HomeNewsBendera Putih di Depan Masjid Raya Baiturrahman, Tanda Kekecewaan atas Pemulihan Bencana

Bendera Putih di Depan Masjid Raya Baiturrahman, Tanda Kekecewaan atas Pemulihan Bencana

Published on

Bendera putih berkibar di jalan depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat pagi (14/8/2026). Simbol menyerah itu dibawa Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana sebagai bentuk kekecewaan terhadap lambannya pemulihan bencana ekologis yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra sejak akhir November 2025.

Koordinator aksi, Rahmad Maulidin, mengatakan bendera putih dikibarkan sebagai simbol kekecewaan masyarakat terhadap penanganan bencana yang dinilai belum memberikan kepastian bagi korban.

“Aksi bendera putih ini sebagai simbol kegagalan pengurus negara dalam menangani bencana ekologis Aceh-Sumatra,” ujarnya.

Koalisi sipil menilai pemerintah belum menjadikan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai prioritas. Ketidakjelasan kebijakan, menurut mereka, telah berlangsung sejak bencana terjadi.

Mereka menilai keputusan pemerintah yang tidak menetapkan bencana ekologis Aceh-Sumatra sebagai bencana nasional turut menimbulkan ketidakpastian dalam kebijakan pemulihan, terutama terkait anggaran dan mekanisme pelaksanaannya.

Bencana Dinilai Belum Berakhir

Rahmad Maulidin menegaskan bencana ekologis di Aceh-Sumatra belum berakhir meski fase tanggap darurat telah berlalu.

Dalam sebulan terakhir, sejumlah daerah di Aceh masih dilanda banjir. Ia menyebut Gayo Lues dan Aceh Utara, serta banjir terbaru di Aceh Barat Daya yang terjadi pada Kamis malam, 13 Agustus 2026. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

“Bencana ekologis Aceh-Sumatra belum berakhir. Bencana masih berlangsung hingga saat ini,” kata Maulidin.

Koalisi juga menilai klaim pemerintah mengenai percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Hampir sembilan bulan setelah bencana, berbagai kebutuhan dasar korban disebut masih belum tertangani secara optimal.

Pembersihan lumpur, misalnya, dinilai belum maksimal. Sungai masih mengalami pendangkalan, sedangkan sawah dan kebun yang menjadi sumber penghidupan masyarakat belum sepenuhnya pulih.

“Persoalan air bersih juga masih ditemukan. Hunian sementara (huntara) belum memadai, sementara kepastian pembangunan hunian tetap (huntap) dan lokasi relokasi belum jelas,” ucap Maulidin.

Di bidang pendidikan, lanjutnya, sejumlah sekolah masih menggunakan tenda. Infrastruktur jalan dan jembatan yang menjadi akses masyarakat menuju pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan juga masih dalam kondisi darurat.

Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

Atas kondisi tersebut, Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana mendesak pemerintah pusat menetapkan bencana ekologis Aceh-Sumatra sebagai bencana nasional.

Mereka juga meminta pemerintah mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi dengan memastikan kebijakan serta anggaran yang jelas dan transparan.

“Karena waktu terus berjalan dan musim hujan akan kembali. Ketidakpastian proses rehabilitasi dan rekonstruksi dikhawatirkan akan memperpanjang penderitaan masyarakat korban bencana,” ujarnya.

Koalisi mengingatkan pemulihan bukan semata membangun kembali rumah, jalan, jembatan, atau fasilitas umum yang rusak. Pemulihan, kata Maulidin, harus mengembalikan hak masyarakat untuk hidup aman, memperoleh tempat tinggal dan penghidupan yang layak, serta tinggal di lingkungan yang sehat dan terlindungi.

“Kami akan terus mengawal proses pemulihan bencana ekologis Aceh-Sumatra dan memastikan suara masyarakat korban tidak hilang di tengah upaya pengurus negara yang terus memanipulasi publik tentang penanganan bencana ekologis Aceh-Sumatra,” ujarnya.

@acehkini

Aksi bendera putih digelar sebagai bentuk kekecewaan atas penanganan bencana di Sumatra yang dinilai belum mampu memulihkan kondisi masyarakat. Aksi berlangsung di jalan depan Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Jumat pagi, 14 Agustus 2026. Koordinator aksi, Rahmad Maulidin, menyampaikan pernyataan sikap terkait situasi dan tuntutan para peserta aksi. #acehkini #Aceh #Sumatra #BencanaSumatra #AksiBenderaPutih

♬ suara asli – acehkini – acehkini

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Hari Damai Aceh XXI, Zikir dan Doa Bersama Digelar Malam Ini di Masjid Raya Baiturrahman

Peringatan Hari Damai Aceh XXI diisi dengan zikir dan doa bersama di Masjid Raya...

Seruan Wali Nanggroe Menjelang Peringatan Hari Damai Aceh

“Menjaga Perdamaian, Merawat Persaudaraan, dan Membangun Masa Depan Aceh Bersama” Menjelang Peringatan Hari Damai Aceh...

PII Aceh Besar Audiensi dengan Wakil Bupati, Bahas Kekeringan hingga Indeks Insinyur

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pengurus Cabang (PC) Aceh Besar melakukan audiensi dengan Wakil Bupati...

The Aceh Institute: Semen Langka, Negara Belum Mampu Memenuhi Hak Korban Banjir

Delapan bulan pasca banjir besar November 2025, hak dasar korban banjir di Aceh belum...

Hutan Adat Kampong Singgersing Subulussalam Menuju Pengakuan Negara

Hutan Adat Kampong Singgersing di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, selangkah lagi menuju...

More like this

Hari Damai Aceh XXI, Zikir dan Doa Bersama Digelar Malam Ini di Masjid Raya Baiturrahman

Peringatan Hari Damai Aceh XXI diisi dengan zikir dan doa bersama di Masjid Raya...

Seruan Wali Nanggroe Menjelang Peringatan Hari Damai Aceh

“Menjaga Perdamaian, Merawat Persaudaraan, dan Membangun Masa Depan Aceh Bersama” Menjelang Peringatan Hari Damai Aceh...

PII Aceh Besar Audiensi dengan Wakil Bupati, Bahas Kekeringan hingga Indeks Insinyur

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pengurus Cabang (PC) Aceh Besar melakukan audiensi dengan Wakil Bupati...