Langit masih menggelayut kelabu ketika Marlina dan rombongan kecilnya tiba di kaki Bukit Siron, gugusan perbukitan di Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Sabtu lalu. Perbukitan ini diselimuti hamparan sabana. Aliran sungai berbatu meliuk di bawahnya.
Marlina adalah istri Muzakir Manaf, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka yang dalam hitungan hari akan dilantik sebagai gubernur Aceh. Memasuki pegunungan bukan perkara baru bagi Marlina.
Sebab, ia semasa konflik dulu menemani perjuangan suaminya berperang di hutan Aceh.
Perempuan kelahiran Aceh Utara, 7 Agustus 1978, ini bertahun-tahun bersama suami, berpindah dari satu hutan ke hutan lain. Karena itu, ia akrab dengan belantara.

Saat petang mulai merambat turun, tenda-tenda telah berdiri berjajar di tepi Krueng Batee Meuasah, salah satu anak sungai yang mengalir di kaki Bukit Siron. Di bawah gubuk panggung, Marlina duduk bersama rombongan.
Ia menunaikan salat Magrib, lalu menikmati makan malam dengan sepiring kari kambing yang dimasak langsung di lokasi oleh Bang Jack. Lelaki asal Banda Aceh ini telah lama menjadi penghubung bagi orang yang hendak ke Siron.
“Saya ingin lebih banyak orang mengenal Siron,” ujar Marlina. “Tempat-tempat seperti ini memiliki makna tersendiri bagi saya.”
Malam itu, ia bercerita bagaimana bertahan dalam pengepungan hingga menghabiskan bulan Ramadan di hutan. Meski bercerita soal perang, wajah Marlina terus memancarkan senyum.
“Pernah suatu Magrib di Simpang Rambong, tentara menyerang tempat kami tinggal,” katanya.
“Mereka menembakkan tank dan menumbangkan pohon-pohon. Ibu saya marah besar,” kenang Marlina.
Sementara Bang Jack bercerita bahwa sering menjelajahi Siron dengan motor trail. Ia turut mengembangkan kawasan ini jadi destinasi wisata. Dengan banyaknya wisatawan yang datang, masyarakat mulai beralih dari sebagian mereka yang menebang pohon.
“Masyarakat di sini sudah teredukasi tentang kesadaran menjaga hutan,” ujar Bang Jack. “Hutan ini sudah ada sebelum kita, dan harus tetap ada untuk anak cucu nanti.”
Marlina mengangguk. Ia membandingkan bukit Siron dengan pegunungan Swiss yang ia kunjungi beberapa tahun lalu.
“Perbukitannya sangat indah, sama indahnya seperti Siron. Tapi bedanya, mereka benar-benar menjaganya. Tidak ada pohon yang ditebang sembarangan, tidak ada sungai yang kotor, tidak ada sampah berserakan. Saya ingin Aceh belajar dari itu,” katanya.
Belakangan Bahagia, keuchik Siron Krueng, turut meriung. Ia menyebut warga desanya sudah membangun kesadaran merawat lokasi itu.
Bahagia menjelaskan potensi besar sektor pertanian yang dimiliki desanya. Namun, masih banyak kendala yang muncul.
“Kami di sini butuh dukungan sektor pertanian. Sawah-sawah kami masih mengandalkan air hujan. Padahal ada waduk besar yang dibangun di kawasan kami. Tapi tidak ada irigasi yang mengairi sawah,” kata Bahagia.

Saat fajar merekah, Marlina mendaki menuju puncak. Ia menyusuri jalur yang masih basah, sisa hujan semalam. Di puncak Siron, ia berdiri memandang hamparan sabana yang menghampar luas sejauh mata memandang.
Harapannya, Siron dan banyak tempat lain di Aceh akan tetap terjaga kelestariannya. Masyarakat akan lebih sadar akan pentingnya menjaga alam, dan bahwa suatu hari nanti Aceh tidak hanya dikenang karena sejarah perangnya, tapi juga karena keindahan dan kedamaiannya.[]


