HomeNewsSembuhkan Trauma Penyintas Banjir di Bireuen, Relawan Dibekali Dukungan Psikososial

Sembuhkan Trauma Penyintas Banjir di Bireuen, Relawan Dibekali Dukungan Psikososial

Published on

Membantu pemulihan psikososial, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas relawan dukungan psikososial pascabencana di Aceh.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama enam hari, mulai 4-9 Januari 2026, dengan menyasar tiga Kabupaten terdampak banjir bandang dan longsor, Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Bireuen.

Khusus di Bireuen pembekalan untuk relawan tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Kemenag Bireuen, Dr. Zulkifli, M.Pd di aula kantor setempat, Rabu (7/1/2026). Acara berlangsung sehari penuh, diikuti 35 peserta dari unsur penyuluh agama, penghulu, guru PAUD, dan relawan NU sebagai mitra strategis di lapangan.

Mewakili Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh, hadir Katim Kepenghuluan dan Sakinah, Dr. Khairuddin, MA beserta tim penguatan pembekalan relawan dari Ditjen Bimas Islam, Kasi Bimas Islam Kankemenag Bireuen, Rifal Fauzal, SH, dan Kasi Pendidikan Madrasah, Anis, S.Ag.

Kakan Kemenag Bireuen, Zulkifli menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas terjalinnya kerjasama antara LKK PBNU dengan Kemenag RI terlebih lagi telah memilih Bireuen sebagai salah satu kabupaten yang diberikan kepercayaan dalam penanganan psikososial penyintas bencana hidrometeorologi.

“Mari kita berkolaborasi dalam penanganan bencana sebagai media pembelajaran dan refleksi. Karena tanpa kerjasama yang solid, berat rasanya membangun dan menata kembali kehidupan  psikis masyarakat yang terdampak bencana,” ingatnya.

Dikatakan, jajaran Kankemenag Bireuen sendiri tidak luput dari bencana banjir, ada anak didik yang  meninggal dunia, madrasah, KUA, dan rumah serta harta benda mengalami kerusakan.

Sarana ibadah dan pendidikan Islam juga turut terdampak seperti rusaknya pesantren, masjid, dan meunasah. Aceh yang kuat secara spiritual sekarang Allah uji kembali setelah bencana tsunami pada 2004 lalu.

Di Aceh, kata Zulkifli, sangat kuat dengan nilai gotong royong dan saling membantu setiap ada bencana yang telah menjadi kearifan lokal.

“Namun adanya trauma kolektif pascabencana, tidak mungkin pulih dalam hitungan hari dan bulan. Tapi dengan adanya kolaborasi, kita yakin pemulihkan trauma kolektif ini akan dapat kita hilangkan,” ujar Zulkifli.

Sugeng Widodo , P.Si, dari instruktur Nasional keluarga sakinah Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, menyebutkan, bencana banjir bandang di Aceh butuh perhatian khusus, karena merupakan provinsi yang paling terdampak di Sumatra.

“Sehingga perlu penanganan emergensi respon yang menyeluruh, terutama penanganan terhadap korban yang masih hidup, agar kondisi psikologis mereka tidak lebih parah,” ingat psikolog yang akrab disapa Paman Dodo itu.

Paman Dodo sepakat dengan Kakan Kemenag Bireuen, seperti adanya tagar di media sosial, ‘warga bantu korban’, dan ‘korban bantu korban’ di Aceh. Ini memang gen-nya orang Aceh dalam solidaritas.

Menurutnya, syarat emergency respon adalah terpenuhinya kebutuhan dasar, seperti hunian layak huni, insfratruktur, listrik, sanitasi, baru kemudian dilanjutkan pemulihan psikososial.

Pemateri lainnya, Nurmey Nurulchaq, P.Si menyampaikan, kegiatan ini dirancang untuk membekali relawan yang terjun langsung ke lapangan dengan pemahaman dasar psikologi kebencanaan dan keterampilan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana.

“Relawan adalah garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan penyintas. Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman tentang kondisi psikologis korban bencana agar pendampingan yang diberikan tepat sasaran dan punya output yang nyata,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bencana bukan hanya menyisakan kerusakan fisik dan kehilangan harta benda, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang kerap tidak terlihat. “Rasa takut, trauma, kecemasan, hingga kehilangan harapan menjadi beban berat bagi penyintas bencana, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia,” katanya. []

Halim Mubary

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Rp2,5 Triliun untuk Pemulihan Pertanian Aceh, Pemprov Kelola Alokasi Rp9,7 Miliar

‎Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menggelar konferensi pers di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2026),...

228 CPNS Resmi Jadi PNS di Aceh, 6 di Antaranya Lulusan IPDN

Sebanyak 228 calon pegawai negeri sipil (CPNS) resmi diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS)...

Wapres Gibran Tinjau Pembangunan Jembatan Rusak di Aceh

Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka berkunjung ke Aceh untuk melihat pembangunan sejumlah fasilitas...

Mujiburrahman Kembali Pimpin UIN Ar-Raniry, Ini Target Besarnya 2026-2030

Prof Mujiburrahman kembali dipercaya memimpin Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh untuk periode...

Ibnu Batutah, Muslim Traveler Masyhur Asal Magrib

Suka jalan-jalan? Menjelajahi tempat-tempat indah dan bertemu orang-orang baru? Atau mencoba makanan dengan beragam...

More like this

Rp2,5 Triliun untuk Pemulihan Pertanian Aceh, Pemprov Kelola Alokasi Rp9,7 Miliar

‎Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menggelar konferensi pers di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2026),...

228 CPNS Resmi Jadi PNS di Aceh, 6 di Antaranya Lulusan IPDN

Sebanyak 228 calon pegawai negeri sipil (CPNS) resmi diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS)...

Wapres Gibran Tinjau Pembangunan Jembatan Rusak di Aceh

Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka berkunjung ke Aceh untuk melihat pembangunan sejumlah fasilitas...