BerandaOpiniSebuah Kenangan pada Mantan Tentara Pelajar, Asjik Ali

Sebuah Kenangan pada Mantan Tentara Pelajar, Asjik Ali

Published on

Innalillahi wainna Ilaihi rajiun, telah berpulang ke Rahmatullah tokoh Aceh Drs H. Muhammad Asjik Ali di Jakarta, Senin (1/5/2023) pukul 04.00 WIB. Jenazah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Berita duka itu menyebar cepat di kalangan masyarakat Aceh. Asjik Ali adalah mantan tentara pelajar saat mengusir penjajah Jepang dan mempertahankan kemerdekaan. Beliau kemudian menjadi pengusaha dan bermukim di Jakarta.

Saya (Munawar Liza) punya kenangan tentangnya. Bermula tahun 2007, setelah beberapa bulan dilantik menjadi Wali Kota Sabang, melakukan perjalanan ke Jakarta untuk sebuah acara. Setelah beberapa hari di sana, saya dihubungi oleh seorang tokoh Aceh di ibu kota, Sayyid Umar.

Beliau mengundang makan malam bersama di hotel Four Seasons, yang sebelumnya bernama Crown, yang beliau turut memilikinya. Makan malam itu, saat berjarah bagi saya. Sayyid Umar mengenalkan saya kepada tiga orang lainnya yang menjadi penasihat Gubernur Aceh untuk Kawasan Sabang.

Ada Adnan Ganto, seorang bankir terkemuka penasihat menteri pertahanan, Ibrahim Abdullah atau Utoh Hiem, alumni Amerika Serikat yang saat itu menjadi pembina Yayasan Universitas Nasional, dan Muhammad Asjik Ali, seorang pengusaha terkemuka pendiri bank simpan pinjam di Jakarta.

Pak Sayyid Umar dan kawan-kawan memberikan semangat kepada saya yang masih muda, untuk percaya diri dalam memegang amanah. Mereka berempat berjanji selalu bersedia memberikan nasihat terkait dengan pembangunan kawasan Sabang.

Selanjutnya, sepanjang pemerintahan kami memimpin Kota Sabang (2007-2012), keempat tokoh ini tidak pernah absen membantu dalam setiap kesempatan. Sayyid Umar bertemu terakhir di Kuala Lumpur (KL) sebelum berpulang ke rahmatullah. Kami ditraktir makan kari kambing di Pavilion KL.

Utoh Hiem, juga mengawal proses kerja sama antara BPKS dengan Dublin Port, selalu menjaga agar semua dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Sampai akhir hayatnya tetap membantu apa yang bisa untuk pengembangan kawasan Sabang, walaupun kemudian kerja sama dengan Dublin terhenti karena perkembangan politik di Irlandia.

Adnan Ganto, menjadi penasihat kemudian ketua dewan pengawas. Tidak henti-henti memberikan masukan dan pertimbangan dan berupaya menggaet investasi dari berbagai negara. Termasuk kerjasama dengan Damen Shipyards Group Belanda yang kemudian terhenti karena perubahan arah politik di Aceh.

Sementara Asjik Ali yang sudah sepuh, tidak bisa lagi berpergian ke Sabang, tetapi selalu berkomunikasi memberikan masukan untuk pengembangan ekonomi Aceh.

***

Asjik Ali (kiri) mantan tentara pelajar
Saat makan bersama di rumah Asjik Ali. Foto: dok. Munawar Liza

Muhammad Asjik Ali adalah putra Montasik, Lahir 15 April tahun 1930. Menjadi tentara pelajar yang bergerak bersama masyarakat mempertahankan kemerdekaan. Kemudian ke Jakarta bekerja di kementerian perdagangan. Membina karier sehingga menjadi pengusaha terpandang di ibu kota. Ikut mendirikan BPR di beberapa pasar di ibukota, hingga berkawan dan mengenal hampir dengan semua pengusaha besar di sana.

Pernah sewaktu pulang ke Aceh, saya diajak untuk melihat pesantren yang dibangunnya, Yayasan Tgk. Chiek Eumpee Awee. Selain penggiat ekonomi, beliau juga sangat perhatian dunia pendidikan.

Pada Desember 2022 lalu, saat ada ada tugas di Jakarta, saya dihubungi Pak Asjik Ali. Disampaikan kerinduannya kepada Aceh. Di ujung pembicaraan, beliau meminta kami berkunjung ke rumahnya.

Saya kemudian mengajak Iqbal Piyeung dan Mawardi Ismail berkunjung. Sesampai di sana, Pak Asjik bercerita banyak tentang kiprahnya bersama tentara pelajar. Saya sempat memotret foto di belakang tempat duduknya, gambar sekelompok pelajar yang memegang senjata yang direbut dari Jepang.

Cerita berlanjut tentang dirinya yang sudah mempersiapkan segala sesuatu karena umurnya yang sudah lebih 90 tahun. “Semua kawan saya pengusaha besar, setelah meninggal, anak-anaknya berebut harta. Saya tidak ingin anak-anak saya demikian,” demikian kisahnya.

Kemudian bercerita tentang yayasan pendidikan di Aceh, dia ingin dimajukan sehingga bisa membantu pendidikan anak yatim dan orang dhuafa. Terakhir kami diajak makan bersama. Dengan suasana ceria, Pak Asjik Ali juga berkisah tentang makanan yang sehat dan menjaga kesehatan.

Itulah pertemuan terakhir dengan beliau. Semoga Allah meluaskan kubur almarhum, diberikan tempat yang mulia bersama orang-orang yang saleh. []

Penulis: Munawar Liza Zainal
Mantan Wali Kota Sabang

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News



Artikel Terbaru

Jemaah Haji Aceh yang Wafat di Tanah Suci Jadi 15 Orang

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Husaini Bukhari (49 tahun), seorang jemaah haji asal Aceh...

58 Koleksi Kain Tradisional Dipamerkan di Museum Aceh

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Aceh menggelar pameran koleksi wastra (kain...

Operasi Patuh Seulawah, Polda Aceh Sasar 7 Pelanggaran Lalu Lintas

Kepolisian Daerah Aceh bakal menggelar Operasi Patuh Seulawah 2024 sepanjang dua pekan ini: 15-28...

Sekda Aceh Tinjau Venue PON XXI di Sabang

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Azwardi, meninjau pengerjaan venue Pekan Olahraga Nasional (PON)...

Nanang Indra Bakti Disambut Kalung Bunga di Polres Aceh Utara

Nanang Indra Bakti kini resmi menjabat Kepala Kepolisian Resor Aceh Utara. Berpangkat Ajun Komisaris...

More like this

Jemaah Haji Aceh yang Wafat di Tanah Suci Jadi 15 Orang

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Husaini Bukhari (49 tahun), seorang jemaah haji asal Aceh...

58 Koleksi Kain Tradisional Dipamerkan di Museum Aceh

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Aceh menggelar pameran koleksi wastra (kain...

Operasi Patuh Seulawah, Polda Aceh Sasar 7 Pelanggaran Lalu Lintas

Kepolisian Daerah Aceh bakal menggelar Operasi Patuh Seulawah 2024 sepanjang dua pekan ini: 15-28...