HomeHiburanBukuRekomendasi Buku Ramadan: Dari Geopolitik Dunia hingga Sejarah Palestina

Rekomendasi Buku Ramadan: Dari Geopolitik Dunia hingga Sejarah Palestina

Published on

Seiring perkembangan teknologi, kegiatan membaca buku mulai banyak ditinggalkan dan teralihkan oleh beragam hiburan lainnya.

Membaca tidak hanya perlu untuk menambah wawasan dan pengetahuan, namun juga penting untuk menjaga kesehatan otak.

Saat ini pilihan buku tidak hanya hadir dalam bentuk cetak, tetapi juga digital yang tentu saja mempermudah untuk memperoleh sumber bacaan.

Nah, ada penelitian yang menunjukkan bahwa membaca, terutama dalam bentuk buku fisik, dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi dan fokus.

Membaca juga penting untuk melatih keterampilan komunikasi, daya ingat, memperbanyak kosa kata, hingga membangun tata cara dan rangka berpikir, serta memberi motivasi, inspirasi, dan rasa empati.

Berikut beberapa buku pilihan acehkini yang barangkali bisa membantu melihat lebih dalam berbagai perkembangan dunia saat ini.

Why Nation Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty – Daron Acemoglu, James A. Robinson

Pernah punya pertanyaan kenapa negara yang terkadang memiliki sumber daya alam kaya namun tetap miskin? Atau mengapa kesenjangan ekonomi begitu jauh? Apakah keadaan alam, budaya, dan geografi menentukan sebuah negara bisa bertahan semakin kaya atau tenggelam dalam kemiskinan?

Buku yang terbit tahun 2012 ini ditulis oleh dua ekonom yang memenangkan Nobel Prize bidang ekonomi.

Mereka meneliti selama bertahun-tahun dengan membandingkan ekonomi institusional, ekonomi pembangunan, dan sejarah ekonomi untuk memahami mengapa negara-negara memiliki output yang berbeda.

Sebagian berhasil dalam akumulasi kekuasaan dan kemakmuran, sedangkan yang lain gagal. Mereka menyajikan studi-studi sejarah di seluruh dunia.

Buku ini mengungkapkan bahwa kesenjangan kesejahteraan dapat terjadi karena perbedaan kinerja institusi yang ada pada tiap-tiap negara.

Dua ekonom ini membagi institusi politik dan ekonomi ke dalam dua bentuk, yaitu institusi inklusif dan ekstraktif.

Foto: Khiththati/acehkini

Institusi politik yang inklusif didefinisikan sebagai institusi yang tidak hanya menguntungkan pihak penguasa, namun masyarakat biasa pun dapat berpartisipasi aktif dalam proses politik.

Sedangkan institusi politik ekstraktif adalah kebalikannya dan tidak ada peran masyarakat dalam proses checks and balances. Negara-negara dengan institusi inklusif ini dapat mencapai kemakmuran.

“Negara miskin menjadi miskin karena mereka yang memegang kekuasaan membuat kebijakan untuk menciptakan kemiskinan.” – Daron Acemoglu

The Hundred Years’ War on Palestine (A History of Settler Colonialism and Resistance 1917-2017) – Rashid Khalidi

Khalidi memulai bukunya dengan kisah kakek buyutnya yang merupakan mantan gubernur Jerusalem, Yusuf Diya Al-Khalidi.

Dalam suratnya pada tahun 1899 kepada Theodore Herzl, seorang tokoh Zionis, ia khawatir akan seruan Zionis untuk mengubah Palestina menjadi negara Yahudi.

“In the name of God, let Palestine be left alone (Demi Tuhan, jangan ganggu Palestina),” tulisnya.

Buku ini sejak awal secara gamblang menjelaskan bahwa ini merupakan cara-cara penjajahan modern yang dilakukan dengan bantuan negara asing.

Khalidi menyoroti beberapa babak penting proses penjajahan ini sebagai “deklarasi perang” terhadap rakyat Palestina, seperti Perjanjian Balfour tahun 1917, peristiwa Nakbah, perang tahun 1967, invasi Israel ke Lebanon tahun 1982, dan kejadian Gaza belakangan ini.

Proses perdamaian yang tiada akhir dan sia-sia juga menjadi sorotan.

Dari sejarah penting ini, Khalidi memperlihatkan perlawanan orang-orang Palestina dalam menghadapi tantangan terberat yang terus berlanjut hingga hari ini.

Masalah perebutan tanah ini dimulai dari gerakan Zionis dan kemudian Israel, dengan didukung oleh Inggris dan Amerika Serikat.

Khalidi berpendapat bahwa ini adalah perang kolonial yang dilancarkan terhadap penduduk asli oleh berbagai pihak untuk memaksa mereka menyerahkan tanah air mereka kepada bangsa lain, dan ketika melawan mereka dianggap memberontak.

Menariknya, dalam buku ini Khalidi tidak hanya menggunakan sumber dan metode yang biasa digunakan sejarawan untuk mengumpulkan informasi, tetapi juga menggunakan arsip-arsip keluarga, cerita turun-temurun dari generasi ke generasi di dalam keluarganya, hingga pengalamannya sendiri sebagai aktivis berbagai organisasi dan orang yang terlibat dalam proses negosiasi antara kelompok-kelompok Palestina dan dengan Israel.

Orientalism – Edward W. Said

Setelah membaca buku ini, pandangan kita tentang berbagai hal yang kita pelajari selama ini akan memiliki arah yang baru.

Said secara lugas mengkritik bagaimana selama ini dunia barat membentuk perspektif dan gambaran tentang dunia timur melalui kekuasaan, pengaruh media, identitas, dan superioritas kebudayaan.

