Jauh sebelum penjelajah Eropa menggunakan kapal mereka untuk berlayar atau armada darat untuk menaklukan, para tokoh Muslim sudah melakukannya terlebih dahulu. Ekpedisi yang dipimpin oleh mereka ini umumnya mempunyai misi perdagangan, pertukaran budaya dan hubungan diplomatik.
Ekspedisi ini berpengaruh sangat besar dalam menghubungkan peradaban dunia, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Berikut beberapa pelancong Muslim masyhur yang pernah tercatat sejarah.
Zheng He atau Cheng Ho
Zheng He atau Ma He (1371- 1433) yang lebih dikenal dengan nama Cheng Ho merupakan laksamana, penjelajah dan diplomat dari Dinasti Ming (China). Ia lahir di Yunnan dari keluarga terpandang suku muslim, Hui. Ayahnya dikenal dengan nama Haji Ma. Ma merupakan nama Muhammad dalam versi Tiongkok. Ayah dan kakeknya sangat dihormati dan mereka juga melakukan perjalanan haji ke Mekah. Ma He kecil dididik dengan membaca banyak buku cendikiawan dan mementingkan pendidikan. menjadikannya tertarik tentang dunia sejak dini, terlebih tentang Mekkah dan haji, ia sering bertanya pada ayah dan kakeknya perjalanan ke sana.
Pada tahun 1381 ketika Yunnan ditaklukan Dinasti Ming, Ia seperti banyak anak lainnya, ditangkap dan dibawa ke istana untuk mengabdi. Kaisar saat itu melihat potensinya dan memberi pelatihan militer. Bakatnya yang cemerlang dengan segera membuatnya menjadi penasehat terpercaya bagi Kaisar. Saat bertugas ia dipernah dipercayakan menjadi pengawal pribadi putra mahkota Zhu Di dalam banyak pertempuran melawan Mongol. Hal ini membuatnya setelah sekian lama mengabdi di istana diangkat menjadi Kasim Agung ketika Zhu Di menjadi Kaisar Ming. Karena posisinya ini Ia mendapatkan nama gelar “Zheng”. Karena tanggung jawab atas Pembangunan dan perbaikan istana, Ia mempelajari lebih lanjut tentang persenjataan, konstruksi kapal dan ilmu lainnya.
Pada tahun 1403, Kaisar Zhu Di memerintahkan pembentukan armada kapal dagang, kapal perang dan kapal pendukung lainnya unyuk ekspedisi melintasi Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Zheng He dipilih untuk memimpin pasukan ini dan menjadi duta besar resmi istana dalam memperkenalkan Dinasti Ming kepada dunia. Expedisi ini kemudian yang menjadi titik baliknya dalam karir maritim dan pelayaran. Jumlah armada yang dipimpinnya merupakan terbesar yang dilihat dunia selama lima abad berikutnya, mencakup 28.000 pelaut di 300 kapal.
Kapal-kapal ini mengankut kuda, membawa 20 kapal tangker untuk persediaan air tawar. Di antara awak kapal termasuk para penerjemah yang bisa menguasai bahasa Arab dan lainnya, ahli astronomi untuk membaca arah mata angin, membaca cuaca, mempelajari bintang-bintang. Ahli obat-obatan, spesialis perbaikan kapal, dokter dan petugas protokoler yang mengatur acara diplomatic resmi.
Kapal-kapal ini dengan mudah menuju Afrika dan Tanjung Harapan, karena mereka menyukai barang-barang yang diperdagangkan disana, Seperti gading, obat-obatan, rempah dan beragam kayu. Pada masa ini Tiongkok dan India merupakan penguasa lebih dari separuh produk perdagangan. Keahliannya kemudian membawa rombongan yang dipimpinnya melakukan tujuh kali ekspedisi maritim besar yang berlayar melalui Asia Tenggara, India, Asia Barat (Jazirah Arab) dan Afrika Timur antara tahun 1405 dan 1433.
Pada banyak persinggahan yang dilakukan, mereka melakukan perdagangan rempah-rempah dan barang-barang lainnya, serta mengunjungi istana kerajaan dan membangun hubungan atas nama kaisar Tiongkok. Ia bahkan sempat singgah di Aceh ditengah penjelajahan. Catatan sejarah menyebutkan Ia sampai ke Samudra Pasai pada masa pemerintahan Ratu Nahrasiyah. Selama kunjungannya, Ia mempersembahkan sebuah lonceng ritual besar bernama Lonceng Cakra Donya sebagai hadiah dari Kaisar Ming. Pasai sebagai Pelabuhan yang strategis digunakan persinggahan logistik dan basis gudang (guanchang) utama. Pelabuhan ini merupakan gerbang utara yang vital menuju Selat Malaka dan persinggahan utama terakhir sebelum menyeberangi Samudra Hindia.
