Aktivis Aceh, Ridwan Husein, mengingatkan seluruh elemen masyarakat Aceh agar tidak melupakan sejarah panjang perjuangan dan mahalnya harga sebuah perdamaian di Aceh.
Menurut Ridwan, sejarah Aceh mencatat berbagai upaya untuk menghentikan konflik dan pertumpahan darah. Salah satunya adalah Ikrar Lamteh 1957, yang kemudian puluhan tahun setelahnya Aceh kembali menemukan jalan damai melalui MoU Helsinki 2005.
“Dua peristiwa berbeda zaman, tetapi memiliki satu pesan yang sama: perang tidak pernah meninggalkan kemenangan bagi rakyat. Yang tersisa adalah air mata, kehilangan dan luka,” kata Ridwan Husein, Sabtu (15/8/2026).
Ia menilai, perdamaian Aceh tidak seharusnya dipandang hanya sebagai dokumen yang dibaca ketika dibutuhkan, kemudian dilupakan ketika kepentingan politik mengalami perubahan. Perdamaian, menurutnya, harus menjadi komitmen bersama yang terus dijaga lintas generasi.
Ridwan mengatakan, pengalaman Lamteh memberikan pelajaran mengenai pentingnya menghentikan pertumpahan darah. Sementara itu, MoU Helsinki memberikan pelajaran bahwa setelah perang berhenti, tantangan berikutnya adalah menjaga kesepakatan dan memastikan perdamaian memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
“Jangan jadikan perdamaian sebagai panggung untuk menari di atas penderitaan rakyat. Jangan pula membuka kembali luka lama hanya karena kepentingan politik sesaat,” ujarnya.
Ia menambahkan, perdamaian Aceh bukanlah milik pemerintah, kelompok tertentu maupun elite politik, melainkan merupakan milik seluruh rakyat Aceh yang selama bertahun-tahun merasakan dampak konflik.
“Perdamaian adalah milik rakyat. Karena itu, amanah perdamaian harus dijaga, bukan ditawar-tawar demi kepentingan sesaat,” katanya.
Ridwan berharap generasi saat ini mampu mengambil pelajaran dari sejarah dan tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Menurutnya, darah dan penderitaan rakyat Aceh yang telah menjadi harga mahal untuk mencapai perdamaian harus menjadi pelajaran bagi semua pihak.
“Dari Lamteh ke Helsinki, sejarah telah membayar mahal. Jangan biarkan generasi hari ini membayar untuk kesalahan yang sama,” ujar Ridwan Husein.