Foto: Khiththati/acehkini

Sederhananya, banyak gambaran orang-orang Eropa, misalnya, masih memandang negara-negara yang terletak di belahan timur dengan pemikiran yang tertinggal, masyarakat kelas tiga, dan lainnya.

Sejarah barat dan timur yang tidak pernah dipelajari bersamaan, padahal terjadi pada dekade yang sama.

Said menelusuri asal-usul “orientalisme” hingga periode berabad-abad silam ketika Eropa mendominasi Asia dan Afrika dalam kacamata penjajahan dan jauh dari kekuasaan lokal. Hal ini membentuk opini bahwa timur dan barat sangat berbeda.

Pengaruh ini kemudian terus terjadi hingga sekarang di era modern, sehingga pandangan seperti ini tetap ada dan mendominasi, dan timur tidak bisa berdiri sendiri mewakili dirinya sendiri. Prasangka pun tetap melekat.

Meskipun pembahasan dalam buku yang terbit tahun 1978 ini cukup berat, ide-idenya masih sangat relevan hingga sekarang, terutama ketika berbicara tentang stereotip dan kekuatan global.

Buku ini membuat pembaca berpikir ulang tentang pandangan terhadap dunia.

The Ethnic Cleansing of Palestine – Ilan Pappe

Pappe merupakan salah satu sejarawan Israel yang paling lantang menyuarakan bahwa pendirian Israel adalah pengusiran paksa yang dilakukan terhadap penduduk asli.

Buku terbitan tahun 2006 ini dengan tegas membantah narasi bahwa orang-orang Palestina pergi secara sukarela meninggalkan negara mereka.

Pappe menunjukkan bukti-bukti mengesankan dari arsip-arsip yang diperolehnya.

Pengusiran dan pengungsian warga Palestina yang terjadi pada tahun 1948, menurut Pappé, merupakan pembersihan etnis yang dilakukan secara tersembunyi dan sistematis.

Buku ini membawa pembacanya meninjau kembali asal mula pembentukan Israel. Antara tahun 1947 dan 1949, lebih dari 500 desa Palestina sengaja dihancurkan, warga sipil dibantai, dan sekitar satu juta orang diusir dari rumah mereka dengan ditodong senjata. Fakta ini juga yang terus disangkal oleh Israel.

Menurut Pappé, pengusiran dan pengungsian warga Palestina tahun 1948 merupakan akibat dari pembersihan etnis Palestina yang direncanakan dan dilaksanakan oleh David Ben-Gurion dan sekelompok penasihat yang disebutnya sebagai “Konsultasi”.

Buku ini juga merujuk pada Rencana Dalet dan berkas-berkas desa sebagai bukti pengusiran yang direncanakan pada masa itu.

The Power of Geography – Tim Marshall

Buku ini merupakan kelanjutan dari Prisoners of Geography yang ditulis oleh Tim Marshall pada tahun 2015.

Geografi dalam puluhan tahun terakhir tidak berubah, namun keadaan politik dunia yang berubah turut memengaruhi kondisi geografi tersebut.

Buku ini membahas secara mendalam sepuluh wilayah yang dianggap akan menjadi titik rawan di era persaingan global, dilihat dari sisi letaknya dengan berbagai argumen, termasuk konflik etnis, persaingan perebutan sumber daya alam, sampai perubahan iklim.

Sepuluh wilayah yang dibahas adalah Australia, Iran, Arab Saudi, The United Kingdom, Yunani, Turki, the Sahel, Ethiopia, Spanyol, dan luar angkasa.

Marshall dengan cermat menggali latar belakang dan menganalisis masalah-masalah yang kemungkinan akan terjadi ke depannya, seperti pembahasan tentang perbatasan negara Iran atau apa yang terjadi jika cadangan minyak Arab Saudi berakhir.

Pengalaman Marshall sebagai seorang wartawan yang bekerja di BBC dan Sky News memberinya pengetahuan mendalam tentang kondisi lokal.

Tak heran hal ini membuatnya dengan mudah merangkai bahasa deskriptif sederhana dalam menjabarkan sejarah dan pengaruh negara-negara tersebut.

Buku ini tetap enak dibaca dan mudah dipahami walaupun mengangkat topik yang sedikit berat. Cocok buat yang penasaran dengan kondisi geopolitik sekarang ini.[]

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Muscab DPC PKB Subulussalam Digelar, Perkuat Konsolidasi dan Harapan Politik ke Depan

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Subulussalam menggelar Musyawarah Cabang (Muscab),...

PII Aceh Besar: Siap Menjadi Garda Terdepan Pembangunan

Rapat Pimpinan Cabang Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Aceh Besar yang dirangkai dengan Halal bi...

Ini 4 Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030 yang Lolos Tahap Administrasi

Panitia Penjaringan Bakal Calon Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menetapkan empat...

MAN 1 dan MTsN 1 Banda Aceh Masuk Top 100 Sekolah Terbaik 2026 versi Puspresnas

Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) merilis daftar Top 100 SMP dan SMA terbaik di Indonesia...

Launching Plasma di Subulussalam, 414 Sertifikat Diserahkan ke Masyarakat Pekebun

Pemerintah Kota Subulussalam bersama PT Laot Bangko resmi melaksanakan kegiatan launching program plasma yang...

More like this

Muscab DPC PKB Subulussalam Digelar, Perkuat Konsolidasi dan Harapan Politik ke Depan

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Subulussalam menggelar Musyawarah Cabang (Muscab),...

PII Aceh Besar: Siap Menjadi Garda Terdepan Pembangunan

Rapat Pimpinan Cabang Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Aceh Besar yang dirangkai dengan Halal bi...

Ini 4 Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030 yang Lolos Tahap Administrasi

Panitia Penjaringan Bakal Calon Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menetapkan empat...