Ahmad Ibn Fadlan
Ahmad Ibn Fadlan adalah seorang ahli fikih, penulis, penjelajah dan diplomat handal masa kesultanan Abbasyiah. Ia diutus oleh Sultan Al-Muqtadir pada tahun 921 untuk menemui raja Volga Bulgars (Sekarang wilayah Rusia) bernama Almış (Almas) iltäbär yang merupakan pemimpin muslim pertama kerajaan tersebut. Sepanjang perjalanan sebagai bagian dari misi diplomatiknya, Ahmad Ibn Fadlan mencatat secara terperinci semua yang dilewati dan dialaminya selama perjalanannya, menggambarkan seakurat mungkin kebiasaan berbagai bangsa yang ditemuinya dalam penugasan tersebut. Karya ini kemudian dikenal dengan nama Al-Risala.
Ibn Fadlan berada dalam rombongan yang dipimpin oleh Susan al-Rassi, seorang penasehat di istana Bagdad. Ia menjabat sebagai penasihat hukum agama Islam. Tujuan misi ini untuk menjelaskan hukum Islam kepada orang-orang Bulgar yang baru memeluk Islam yang tinggal di tepi timur Sungai Volga.
Karavan dari rombongan ini melalui rute yang telah ada sebelumnya menuju Bukhara (Uzbekistan). Dari situ alih-alih mengambil rute melalui timur yang relative singkat, mereka memilih jalur berbeluk keutara ke area yang sekarang menjadi wilayah Iran. Perjalanan ini kemudian melewati Gurgang, Laut Kaspia, wilayah yang ditempat oleh orang-orang Turkik sepanjang Pecheneng dan Bashkir (Bagian Rusia). Daerah ini dihuni oleh bangsa Rus atau Varangian (Vaking) yang menguasai jalur perdagangan di sana.
Karya Ibn Fadlan merupakan tulisa pertama tentang Viking dan adat istiadat, serta dampak yang mereka berikan di Eropa dan Asia. Bahkan termasuk proses pemakaman kapal yang menjadi kebiasaan setempat. Catatannya ini telah memberikan pandangan dan deskripsi rinci tentang masyarakat Viking. Pendekatan Ibn Fadlan adalah kekaguman dan rasa ingin tahu yang ditulis apa adanya selaku ahli fikih yang jujur.
Kisah yang ditulis dalam Al Rislaa kemudian juga menginspirasi Michael Crinhton menulis novel Eaters of the Dead. Novel ini kemudian diadaptasi menjadi film pada tahun 1999 berjudul The 13th Warrior dan tokoh ibn Fadlan diperankan oleh Antonio Banderas.
Sidi Ali Reis
Sidi Ali Reis (1498-1563) merupakan laksamana dan navigator perang dari kesultanan Turki Usmani. Karena prestasinya memenagkan pertempuran, oleh sultan Ia diangkat menjadi panglima armada laut di Samudra Hindia. Hal ini membuatnya beberapa kali menghadapi dan bertempur dengan pasukan Portugis yang saat itu sudah berhasil menduduki Goa, India pada tahun 1554. Sidi bahkan berhasil menyatukan beberapa dinasti Islam di sepanjang laut Arab (Kesultanan Makran, Gujarat dan Adal) Bersatu melawan portugis di Samudra Hindia.
Perjalanannya dimulai karena suatu peristiwa badai. Setelah memenangkan pertempuran didekat teluk Persia dan laut Persia dalam perjalanan pulang keposnya menuju Yaman, mereka dihadang oleh “Fil Toofani” atau “Topan Gajah” dan dibawa kesekitar Sind (Sekarang wilayah Pakistan). Setelah diamuk selama 10 hari, kapal mereka mereka nyaris masuk dalam pusaran air besar, hampir tidak ada yang selamat jika terlempar kesana. beruntungnya kapalnya secara tidak sengaja mendarat di pantai Gujarat India pada tahun 1554 M. Saat itu Gujarat tengah dilanda kekacauan akibat perang saudara.
Sultan Gujarat Ahmed Shah III (1554 – 1561 M) dan pemimpin pemberontak, Nasir-ul-Mulk bersiteru, Ahmed Shah meminta bantuan Seydi, dan ia meminjamkan 200 penembak dan prajurit infanteri Ottoman kepadanya. Karena itu Ia kemudian diundang ke Ahmedabad sebagai tamu dengan perjalanan melewati Surat. Sebenarnya Ia ingin segera membawa prajuritnya kembali ke Turki Usmani namun keadaan tidak memungkinkan. Selain semua perbekalan habis, kapal yang rusak, Portugis juga sudah mengetahui berita terdamparnya kapal mereka. Portugis ingin menangkapnya sebagai rampasan perang. Kepulangan lewat laut menjadi sangat sulit dilakukan.
