Di jalur sunyi yang membelah jajaran Bukit Barisan, jalan lintas antara Kota Subulussalam dan Kabupaten Pakpak Bharat menyimpan ironi panjang. Ia menghubungkan dua wilayah, namun juga berulang kali memisahkan banyak orang dari keluarganya.
Di satu sisi jalan, tebing berdiri kaku. Di sisi lain, jurang menganga dalam, tempat arus sungai Lae Kombih mengalir deras menuju hilir di Subulussalam. Jalan itu berkelok tajam, menurun panjang, dan nyaris tanpa pembatas. Sekali kehilangan kendali, kendaraan bisa langsung lenyap ke dasar jurang.
Senin malam, 31 Maret 2026, sekitar pukul 23.00 WIB, satu unit Toyota Kijang Innova warna silver dengan nomor polisi BK 1213 SP kembali menambah daftar panjang tragedi. Mobil itu terjun ke jurang di kawasan Sungai Lae Kombih. Gelap malam, tikungan tajam, dan minimnya pengaman jalan menjadi kombinasi yang terlalu sering berulang.
Kamis (2/4/2026), tim sar gabungan kembali menjejal arus deras sungai Lae Kombih. Sejumlah pos pemantauan didirikan BPBD dan warga yang secara sukarela di sepanjang aliran sungai Lae Kombih.
“Kemarin penyisiran dilakukan di tepian jurang, hari ini kita lanjutkan ngarung dari titik air terjun hingga ke sikelang,” ujar Ismail Anak Ampun, Kepala Desa Sikelang yang memimpin tim arung jeram Desa Sikelang.
Namun peristiwa ini bukan yang pertama. acehkini mencatat sejumlah peristiwa kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang terjadi di jalan lintas Sumatera tersebut.
Pada 23 April 2025, sebuah mobil Avanza yang mengiringi ambulans pembawa jenazah dari Simeulue jatuh ke jurang sedalam sekitar 70 meter di Dusun Lae Ikan. Dari rombongan itu, tiga orang penumpang dilaporkan hilang, sebuah perjalanan duka yang berakhir dengan duka yang lain.
Dua tahun sebelumnya, 28 Oktober 2023 malam, longsor di Desa Lae Ikan menyeret tiga orang ke jurang yang sama, termasuk seorang anggota polisi yang tengah mengatur lalu lintas. Tanah runtuh, jalan terputus, dan manusia tak berdaya di hadapan alam yang bergerak tiba-tiba.
Jika ditarik lebih jauh, tragedi serupa terus berulang. Pada 12 Desember 2021, sebuah Toyota Kijang Innova dengan tujuh penumpang terjun ke jurang sedalam 50 meter di kawasan Buluh Didi. Kendaraan itu datang dari arah Meulaboh menuju Medan, sempat singgah di Subulussalam, sebelum akhirnya tak pernah benar-benar sampai.
Bahkan lebih lama lagi, 12 Mei 2013, mobil penumpang L-300 milik CV DR Himpak jatuh ke jurang di kawasan Kedabuhen. Tujuh penumpang dilaporkan hilang. Sebagian tak pernah ditemukan.
Setiap kecelakaan di jalur ini hampir selalu diikuti cerita yang sama, pencarian yang sulit. Dinding jurang yang curam membuat tim penyelamat nyaris tak memiliki pijakan.
Di bawahnya, aliran Sungai Lae Kombih yang deras dan sempit kerap menghambat proses evakuasi. Waktu menjadi musuh. Harapan seringkali bergantung pada keberuntungan.
Bagi keluarga korban, menunggu kabar adalah siksaan yang tak terukur antara berharap ditemukan, atau bersiap menerima kenyataan.
Jalan Negara dan Nasib Daerah
Wali Kota Subulussalam, Haji Rasyid Bancin, berujar tragedi yang terus berulang ini tidak bisa lagi dianggap sebagai insiden biasa. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Kota Subulussalam dan Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat untuk mencari solusi konkret.
Menurutnya, jalan lintas nasional tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
“Ini jalan negara, menghubungkan dua wilayah penting. Tapi sampai hari ini, belum ada pengamanan yang memadai,” ujarnya kepada acehkini, Rabu (1/4/2026).
Pemerintah Kota Subulussalam, kata dia, telah berulang kali mengusulkan pembangunan pengamanan jalan. mulai dari era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga pemerintahan saat ini. Namun, upaya tersebut belum juga membuahkan hasil nyata di lapangan.
Menunggu yang Tak Kunjung Datang
Di sepanjang jalan itu, tak ada pagar pembatas yang benar-benar melindungi. Tak ada penerangan yang cukup untuk menuntun pengemudi di malam hari. Yang ada hanya tanda-tanda bahaya yang sering kali terlambat disadari.
Setiap tikungan menyimpan risiko. Setiap perjalanan mengandung kemungkinan terburuk. Dan di tepian jurang sungai Lae Kombih, cerita-cerita itu terus bertambah pelan, namun pasti.
“Jalan lintas itu masih dilalui, masih digunakan. Namun selama pengaman tak kunjung hadir, ia akan tetap menjadi lebih dari sekadar jalan,” ungkap Jul Berutu, sukarelawan Lae Kombih Kita yang selalu ikut dalam operasi pencarian yang terjadi di wilayah tersebut.[]



