HomeNewsKhasMeugang Ramadan dan Nilai-nilai

Meugang Ramadan dan Nilai-nilai

Published on

Lapak dadakan penjual daging sapi bertebaran di dekat-dekat pasar, dan pinggir jalan seluruh Aceh. Warga ramai-ramai membeli, meracik berbagai menu masakan khas Aceh di rumah. Meugang sedang berlangsung, sebuah tradisi sambut Ramadan sejak masa silam.

“Berapa sekilo?” saya bertanya pada seorang penjual daging di pasar Ulee Kareng, Banda Aceh.

“Seratus delapan puluh ribu,” katanya singkat sambil melayani para pembeli.

Dua hari lalu, harga daging masih Rp150 ribu per kilogram. Harga mahal bukan soalan. Daging tetap laris manis, juga bumbu dapur dan aneka sayur-mayur.

“Mahal disbanding hari biasanya, tapi yang namanya tradisi tetap harus dirayakan untuk menyambut bulan puasa,” kata Rusdi, seorang pembeli.

Warga Aceh Besar ini mengaku kebiasaan ini telah dijalankan bertahun-tahun. Dia  mengenal meugang sejak kecil. Diakuinya, daging yang dibeli akan diolah oleh ibu dan istrinya dengan masakan ragam rupa,

Dari rendang, masak puteh, sampai sie reboh yang khas. “Biasanya (masakan) akan bertahan sampai hari ketiga Ramadan,” jelasnya.

Meugang adalah tradisi mengonsumsi daging lebih banyak untuk menyambut Ramadan dan hari raya. Biasanya dirayakan dua hari. Keunikan yang hanya ada di Aceh.

Meugang Sarat Nilai

Meugang tak hanya tradisi memakan daging untuk memuaskan rasa kenyang sahaja. Kepada penulis, Pemerhati adat budaya Aceh, Tarmizi A Hamid pernah menyampaikan meugang mengandung pesan silaturahmi dan tanggung jawab.

Misalnya, ada kewajiban tak tertulis untuk laki-laki yang baru menikah untuk membeli daging bagi keluarga istrinya. Bahkan dulunya, pengantin laki-laki mempunyai kebanggan sendiri jika membawa pulang kepala sapi dan kerbau ke rumah saat merayakan meugang.

“Bagi pria baru menikah, akan jadi aib kalau meugang tak membawa pulang daging ke rumah mertuanya,” jelas Tarmizi, juga kolektor naskah kuno Aceh.

Masyarakat Aceh selalu memperingati meugang dengan sukacita. Biasanya dilakukan selama dua hari menjelang Ramadan. Oleh warga, sering menyebutnya sebagai meugang ubit (kecil) di hari pertama, dan meugang rayeuk (besar) pada satu hari menjelang Ramadan, maupun hari raya.

Semasa hidupnya, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Tgk Badruzzaman kepada penulis, pernah membagi pengetahuan tentang pentingnya meugang sebagai tradisi. Dia menjelaskan, tradisi ini pertama sekali diperingati pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa dalam periode tahun 1607-1636. Tradisi ini tercatat dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kesultanan Aceh.

Dalam regulasi itu, meugang juga disebut madmeugang, dengan kata lain meuramien (makan bersama) menjelang Ramadan maupun Idulfitri, dan Iduladha. Bunyi aturan meugang dalam Qanun Meukuta Alam tercantum pada Bab II, pasal 47, dengan bunyi sebagai berikut:

“Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua’zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi, untuk mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong di hari madmeugang. Maka dibagi-bagikan daging kepada fakir miskin, dhuafa, orang lasa, buta, yaitu pada setiap-tiap satu orang meliputi; daging, uang lima mas dan dapat kain enam hasta. Maka pada sekalian yang tersebut diserahkan kepada keuchik-nya masing-masing gampong daerahnya. Sebab sekalian semua mereka tersebut itu hidup melarat lagi tiada mampu membelikannya, maka itulah sebab Sultan Aceh memberi tolongnya kepada rakyat yang selalu dicintai.”

Perintah merayakan meugang awalnya dimaklumatkan sultan kepada keuchik (kepala desa) untuk mendata warga miskin. Daging kemudian dibagikan kepada mereka secara gratis, sebagai wujud kemakmuran. “Meugang juga memiliki makna menguatkan silaturrahmi, sekaligus wujud kegembiraan menyambut bulan suci,” sebutnya.

