Buku berjudul Aceh 2025: Tantangan Masyarakat Sipil menjadi bahan diskusi seratusan mahasiswa di aula FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Sabtu (2/8/2025). Kegiatan SagoeTV Goes to Campus didukung Bandar Publishing, FKIP PPKN USK, dan anggota DPR RI Fraksi PKS, DR Nasir Djamil.
Buku terbitan Bandar Publishing tersebut merupakan kompilasi tulisan para akademisi dan aktivis di Aceh, memotret berbagai tantangan Organiasasi Masyarakat Sipil di Aceh sejak masa lalu, hingga saat ini. Beberapa penulis di antaranya Afrizal Tjoetra, Juanda Djamal, Reza Idria, Saiful Akmal, Sulaiman Tripa, dan lainnya.
Nasir Djamil hadir sebagai pembicara dalam diskusi, mengatakan acara itu sebagai upaya meningkatkan literasi di kalangan mahasiswa, mengenalkan buku dan membahas ide-ide para penulis di dalamnya. “Proses membaca adalah proses intelektual,” katanya.
Menurutnya, meningkatkan literasi selalu digaungkan negara, tetapi belum didukung penuh dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada penerbit buku, penulis dan lainnya. Misal, penyediaan anggaran penerbitan buku berkualitas, hingga pajak rendah untuk industri penerbitan.
Kendati demikian, penguatan literasi perlu terus didukung oleh berbagai elemen guna memenuhi hak masyarakat secara luas. “Literasi bukan aktivitas individual, tapi hak sosial,” kata Nasir Djamil.
Terkait materi buku, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS tersebut mengatakan buku Aceh 2025: Tantangan Masyarakat Sipil merupakan serpihan-serpihan pemikiran dari penulis. Diharapkan isinya dapat menjadi ide bagi mahasiswa untuk memperkaya pengetahuan, maupun melakukan kajian selanjutnya.
Nasir menyatakan dukungannya untuk kegiatan SagoeTV Goes to Campus mengelar diskusi buku ke kalangan mahasiswa. “Ke depan rencananya akan kita lakukan bersama di kampus-kampus di kabupaten, seperti di Lhokseumewe, Langsa, maupun di Aceh Barat,” katanya.
Diskusi ikut menghadirkan dua pembicara lainnya; DR. Budi Ariyanto, dan Prof. DR. Saiful Akmal yang juga salah seorang penulis buku. Dalam paparannya, Budi berbagi pengalaman membangun gerakan masyarakat sipil di masa konflik dan pascatsunami. Tantangan masyarakat sipil tentu berbeda di masa lalu dengan kini.
Sejak dulu hingga kini, eksistensi masyarakat sipil selalu dekat dengan masyarakat. “Sebagai penengah antara negara dan rakyat,” kata Akademisi USK itu.

Sementara Saiful Akmal membeberkan bagian tulisannya yang berjudul ‘Ruang Vacum OMS dalam Konfigurasi Politik Aceh’. Dulunya, konsolidasi OMS sangat kuat dalam mengawal demokrasi. Belakangan perannya mulai bergeser dari pemeran utama ke pemeran pembantu.
“Dipengaruhi berbagai faktor seperti kepentingan politik, kekosongan SDM hingga dukungan finansial,” katanya.
Tantangan yang dihadapi masyarakat sipil saat perlu dipikirkan bersama untuk penguatan kembali dengan berbagai inisiasi baru dan konsolidasi yang kuat. “Agar tidak semakin terperosok ke tahapan alih peran dari sosok figuran menjadi pemain cadangan dari proses sosial politik yang ada.”
Diskusi sepanjang dua jam berlangsung seru dengan pertanyaan bernas dari mahasiswa, dipandu dengan apik oleh jurnalis dan penulis, Adi Warsidi. Agenda tersebut disiarkan lewat youtube SagoeTV.
CEO SagoeTV, Mukhlisuddin Ilyas menyebutkan ini adalah agenda pertama SagoeTV Goes to Campus yang dipadukan dengan diskusi buku. “Upaya kami mengajak mahasiswa meningkatkan literasi, berbagi pengetahuan untuk mendukung proses belajar mengajar di lingkungan kampus.” []



