Di balik robohnya Rumoh Geudong, luka lama masih menganga. Jejak penyiksaan dan trauma masa lalu terus menghantui para korban dan keluarga mereka: menanti keadilan dan pemulihan.
Marniati melongok jejak kamp penyiksaan itu. Yang selalu ia kenang bahkan hingga hampir tiga dekade lewat. Suatu siang yang panas dan suhu udara cukup kering, perempuan itu terus berharap-harap ingin kembali ke sana.
Baginya, keinginan itu bukanlah pulang yang biasa. Tapi apa yang ia sebut sebagai ziarah: kata yang bermakna dalam—sedalam jejak duka yang masih bergelayut di hidupnya.
“Saya korban di situ,” kata Marniati.
Kamp penyiksaan itu Rumoh Geudong. Yang bertahun-tahun menjadi ladang berdarah saat Jakarta mengirim tentara ke Aceh yang berstatus Daerah Operasi Militer 1989-1998.
Jejak gelap ini membuat tenar nama Bili Aron—sebuah kampung di Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, Aceh, tempat rumah itu berdiri persis di pinggir jalan dekat gerbang desa.
Pada 1997, enam bulan lamanya Marniati disekap di sana dengan kondisi perut yang sedang membesar. Tak kunjung dilepas, ia pun melahirkan dua anak kembar di sana.

Tapi kini Marniati hanya dapat menoleh bekas areal itu dari balik pagar seng yang menutupi sekelilingnya. Jejak robohnya Rumoh Geudong yang kelam kini ‘dipoles’ dengan masjid dan taman—yang pemerintah sebut living park. Dari sini pula Presiden Joko Widodo pada Juni 2023 memulai penyelesaian nonyudisial 12 pelanggaran HAM berat.
Dikerjakan setelah kunjungan Jokowi, proyek itu masih berjalan. Aksesnya dijaga ketat. Tak semua orang bisa leluasa ke sana. Sejumlah pria tengah bekerja di dalamnya saat Marniati mendorong-dorong pagar seng kelir merah tua.
“Kenapa kami sekarang tidak bisa masuk ke situ,” tanya Marniati.
***
Pria itu bekas buruh kilang padi—pekerjaan yang potensial di tengah berhektare-hektare sawah terhampar di Kecamatan Tiro yang subur. Sebab usianya kian senja yang lebih dari 80 tahun, ia tak lagi mengingat pasti tahun saat hari malang itu menemuinya: ketika disergap di Gampong Daya Cot, lalu digelandang ke Rumoh Geudong.
“Saya dituduh membantu orang gunung,” kata lelaki pemilik nama M Kaoy Yakob itu.
Orang gunung merujuk gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka. Tiro tak berjarak dari GAM. Perkampungan di kaki pegunungan Bukit Barisan ini menjadi tanah sakral—terutama bagi pendirinya yang tersohor itu: Teungku Hasan Tiro. Ia mewarisi darah keluarga Teungku Chik di Tiro.
Di Tjokkan pula, sebuah gunung kecil di Tiro, pada 4 Desember 1976, Teungku Hasan yang berumur sekitar 40-an mendeklarasi GAM—memulai apa yang kemudian disebut Jakarta sebagai pemberontakan. Di tanah Tiro itulah jantung GAM berdenyut, yang membuat negara mengirim ribuan tentara ke Aceh dan menyebabkan darah membasahi Serambi Makkah.
Di tengah gejolak yang menyeret nama kampung di pedalaman Pidie itu hingga jauh ke luar negeri, Kaoy tetaplah warga sipil biasa. Ia tak berada dalam gerakan itu. Tak ikut angkat senjata melawan negara. Ia memilih menandaskan harinya di kilang: memproduksi beras Tiro yang enak.
“Biar pun mati, saya [menjawab] tidak ada,” katanya.

