Senin, Maret 4, 2024
More
    BerandaOpiniMahasiswa Aceh Dulu dan Kini: Masih Adakah Kesadaran Historis?

    Mahasiswa Aceh Dulu dan Kini: Masih Adakah Kesadaran Historis?

    Published on

    Oleh Usman Hamid

    Saya sangat menyesalkan dan mengecam tindakan tidak manusiawi mahasiswa di Aceh terhadap para pengungsi Rohingya. Tindakan anti kemanusiaan itu harus dihentikan pihak berwajib.

    Yang mendorong mereka bertindak tidak manusiawi tampaknya ujaran kebencian dan disinformasi. Dan Mereka tidak jujur pada sejarahnya sendiri.

    Pada 1998, saya bersama @johnmuhammad_ dkk aktivis mahasiswa Trisakti dan aktivis berbagai kampus di Indonesia berkumpul di Aceh.

    Pengungsi Rohingya di Balai Meuseuraya Aceh. Foto: Suparta/acehkini

    Begitu banyak mahasiswa Aceh cerdas, memiliki visi perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan. Ada yang terinspirasi oleh kejayaan historis Aceh sebagai Bangsa besar.

    Ada yang karena banyak membaca buku-buku teologi dan etika pembebasan, atau tergerak oleh laporan hak asasi manusia ketika itu.

    Tidak sedikit mahasiswa yang kurang baca tapi memiliki kepekaan dan solidaritas kemanusiaan universal.

    Mahasiswa mengusir pengungsi Rohingya. Foto: Suparta/acehkini

    Ketika itu kami menyuarakan pencabutan status Daerah Operasi Militer di Aceh, hingga menggalang dana di Jakarta lalu menyalurkan bantuan untuk para pengungsi di sejumlah wilayah Aceh, bahkan menyuarakan referendum jika negara tidak lagi sanggup menyelesaikan konflik Aceh secara damai.

    Sebagian besar masalah orang Aceh ketika itu adalah masalah-masalah yang hari ini dihadapi oleh orang Rohingya hari ini—dengan skala beda, tapi pengalaman negatif diperlakukan kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat.

    Hari ini—di tengah gelombang kritik mahasiswa di negara ini yang resah akan kemunduran demokrasi dan hak asasi—tiba-tiba sejumlah mahasiswa di Aceh bertindak kasar terhadap orang Rohingya yang sedang mencari keselamatan—seolah mahasiswa di Aceh kini tidak lagi memiliki kesadaran historis akan penderitaannya di masa lalu.

    Pengungsi Rohingya dipindahkan secara paksa dari Balai Meuseuraya Aceh. Foto: Suparta/acehkini

    Mereka gagal paham soal sebab musabab orang Rohingya terdampar ke Aceh, lalu bertindak bagaikan robot-robot kosong etika.

    Saya teringat Mohammad Hatta:

    “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki.”

    Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia

    Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


    Artikel Terbaru

    Rekapitulasi Suara di Aceh Tamiang Sempat Ricuh, Ketua Bawaslu Korban Pemukulan

    Hari pertama pelaksanaan rekapitulasi suara Pemilu 2024 di Aceh Tamiang sempat mengalami kericuhan. Ketua...

    FJL Aceh: Banyak Sampah Plastik Internasional di Pantai Balu, Pulo Aceh

    Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh menemukan banyak sampah plastik dari berbagai negara mencemari pantai...

    Tokoh Partai Aceh Hasanuddin Sabon Meninggal Dunia

    Mantan Bendahara Umum Partai Aceh, Tgk Hasanuddin Sabon (54 tahun) meninggal dunia di Rumah...

    Dandhy Laksono Berkisah di Balik Dirty Vote saat Diskusi di AJI Banda Aceh

    Sutradara dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono berbagi kisah di balik layar film yang telah...

    APBA 2024 Belum Disetujui DPRA, Gubernur Aceh Terbitkan Pergub

    Anggaran Pendapatan dan Balanja Aceh (APBA) 2024 belum mendapatkan persetujuan bersama dari Pemerintah dan...

    More like this

    Rekapitulasi Suara di Aceh Tamiang Sempat Ricuh, Ketua Bawaslu Korban Pemukulan

    Hari pertama pelaksanaan rekapitulasi suara Pemilu 2024 di Aceh Tamiang sempat mengalami kericuhan. Ketua...

    FJL Aceh: Banyak Sampah Plastik Internasional di Pantai Balu, Pulo Aceh

    Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh menemukan banyak sampah plastik dari berbagai negara mencemari pantai...

    Tokoh Partai Aceh Hasanuddin Sabon Meninggal Dunia

    Mantan Bendahara Umum Partai Aceh, Tgk Hasanuddin Sabon (54 tahun) meninggal dunia di Rumah...