Penulis: Ali Mulyagusdin
Tim relawan dari Karst Aceh dan UKM PA Leuser Universitas Syiah Kuala (USK) bekerja membersihkan sumur warga dari lumpur bekas bencana di Pidie Jaya. Mereka mendapat banyak pelajaran tentang apa itu kemanusiaan yang sebenarnya.
Di tengah sisa lumpur dan bau sisa banjir yang masih menyengat di Meureudu, Pidie Jaya, kami datang untuk bekerja membersihkan sumur-sumur warga di Rhing Mancang, Manyang Cut, dan Manyang Lancok. Namun yang kami temui bukan sekadar tumpukan sampah atau air keruh, melainkan sebuah filosofi hidup yang tetap tegak: Peumulia Jamee.
Masih ada adat di atas puing. Bayangkan, rumah mereka rusak parah. Air bersih langka. Harta mungkin tersapu arus. Namun, saat kami datang membawa peralatan, warga menyambut kami seolah-olah kami adalah tamu di hari raya.
Ada yang dengan menyodorkan telur rebus, ada yang bersikeras menyeduh kopi meski dapur mereka masih berantakan, bahkan ada yang mencoba menyelipkan sedikit uang sebagai tanda terima kasih. Di mata mereka, kami bukan sekadar “pemberi bantuan”, kami adalah tamu yang harus dimuliakan.
Kami harus menolak halus tawaran-tawar tersebut. Menolaknya pun harus dengan seni; harus lembut, penuh hormat, dan tanpa kesan meremehkan. Karena di Aceh, menolak pemberian dengan kasar bisa lebih melukai daripada bencana itu sendiri. Kami harus menjaga martabat mereka, sebagaimana mereka menjaga kehormatan kami.
Di Aceh, bencana mungkin bisa meruntuhkan bangunan, tapi tak pernah benar-benar mampu merobohkan martabat.
Ketua Karst Aceh, Abdillah menyampaikan kegiatan ini bukan sekadar urusan air bersih. Silaturahmi terjalan antara warga dan relawan. “Di tengah kondisi rumah yang parah, mereka masih memuliakan tamu. Ini bukan sekadar keramahan, ini adalah identitas.”
Pesan ini menjadi pengingat bagi kami semua. Kerja kemanusiaan di Aceh tidak bisa hanya mengandalkan otot, logistik, atau teknologi saja. Jika kita datang dengan rasa “lebih tinggi” karena merasa sebagai penolong, maka kita gagal memahami Aceh.
Pemulihan sumur-sumur warga ini pada akhirnya bukan hanya soal memfungsikan kembali sanitasi. Ini adalah titik temu antara kepedulian lingkungan dan keteguhan budaya. Air yang kembali mengalir jernih adalah simbol pulihnya urat nadi kehidupan yang selaras dengan adat.
Pengalaman di Pidie Jaya ini adalah sekolah bagi kami. Pelajarannya jelas: Dalam kebencanaan, hubungan baik tidak boleh hilang. Warga terdampak bukanlah “objek bantuan” yang pasif, dan relawan bukanlah “pahlawan” yang maha tahu.
Keduanya adalah manusia yang sedang saling menjaga martabat. Kami menyumbang tenaga dan waktu, mereka menyumbang kehormatan dan keikhlasan yang luar biasa.
Bagi siapa pun yang ingin bergerak di tanah Aceh, datanglah dengan kerendahan hati. Bawalah peralatanmu, tapi jangan lupa bawa juga pemahaman budaya. Karena di sini, nilai kemanusiaan tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang kita beri, tapi dari seberapa besar kita menghormati mereka yang menerima.
Semoga sumur-sumur yang kami bersihkan tidak hanya memberikan air untuk raga, tapi juga terus mengalirkan semangat Peumulia Jamee yang tak kunjung padam. []
Penulis adalah Anggota Luar Biasa UKM PA Leuser USK. Tulisan disusun berdasarkan laporan lapangan Karst Aceh di Pidie Jaya.



