HomeOpiniEulogi – Rithā’ untuk Bismi Syamaun

Eulogi – Rithā’ untuk Bismi Syamaun

Published on

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Ada manusia yang lahir bukan untuk menempuh jalan gemerlap, melainkan untuk menjadi cahaya bagi jalan yang sunyi. Ia tak menggantungkan hidup pada jabatan, ketenaran, atau tepuk tangan. Ia cukup dengan berbuat baik, dan berharap Allah meridhai tiap langkahnya.

Namanya, Bismi Syamaun. Lahir di Beureunuen, 8 Desember 1962, dari rahim tanah Aceh yang tangguh dan bersahaja. Ia tumbuh sebagai anak negeri yang menjadikan agama dan pengabdian sosial sebagai arah hidupnya.

Dari Madrasah Ibtidaiyah hingga menjadi sarjana Fakultas Syari’ah di IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, ia menyusun hidupnya dalam baris-baris ilmu dan ketulusan.

Bismi bukan tipe manusia yang berdiam diri. Ia hidup untuk bergerak, bukan hanya untuk dirinya, tapi demi sesama. Ia tak menapaki satu jalan, tapi membelah banyak lorong. Pendidikan, dakwah, penguatan masyarakat, kemanusiaan, hingga pembangunan ekonomi rakyat kecil, adalah bidang bidang yag digelutinya.

Di tangannya, dakwah menjelma menjadi jembatan—bukan tembok pemisah. Ia masuk ke desa-desa, ke kawasan pesisir, ke daerah-daerah rawan missionaris, membawa semangat Islam yang mencerahkan, bukan menakutkan. Ia menyampaikan, bukan menggurui. Ia menuntun, bukan mencela.

Puluhan pelatihan ia jalani bukan demi sertifikat, tapi demi kemampuan melayani. Ia memimpin program pemberdayaan masyarakat lewat Seve the Children, OXFAM GB, dan lembaga-lembaga sosial lainnya.

Ia mendampingi nelayan pesisir, petani kecil, guru, imum mukim, dan anak-anak yatim yang ingin sekolah tapi tak punya biaya. Ia bergerak dari satu kabupaten ke kabupaten lain—bukan untuk mencari nama, tapi untuk mengangkat yang tak terlihat dan yang tak terdengar.

Kita sering mengenang orang besar karena perbuatan besar yang mereka lakukan. Kita maklum jika orang kecil luput dari catatan sejarah.

Namun bagaimana jika ada seseorang yang berbuat besar, punya kesempatan dan kapasitas untuk menjadi besar, tapi tak pernah sekalipun bernafsu mengejar kebesaran itu?

Apa gelar yang cocok untuk manusia seperti itu? Mungkin dia adalah “Orang Besar yang Memilih Menepi.”Atau “Pejuang Tak Bernama Besar.” Atau mungkin, “Cahaya di Bawah Cahaya.”

Ya, ia ada. Ia nyata. Ia di Aceh. Dan sangat mungkin hanya sedikit sekali orang yang dipilih oleh waktu untuk menjadi seperti dia, Bismi Syamaun. Mungkin ia adalah orang yang berpeluang besar terakhir yang menolak untuk menjadi besar.

Hingga pada Sabtu yang sunyi, 23 Agustus 2025, sekitar waktu fajar, Bismi Syamaun kembali memulai harinya seperti biasa—dengan langkah menuju masjid. Berangkat dari rumahnya di Meunasah Papeun, mengendarai sepeda motor Honda Astrea Impressa, hendak menunaikan salat Subuh di Masjid Oman Al-Makmur, Banda Aceh.

Namun, takdir berkata lain. Ketika melewati depan Kantor Gubernur Aceh, tepatnya berhadapan dengan Balai Meuseraya, mendekati jembatan menuju masjid yang ditujunya, sebuah kendaraan datang dari arah yang tidak diketahui dan menabraknya dengan keji—lalu melarikan diri.

Ia dilarikan ke UGD Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA). Namun, pukul 08.30 WIB, Bismi Syamaun dinyatakan wafat.

Perginya dalam perjalanan menuju rumah Allah. Ia dipanggil saat melangkah untuk ibadah, bukan dalam kemewahan, tapi dalam kesetiaan pada rutinitas yang tampaknya kecil, tetapi sangat agung.

