan meter dari gerobak dagangannya di pinggir jalan Teuku Nyak Arief, Simpang Mesra, Kota Banda Aceh. Di bawah lindungan pohon, pria 55 tahun ini menghindari sinar matahari yang terik pada Selasa (20/2/2024) siang.
Ketika sebuah sepeda motor berhenti di depan gerobak, Yusri dengan lekas mengambil tongkat dan mengapitnya di tangan kiri. Ia lalu berjalan dengan langkah tertatih-tatih melayani pembeli.
“Dibanding kaki palsu, mudah pakai tongkat,” kata difabel yang kehilangan kaki kirinya sejak usia 14 tahun karena kecelakaan. “Karena terbiasa pakai tongkat,” ia menjelaskan.
Yusri tinggal di Gampong Tanjong Dayah, Darussalam, Aceh Besar. Sejak pukul 10 pagi, ia sudah di Simpang Mesra menjual ikan bakar—pekerjaan yang dia geluti sejak 35 tahun lalu.
Usaha yang diberi nama Ikan Bakar Awak Tuha ini buka sampai pukul enam sore. Ia berjualan di sana sejak 2018 setelah beberapa kali pindah tempat, seperti depan masjid Kajhu dan Cadek.

Beberapa tahun lalu, Yusri memiliki warung ikan bakar di kawasan itu. Tapi usahanya dibongkar karena dibangun di bantaran sungai. Alhasil, ia berjualan dengan gerobak.
Meski satu kaki, Yusri mengerjakan semua tugasnya sendiri. Setiap dua hari sekali, ia belanja di Tempat Pelelangan Ikan Lampulo. Modal yang ia keluarkan untuk beli ikan mencapai Rp1—1,5 juta. “Tergantung harga ikan,” katanya.
Yusri tak kesulitan membawa ikan dalam jumlah besar. Sebab, di TPI biasa ada pekerja lepas yang menjual jasa angkut belanjaan ke becak—kendaraan yang ia pakai sehari-hari. Dari Lampulo, ia ke lokasi gerobaknya.

Tugas berikutnya, ia membersihkan ikan-ikan seperti bawal dan kakap itu sebelum akhirnya dibakar di perapian berjarak lima meter dari gerobak.
Tiap hari, belakangan ini paling sedikit laku Rp 200—400 ribu. Jumlah ini tak sebanding tahun lalu yang disebut mencapai Rp 1 juta. “Ekonomi tahun ini merosot,” katanya.
Pendapatan Yusri ini menghidupi istri dan enam anak mereka. “Ya kalau kita bilang enggak cukup, enggak. Kalau kita bilang cukup, cukup,” katanya.

Kaki Hancur di Hari Suci
Hari ketiga Idul Fitri pada 1983. Yusri usia 14 tahun. Dari pasar Keumireu, dia pulang ke rumahnya di Meureu, Indrapuri. Di kilometer 30, Jalan Banda Aceh-Medan, musibah itu menemuinya. “Saya ditabrak mobil, terlempar sampai ke parit,” katanya.
“Kaki hancur. Dulu rumah sakit belum canggih. Kaki saya diamputasi.”
Menjadi difabel bagi Yusri tak bikin semangat hidupnya redup. Ia tak jadi peminta-minta di persimpangan jalan. Ia selalu meneguhkan harapan bahwa tangan di atas lebih baik dibanding di bawah. “Kalau kita mau melakukan, pasti bisa,” katanya.
Ia pernah begitu marahnya saat pergi ke rumah kerabat untuk meminjam modal usaha tak lebih dari Rp 5 juta, tapi justru diberi beberapa ratus ribu yang dianggap sedekah. “Saya bilang tak butuh sedekah, butuh modal yang nanti saya kembalikan,” katanya.

Suatu kali Yusri harus menggadaikan sepeda motor untuk modalnya. Ia kerap pula diberi janji manis bantuan modal usaha. “Bahkan ada wartawan wawancara saya yang katanya akan diberi modal usaha, tapi sampai sekarang tidak ada,” katanya.
Yusri berterus terang tak ingin hidupnya selalu dibantu orang, tapi cukup sekali diberi bantuan modal usaha yang akan dikembangkan. “Saat usaha berkembang, kita bisa bantu orang lain.”
Dua jam saya di gerobak Yusri siang itu, pukul 13—15, hanya satu pembeli yang singgah. Memang ia bilang ikan bakar akan banyak terjual sekitar pukul 11 siang dan 5 sore. Ia tetap menanti di bawah sebatang pohon itu.[]


