Kabut masih membatasi jarak pandang ketika Abdul Wahab bertandang ke kebun durian milik warga di Dusun Neubok Dalam, Gampong Blang Dhot, Kecamatan Tangse, Pidie, Sabtu (6/1/2024). Pukul 7.15 pagi, pria 45 tahun itu mulai menghampiri gubuk-gubuk petani.
“Beungoh nyoe beuawai bacut tajak. Bek eunteuk icok le meugee laèn (Pagi ini harus cepat sedikit kita pergi. Jangan nanti [durian] diambil oleh pengepul lain),” ujar Abdul Wahab sambil memarkirkan sepeda motornya.
Abdul Wahab pengepul durian. Sejak musim durian tiba beberapa pekan terakhir, pengepul durian dadakan di Kecamatan Tangse makin meningkat. Mereka membeli durian dari petani, lalu menjual kembali ke orang lain.


Hampir setiap pagi, Wahab bersama pengepul durian lain berlomba-lomba menghampiri gubuk-gubuk petani. Apalagi menjelang akhir pekan, ia mengorbankan jam tidur untuk menunggu durian jatuh di kebun warga.
Membeli durian langsung di kebun, bikin pengepul harus melewati jalan setapak di hutan yang becek karena musim hujan serta cuaca yang tak menentu.
Bahkan, ada pengepul durian di desa lainnya harus menyeberangi sungai atau melewati jembatan gantung. Jarak tempuh yang dilalui ini pun terbilang panjang dan penuh risiko.

Berbicara soal Tangse, tak hanya dikenal panorama alamnya yang indah. Belum lagi soal kuliner yang sangat terkenal, misalnya gurihnya ikan keureulieng yang hidup di sepanjang aliran sungai, serta beras Tangse yang cita rasanya lumayan memanjakan lidah.
Begitu halnya saat musim durian tiba, penjual durian dadakan itu terlihat berjejeran di sepanjang jalan lintas Tangse-Geumpang. Musim durian membawa berkah bagi petani hingga pedagang dadakan di kawasan pedalaman Pidie tersebut.

Banyak lapak-lapak pedagang buah durian bermunculan di tepi jalan hingga ke pusat pasar tradisional di ibu kota Tangse.
Kawasan yang dijuluki “desa sejuk tanpa salju” ini pun terlihat sibuk. Banyak kendaraan roda dua dengan dua sisi kanan kiri diisi keranjang penuh dengan buah durian.
Meski tahun ini musim buah durian tidak merata karena banyak pohon tak berbuah. Namun harga masih stabil sehingga cocok bagi pengunjung yang isi dompetnya pas-pasan.

Apalagi sensasi mencicipi durian langsung dari kebunnya menjadi daya tarik pengunjung. Selain legit durian, pengunjung menikmati panorama alam di perbukitan nan sejuk dengan gemercik sungai yang mengalir di celah-celah bukit.
Muhammad Ali memperlihatkan buah durian dari kebunnya. “Meunyoe sinoe geukheun nyoe drien mie eh. Adak pih ubit, asoe jih teubai ngon mameh. Nyoe asoejih warna kuneng boh manok (Kalau di sini, kami menyebutnya durian ‘kucing tidur’. Biarpun ukurannya kecil, dagingnya lumayan tebal dan manis. Dagingnya juga berwarna kuning telur),” katanya.

Bagi warga Tangse, durian “mie eh” alias ‘kucing tidur’ memang terkenal cita rasa manis dan daging berwarna kuning telur. Meski ukuran tidak terlalu besar, durian ini selalu menjadi rebutan penikmat buah durian. Buah ini pun langsung diborong saat tiba di tangan pengepul.
Harga jualnya pun sangat bervariasi. Mulai dari Rp5 hingga Rp40 ribu tergantung ukurannya.[]
TAUFIK AR RIFAI



