Jemaah salat Tarawih perdana Ramadan 1446 Hijriah membeludak di Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Jumat (28/2/2025).
Suasana terlihat padat. Bagian dalam masjid penuh. Pelataran di bawah payung elektrik pun asak. Jemaah sampai gelar sajadah di rerumputan.
Tak sedikit warga yang mesti putar balik. Mencari masjid lain. Basemen penuh dengan kendaraan. Jalanan sekitar masjid menjadi area parkir: mobil hingga motor.
Sebelum Tarawih, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Prof. Azman Ismail berceramah. Ia berkata, selama bulan suci, jin hingga setan dibelenggu. Tapi kalau manusia tetap berlaku jahat?
“Orang berbuat jahat di bulan Ramadan, itu artinya bukan salah setan, tapi hawa nafsunya,” kata Azman.
Salat Tarawih dimulai sekitar pukul 20.40 WIB. Imamnya Teungku Jamhuri Ramli. Berlangsung dalam 20 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir. Namun, ada yang salat delapan rakaat. Lantas melanjutkan Witir seorang diri.
Dedi Sumardi, seorang anggota jemaah, bersyukur bisa salat Tarawih perdana Ramadan tahun ini di masjid kebanggaan warga Aceh itu.
“Alhamdulillah, bersama umat Islam sangat gembira menyambut bulan suci. Antusias masyarakat malam ini sangat luar biasa,” katanya.
Bagi Yuni Rahmawati, salat Tarawih itu tak saja perdana tahun ini. Namun, juga Tarawih pertamanya di Masjid Raya Baiturrahman. Ia mendapat saf di pelataran masjid.
“Mungkin karena terlalu ramai,” tutur perempuan asal Kota Lhokseumawe itu.
Datang lebih awal ke masjid tak menjamin Mahdi, warga Banda Aceh, menempati saf depan. Ia justru gelar sajadah di atas rumput. “Tidak ada tempat lagi. Penuh,” katanya.
Menurut Mahdi, jarak antara saf laki-laki dan perempuan di pelataran masjid tidak teratur. Tanpa pembatas. “Terlalu dekat. Kalau bisa ada jarak satu meter,” ujarnya.[]


