Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang bukan sekadar bangunan pendidikan. Ia adalah ruang tumbuh harapan bagi ratusan santri.
Sebulan lebih lalu, saat bencana banjir dan longsor melanda Aceh, ruang para santri nyaris hilang ditimpa lumpur dan gelondongan kayu besar, memukul sendi-sendi kehidupan pesantren hingga tak lagi berfungsi.
Air bah menghentikan segalanya. Aktivitas belajar mengajar terpaksa terhenti, asrama santri rusak berat, ruang kelas dipenuhi lumpur, dan halaman pesantren berubah menjadi hamparan material kayu yang terseret arus. Dalam sekejap, pesantren yang biasanya hidup oleh suara mengaji menjadi sunyi.
Pembina Yayasan Darul Mukhlisin, Ichsan, menyebut banjir tersebut sebagai peristiwa paling mengkhawatirkan sepanjang sejarah pesantren. Dari tempat yang lebih tinggi, ia hanya bisa menyaksikan air dan kayu besar berputar-putar di area pesantren.
“Waktu air tinggi-tingginya, kami lihat dari atas, kayu-kayu itu muter-muter aja di sini. Ada yang lolos satu-satu ke lorong santri putri, itulah yang menghancurkan rumah di depan,” kenangnya.
Gelondongan kayu itu menjadi ancaman serius, bukan hanya bagi pesantren, tetapi juga desa-desa di sekitarnya. “Kalau seandainya kayu ini lepas semua, kemungkinan tiga sampai empat desa lagi yang hancur,” kata Ichsan.
Di tengah kepanikan, keselamatan menjadi prioritas utama. Seluruh santri dan warga sekitar berhasil menyelamatkan diri tanpa korban jiwa. “Santri kami Alhamdulillah semua selamat. Termasuk penduduk desa sini juga selamat,” ucapnya.
Ichsan menjelaskan, kenaikan air yang berlangsung bertahap memberi waktu bagi semua orang untuk mengungsi.
“Airnya naik step by step, jadi semua sempat naik ke atas, ke rumah pendiri yayasan. Waktu air tinggi itu sudah tidak ada orang lagi di bawah,” jelasnya.
Setelah air surut, tantangan baru muncul. Pesantren seluas sekitar lima hektare itu dipenuhi lumpur dan kayu, membuatnya tak bisa difungsikan sama sekali. Di titik inilah kehadiran pemerintah menjadi sangat berarti.
Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, khususnya BPJN Aceh, turun langsung membantu proses pemulihan. Alat berat dan tenaga lapangan mulai membersihkan area pesantren. Lumpur disingkirkan, kayu-kayu disortir, dan lingkungan pesantren perlahan ditata kembali. Proses ini menjadi simbol hadirnya negara di tengah kesulitan masyarakat.
“Kami dari yayasan sangat berterima kasih banyak. Dengan adanya bantuan pemerintah ini, insya Allah santri-santri bisa cepat untuk sekolah lagi,” kata Ichsan.
Koordinasi intensif dilakukan sejak awal penanganan. Kayu-kayu besar yang masih layak dipindahkan ke lahan dekat sungai untuk dimanfaatkan kembali dalam pembangunan rumah warga terdampak.
“Kayu-kayu besar yang bagus dipindah dulu ke tanah dekat sungai untuk dipergunakan pemerintah nanti untuk membangun rumah,” ujar Ichsan.
Sementara itu, kayu berukuran kecil yang tidak layak bangunan tidak dibiarkan menjadi limbah.”Kayu kecil-kecil yang tidak bagus ini akan dibuat bedeng, benteng ke desa, untuk menghalau banjir tahunan,” ucap Ichsan.
Hasil rapat koordinasi antara yayasan dan Kementerian PU juga menegaskan komitmen pembersihan total kawasan pesantren. “Di rapat itu memang sampai bersih, betul-betul bersih pesantren ini seperti semula. Akan dibersihkan sampai benar-benar bisa beroperasi lagi,” cetusnya.

Tak hanya soal kebersihan, pemulihan juga menyasar kebutuhan dasar santri yang rusak akibat banjir. “(Pemerintah) juga katanya mau bantu kita isi-isi pesantren ini. Komputer, tempat tidur, lemari, karena itu semua hancur,” tuturnya.
Kini, Darul Mukhlisin perlahan berbenah. Lapangan olahraga, area upacara, hingga fasilitas penunjang kembali disiapkan agar fungsi pesantren pulih sepenuhnya. “Tetap kita fungsikan seperti awal,” ujar Ichsan.
Di antara suara mesin dan langkah para pekerja, tumbuh keyakinan bahwa pesantren ini akan kembali hidup. Ichsan pun menyampaikan harapan agar pendampingan dari Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PU, melalui BPJN Aceh, terus berlanjut hingga proses belajar mengajar kembali normal.
“Harapan kami, kami sangat-sangat perlu bantuan dari Kementerian PU sampai kami bisa proses belajar mengajar seperti biasa,” ujarnya. []



