Gubernur Aceh terpilih Muzakir Manaf (Mualem) akan dilantik dalam waktu dekat. Semua hal disiapkan, termasuk agenda pemotretan dengan segala model baju resmi. Foto-foto itu akan digunakan untuk kepentingan dinas dan keluarga nantinya.
“Sebelum Magrib merapat ya,” Sebuah pesan whatsapp masuk ke ponsel jelang salat Jumat (7/2/2025). Aku melihat, pengirimnya Abdul Hadi.
“Lokasinya ?” balasku. “Posko. Tempat Zulfan biasa,” jawab pria yang lebih dikenal dengan Adi Gondrong.
Sehari sebelumnya, aku dan Adi bertemu. Dia berkabar akan melaksanakan sesi pemotretan Gubernur Aceh terpilih Muzakkir Manaf dan keluarga untuk keperluan pribadi juga kedinasan kelak.

Adi Gondrong adalah mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Semasa konflik mendera, dia pengawal Panglima GAM, Muzakir Manaf. Kedekatan mereka berlangsung hingga kini. Untuk urusan kodak, Adi Gondrong adalah kepercayaan Mualem.
Pasca-MoU Helsinki, ia beralih profesi jadi penenteng kamera juga pilot drone profesional. Kala Mualem menjadi Wakil Gubernur Aceh di periode 2012-2017, Abdul Hadi merupakan fotografer pribadinya.
Ilmu tentang kamera diperolehnya dari William Nessen. jurnalis lepas asal Amerika Serikat yang sempat menyusup ke markas GAM di wilayah Pase saat perang masih berkecamuk. Sejak itu Adi mulai jatuh cinta dengan kamera.
“Siapa saja lain yang ikut?” tanya ku.
“Zulfan dan Bang Frans,” jawabnya.
Zulfan adalah videografer, sempat berkarir pada salah satu TV Nasional di Jakarta. Usai Jokowi-Ahok terpilih jadi Gubernur Jakarta, pria bernama Teuku Zulfan Fikri itu menempati pos liputan di Balai Kota Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.
Ketika Joko Widodo (Jokowi) dicalonkan sebagai Presiden Indonesia berpasangan dengan Yusuf Kalla, Zulfan ditugaskan kantornya mengikuti seluruh kampanye Jokowi. Saat Jokowi menjadi presiden dan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden (2014-2019), pos liputan Zulfan berpindah ke Istana Negara. Selanjutnya ditugaskan ke Istana Wakil Presiden.

Pada Pilkada 2024 kemarin, Zulfan ikut dalam rangkaian kegiatan kampanye Mualem-Dek Fad sejak awal. Tugasnya memproduksi konten-konten untuk media sosial.
Sementara Frans Delian merupakan fotografer profesional di Aceh. Aku adalah karib dari ketiganya.
Aku dan Adi Gondrong tiba duluan di lokasi pemotretan, kediaman Muzakir Manaf. Disusul Frans dengan memboyong perangkat studionya.
Dari balik pintu, nyonya rumah Marlina Usman menyambut kami dengan senyum ramah. “Tamong. Mualem kageutubiet siat (Masuk, Mualem sudah keluar sebentar),” jelas istrinya yang akrab disapa Kak Na.
Lalu kami terlibat dalam obrolan tentang pose-pose foto keluarga, termasuk pakaian apa saja yang akan dikenakan Mualem dan Kak Na, ketika sesi pemotretan. Selanjutnya, Frans memilih sebuah ruangan, lalu kami menatanya mirip studio foto.

Usai magrib, Mualem tiba di rumahnya. Begitu melihat kami, dia berlalu hendak bersalin pakaian. “Pat ku dong? (berdiri di mana?].” tanyanya usai memakai pakaian PDU lengkap.
“Sinoe Mualem (di sini Mualem),” kata Adi Gondrong mengarahkan sambil memperagakan beberapa gaya pose yang harus diikuti Mualem.
“Nyoe ho ku ngieng? (kemana saya memandang?),” tanya Mualem lagi ketika melihat ada tiga pemegang kamera di hadapannya.
“Bak kamera merah. Nyan kamera utama, (ke kamera merah. Itu kamera utama),” kata Adi sambil menunjuk Frans, yang kebetulan cover kameranya berwarna merah.
Usai pose sendiri, Adi mengarahkan foto Mualem berdua dengan Kak Na. Selanjutnya anak-anak dan Ibu Mualem ikut dalam frame.
Selain foto formal, putra-putri Mualem meminta pose dengan beragam gaya kekinian bersama orang tua mereka.

Alasan itu pula, Adi Gondrong membatasi orang-orang yang ada di ruang pemotretan. Sebab ada beberapa foto tidak boleh beredar dan publikasi sampai pada waktunya.
Usai pakaian PDU, menggunakan jas pose selanjutnya. Lalu pakaian muslim, dan terakhir mengenakan PDL. Pada sesi terakhir, semua yang menyaksikan proses pemotretan meminta ikut foto bersama Mualem. Termasuk kami.
Usai agenda itu, Mualem pamit menerima tamu. Sementara Kak Na bersama putri-putrinya ikut nimbrung bersama kami, melihat kembali hasil jepretan di layar laptop yang diiringi tawa lepas ketika melihat ekspresi aneh dan lucu pada hasil jepretan.
Jelang tengah malam, kami pamit pada tuan rumah. []