Perkara senjata jadi pertanyaan mula-mula yang dilempar tentara saat memeriksa Kaoy. Ia dalam posisi kedua tangan dan kaki terikat itu pun tak tahu mesti jawab apa untuk sesuatu yang ia tak punya. Kaoy meragakan posisinya saat itu seperti sedang disalip.
“Saya dipukul, termasuk ini patah (menunjuk tulang rusuk),” Kaoy mengingat detail luka itu.
“Dihantam dengan kabel. Puntung rokok dimatikan di badan. Disetrum juga. Macam mana kita melawan?”
“Saya teriak, tapi dihidupkan musik keras.”
Di kamp itu, Kaoy melihat ada korban lain. Di sampingnya sendiri suatu hari ada korban kehilangan nyawa. Di luar, Kaoy juga melihat seseorang terikat dengan posisi memeluk pohon mangga.
“Dia sudah mati,” katanya.
Selama Kaoy di sana, korban meninggal dibawa pergi dari areal itu. Jasadnya ditutup plastik hitam, lalu dimasukkan ke karung. Kaoy tidak tahu dibawa ke mana.
“Dibawa dengan mobil, istilahnya kami sebut mobil malaikat maut. Itu ambil orang saja, yang hendak dibunuh,” kisah Kaoy.
Mariam yang tinggal dekat Rumah Geudong kerap mendengar suara tangis saban malam. “Ya Allah bek le (sudah cukup), seperti itu, suara perempuan,” katanya. Tapi perempuan 84 tahun ini tak tahu pasti apa yang sedang terjadi di dalam kamp itu.
Ibu kandung Nurbaiti termasuk perempuan yang disekap di Rumoh Geudong. Dan sampai hari ini, ibunya tak pernah kembali. “Di sini mamak saya hilang,” kata Nurbaiti. Baginya, Rumoh Geudong adalah kuburan.
***
Hampir satu dekade selama DOM, Rumoh Geudong jadi tempat angker. Ia merekam banyak penyiksaan, pembunuhan, hingga pemerkosaan rakyat Aceh yang dituding anggota GAM.
Rumoh Geudong dibakar massa pada 20 Agustus 1998 atau dua pekan setelah Menteri Pertahanan/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mengumumkan pencabutan status DOM di Aceh, 7 Agustus 1998. Setelahnya, di areal itu tersisa beton fondasi dan anak tangga.
Pelanggaran HAM berat di Rumoh Geudong tak mulus ke meja hijau. Komnas HAM yang menyelidiki peristiwa itu menyebut terdapat bukti permulaan yang cukup atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan di sana. Di mata hukum, perkara ini masih menggantung.
Di luar proses hukum, Januari 2023, Presiden Joko Widodo memberi angin segar dengan mengakui 12 pelanggaran HAM berat masa lalu. Satu di antaranya Rumoh Geudong.
“Saya dan pemerintah berusaha untuk memulihkan hak-hak para korban secara adil dan bijaksana, tanpa menegasikan penyelesaian yudisial,” kata Jokowi.

Jokowi kemudian datang ke Rumoh Geudong untuk memulai penyelesaian nonyudisial 12 peristiwa itu. Sedikitnya 58 keluarga korban Rumoh Geudong masuk dalam daftar orang yang akan dipulihkan kembali haknya.
Tapi, di lapangan, Farida Haryani, Direktur PASKA Aceh—yang selama ini mendampingi korban Rumoh Geudong—kelimpungan. Sebab, daftar itu tak menampung semua korban. “Ini sumber konflik ke depan karena kecemburuan sesama korban,” katanya.
Sementara korban yang masuk daftar pun kini masih menanti harapan dari Jokowi saat ke Rumoh Geudong. “Janji presiden belum tuntas. Sampai hari ini belum ada kejadian apa pun terhadap korban,” kata Farida.
***
Zikir bergema di meunasah Bili Aron, Senin (22/4/2024) pagi. Lebih dari seratus orang larut memuji Ilahi. Mereka juga memanjat doa. “Ya Allah, ampunilah korban di antara kami,” kata sang imam disambut amin para anggota jemaah.
Para korban Rumoh Geudong itu sedang ziarah tahunan, yang digelar setiap April. M Kaoy Yakob datang bersama keluarganya. Ia bertumpu di sebatang tongkat. Dua tahun setelah bebas dari Rumoh Geudong, sakit perlahan menggerogoti tubuhnya yang renta.
Anggota badan sebelah kiri mati rasa. “Bisa bergerak, tapi tidak terasa apa-apa,” katanya sambil memukul dinding meunasah. “Tidak sakit,” lanjutnya. Tanpa bantuan tongkat, ia tak bisa berdiri karena akan terasa pusing.

Sementara Nurbaiti menganggap Rumoh Geudong adalah kuburan ibunya, meski tak pernah tahu pasti di mana jenazahnya. Dalam doanya, ia memohon agar dipertemukan dengan sang ibu meski dalam mimpi.
“Mamak, tolong hadir di mimpi, [mamak] bisa ngomong ‘saya nak di sini’,” kata Nurbaiti.
Ketika Nurbaiti bertahun-tahun memikul tanya itu, pekerja proyek menemukan tulang manusia di Rumoh Geudong. Menurut Hasballah Amat, penyintas Rumoh Geudong, ada cukup banyak korban dikubur di sana.
“Tulang itu ditemukan di mana, karena tulang manusia di sini cukup banyak dikubur,” kata lelaki yang ditahan pada 1997 itu.
Adapun Marniati melempar tanya ketika dia tak bisa mengakses Rumoh Geudong siang itu: kepada siapa masjid dan taman itu dibangun. “Apa untuk kami korban apa untuk mereka itu?”.[]