Meugang tak hanya soal makanan, tapi juga membangkitkan hidupnya sektor ekonomi. Peternak dapat menjual sapi, kerbaunya dengan harga yang baik, membuat pedagang bergairah. Selain daging, bumbu dan bahan masakan juga akan laku keras di hari itu. Transaksi ekonomi berjalan sampai lebaran.

Di pedesaan yang adatnya masih kuat, orangtua akan melarang anak-anaknya bermain ke rumah tetangga atau sekolah pada hari meugang. Mereka wajib makan di rumah, karena begitulah cara merayakannya.

Meugang dulu, kata Badruzzaman, sedikit berbeda dengan sekarang. Saat teknologi belum maju, amaran memasuki Ramadan disampaikan oleh pemuka agama sambil menyerukan warga menjalankan tradisi meugang.

“Saat saya masih muda, untuk menandakan masuknya bulan puasa, berarti ada meugang sehari sebelumnya. Artinya, meugang hanya sehari, besoknya langsung puasa,” katanya. Saat ini, meugang umumnya dilakukan selama dua hari menjelang Ramadan.

Tradisi itu juga membangun silaturrahmi, sosial, dan kebersamaan. Salah satunya, dulu dikenal meubleem atau meuripee, yang dilakukan beberapa bulan sebelum Ramadan. Ini sebuah cara mengumpulkan uang sedikit demi sedikit secara bersama-sama untuk digunakan membeli sapi atau kerbau, disembelih di hari meugang.

Dagingnya selain dibagikan kepada orang yang menyumbang, juga disisihkan untuk fakir dan miskin di desa atau lingkungan masing-masing.

“Hingga orang miskin tak perlu membeli daging. Kebiasaan ini mulai bergeser sekarang, membuat orang miskin pun terpaksa membeli daging walau harus mengutang,” katanya.

Kata Badruzzaman, jika meubleem masih dipertahankan hingga kini dalam tradisi meugang, maka akan mampu menjaga stabilnya harga daging. “Karena orang tak sudah mempersiapkan sapi atau kerbaunya sendiri, tak perlu membeli daging di pasaran. Yang membeli daging, hanya sebagian orang yang tak meuripee di kota-kota,” katanya.

Satu lagi nilai yang bergeser dari meugang di Aceh. “Dulu pasar tidak mengambil laba banyak saat tradisi meugang, nilai sosialnya lebih tinggi, sekarang nilai ekonominya yang lebih banyak,” kisah Badruzzaman.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan. []

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Kak Na Gelar Open House Iduladha Perdana di Pedalaman Aceh Barat, Serap Aspirasi Warga

Suasana Iduladha di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, terasa berbeda tahun ini....

Muslim Aid dan YKMI Salurkan 19 Sapi Qurban untuk 2.769 Warga Rentan di Aceh Timur

Muslim Aid bersama Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia (YKMI) menyalurkan 19 ekor sapi qurban kepada...

Sekda Aceh Minta SKPA Percepat Realisasi Anggaran, Serapan APBA 2026 Capai Rp3,5 T

Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, meminta seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) mempercepat...

Ribuan Jamaah Salat Iduladha di Masjid Raya Baiturrahman, Khutbah Disampaikan Abi Anwar Kuta Krueng

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, melaksanakan Salat Iduladha 1447 Hijriah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan...

Museum Tsunami Aceh Luncurkan Pameran “Tsunami: Jejak Ingatan, Dari Hikayat ke Metadata”

Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Tsunami Aceh resmi membuka pameran temporer terbaru bertajuk...

More like this

Kak Na Gelar Open House Iduladha Perdana di Pedalaman Aceh Barat, Serap Aspirasi Warga

Suasana Iduladha di Gampong Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, terasa berbeda tahun ini....

Muslim Aid dan YKMI Salurkan 19 Sapi Qurban untuk 2.769 Warga Rentan di Aceh Timur

Muslim Aid bersama Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia (YKMI) menyalurkan 19 ekor sapi qurban kepada...

Sekda Aceh Minta SKPA Percepat Realisasi Anggaran, Serapan APBA 2026 Capai Rp3,5 T

Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, meminta seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) mempercepat...