Bismi Syamaun adalah satu dari sedikit orang yang membuktikan bahwa hidup bisa dijalani dengan bersih.Bahwa keikhlasan bisa menjadi arah. Bahwa agama bukan alat kuasa, tapi sarana cinta. Bahwa berpihak kepada yang miskin bukan pilihan politik, melainkan kewajiban nurani.

Ia pernah memimpin 123 fasilitator mukim untuk pemberdayaan masyarakat. Ia mengelola microfinance untuk pengusaha kecil. Ia mendirikan Yayasan Ar-Rabwah An-Najiyah yang menyekolahkan anak yatim dan fakir miskin secara gratis dari SD hingga SLTA. Ia menjadi penyambung harapan di tempat-tempat yang dilupakan.

Saya telah menempuh perjalanan panjang dalam mencari ilmu—mengikuti kuliah, pelatihan, seminar, dan lokakarya, baik di dalam negeri maupun di berbagai penjuru dunia. Namun ada beberapa pelajaran penting yang tak pernah saya temukan di ruang-ruang akademik itu.

Justru, saya menemukannya setiap kali bertemu, bekerja, dan berbicara dengan Bismi. Tentang keikhlasan yang tidak dipamerkan. Tentang integritas yang tidak digembar-gemborkan. Tentang prinsip yang tak kaku, tapi juga tidak mudah digoyahkan.Dan,tentang fleksibilitas yang tidak mengorbankan nilai.

Bismi, dalam kesunyian langkahnya, telah menjadi Guru Besar saya. Bukan karena gelar akademik—tapi karena karakter dan keteladanan. Dan pelajaran darinya akan terus hidup dalam kerja-kerja kecil saya yang tak sempurna, tapi terus belajar darinya.

Kini, ia telah tiada. Namun, kita tahu. Orang seperti Bismi tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di lembaga-lembaga yang masih bernafas karena idenya. Ia hidup di dada para santri yang ia biayai. Ia hidup di pantai-pantai Aceh Barat yang dulu ia kunjungi sebagai penyambung suara rakyat kecil. Ia hidup dalam setiap ingatan yang menyebutnya dengan satu kata, ikhlas.

Rahimahullah. Semoga Allah menyambutnya dengan cinta yang tak terbatas,sebagaimana ia mencintai sesamanya—dalam diam, dalam dalam, dalam dalamnya kasih.

Selamat jalan, Bismi Syamaun. Jejakmu tak akan hilang—karena engkau hidup bukan demi dikenang, tapi demi memberi makna. []

  • Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, dan sahabat almarhum Bismi Syamaun
Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Jelang Hardiknas, Kemenag Bireuen Gelar Serangkaian Kegiatan

Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2026, Kementerian Agama...

Mualem Hadiri Peluncuran InnoFood 2026: Dorong Petani Berdaya 

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, menghadiri peluncuran InnoFood 2026 yang digelar Himpunan Kerukunan...

Abdya Pecahkan Rekor MURI: Bakar 15 Ribu Lemang dan Sajikan 34 Ribu Tape di HUT ke-24

Perayaan HUT ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya diwarnai tradisi kuliner massal di bantaran Krueng...

Data JKA Dibenahi, Mualem Minta Sinkronisasi untuk Layanan Kesehatan Tepat Sasaran

Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, memimpin rapat koordinasi membahas perkembangan dan...

Mualem Terima Kunjungan Gubernur Jawa Tengah, Perkuat Sinergi Antar Daerah

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) didampingi Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir serta Asisten Pemerintahan,...

More like this

Jelang Hardiknas, Kemenag Bireuen Gelar Serangkaian Kegiatan

Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2026, Kementerian Agama...

Mualem Hadiri Peluncuran InnoFood 2026: Dorong Petani Berdaya 

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, menghadiri peluncuran InnoFood 2026 yang digelar Himpunan Kerukunan...

Abdya Pecahkan Rekor MURI: Bakar 15 Ribu Lemang dan Sajikan 34 Ribu Tape di HUT ke-24

Perayaan HUT ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya diwarnai tradisi kuliner massal di bantaran Krueng...