Setelah memastikan persiapan perjalanan mereka cukup setelah dijamu di Ahmedabad, Ia dan kafilahnya mulai berpergian jalan darat menuju ibu kota Turki Usmani untuk melapor. Selama setahun kemudian ia bekelana ke Delhi, Lahore hingga Kabul, Bukhara, Khiva (Kawasan Iran), Khwarezm, Khorasan, Iraq dan Anatolia. Melewati beberapa dinasti Islam, menuju perbatasan berharap mendapatkan persetujuaan itu lewat. Ia sampai d Constantinople, pada tahun 1556 M. Setelah melakukan perjalanan dua tahun dan 3 bulan yang dimulai dari Surat, Gujarat.
Ia bertemu Sultan Suleiman di Edirne (Adrianople-Turki). Sidi menyerahkan dokumen dari 18 penguasa tempat-tempat yang dilewatinya selama perjalanan. Sultan Suleiman menerimanya dengan sangat baik dan mengangkatnya ke jabatan Muteferrika (Pejabat khusus yang mendampingi sultan).
Sidi menulis perjalananya yang penuh drama dalam karya yang berjudul Mir’ât ül Memâlik (Cermin Negara-Negara) yang menggambarkan negeri-negeri yang dilihatnya dalam perjalanan pulang dari India ke Konstantinopel.
Ia juga menulis Mir’ât-ı Kâinât (Cermin Alam Semesta) dan Kitâb ül Muhit: El Muhit fî İlmi’l Eflâk ve’l Buhûr (Buku Lautan Regional dan Ilmu Astronomi dan Navigasi) yang berisi informasi tentang teknik navigasi, metode penentuan arah, perhitungan waktu, penggunaan kompas, informasi tentang bintang, kalender matahari dan bulan, arus angin dan laut, serta informasi portolan mengenai pelabuhan, dermaga, pemukiman pesisir, dan pulau-pulau di berbagai wilayah Kekaisaran Turki Usmani. Sungguh penjelajahan yang menakjubkan, yang terjadi karena kebetulan.
Sa’id of Mogadishu
Saíd dari Mogadishu, hampir tidak pernah terdengar kisahnya di antara penjelajah dunia. Padahal Ia termasuk orang Afrika pertama yang berkenala di Tiongkok dan membuat peta serta mengajari pelaut dari Dinasti Yuan sehingga bisa berlayar sampai ke Afrika. Namanya pernah dicoba dihapus dalam sejarah karena penjajahan orang-orang Eropa di Afrika.
Said lahir di Mogadishu pada 1301. Pada usia belia ia melakukan perjalanan ke Mekah dan Madinah dan tinggal disana selama 28 tahun sambil belajar berbagai ilmu pengetahuan. Keberadaannya sana dalam waktu yang lama membuat Said kenal dengan baik para pejabat kota dan belajar dari pengalaman mereka dan mendengar banyak cerita dunia di luar Jazirah Arab.
Ia kemudian berkelana kesultanan Islam, Bengal hingga China. Kemampuannya berbicara dalam bahasa Arab, Somalia dan China membuatnya diperbantukan dalam istana oleh Kaisar Dinasti Yuan. Ia bukan hanya penjelajah namun juga diplomat ulung penghubung dua wilayah perdagangan nan makmur. Ia menjadi orang Afrika pertama yang sampai ke China yang tercatat pada tahun 1338. Said mempersembahkan peta terperinci tentang angin yang membantu perdagangan di Samudra Hindia. Sehingga kapal-kapan Dinasti Yuan bisa berlabuh di sana. Hal ini membuat Kaisar memberikan sebuah penghormatan sebuah stempel giok yang biasanya diberikan kepada sarjana istana.
Kabarnya saat beristirahat di salah satu masjid di India dalam perjalanan pulang dari China, Dia sempat bertemu dengan Ibnu Batutah salah seorang penjelajah lainnya dan berbagi cerita. Kabarnya hal ini yang membuat Ibnu Batutah juga berlayar ke Tiongkok. Kisah kegemilangan Said berhenti 160 tahun kemudian ketika penjajahan Portugis membakar perpustakaan Mogadishu dan mengambil peta kemudian menghapus jejaknya. Para navigator Portugis seperti Vasco da Gama menggunakan peta dari Somalia ini untuk mencari rute perdagangan di Samudra Hindia dan menyalin desain Kompas milik Said.[]


