Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran menegaskan, tidak ada tempat bagi kelompok radikalisme dan separatisme di tanah air Indonesia. Termasuk di Provinsi Aceh.
“Keduanya bisa menjadi ancaman serius bagi keutuhan negara,” ujarnya di hadapan siswa-siswi dalam kegiatan komunikasi sosial di Gedung Jenderal Ahmad Yani Korem 011/Lilawangsa, Lhokseumawe, Kamis (20/11/2025).
Korem 011/Lilawangsa menggelar acara pembinaan komunikasi sosial yang adaptif dan sinergitas sebagai upaya mencegah tangkal radikalisme dan separatisme berguna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Peserta acara dari perwakilan pelajar masing-masing sekolah SMA, SMK, dan MAN dalam wilayah Kota Lhokseumawe. Kegiatan turut hadir Kepala Sekolah dan Dewan Guru serta Dinas Pendidikan Lhokseumawe.
Danrem Ali Imran menyebutkan, pemerintah melarang keras penggunaan bendera atau simbol separatis, dan itu tidak dibenarkan berkibar di Indonesia, termasuk di Aceh.
“Kenapa dilarang berkibar, dan tidak bisa jadi bendera itu, ada undang-undangnya. Sekarang siapa saja yang melanggar, perintah Kapolri harus ditangkap, apapun alasannya. Di Indonesia, yang boleh berkibar itu hanya satu bendera, yaitu Merah Putih,” tegas Danrem.
“Kita aja punya lambang satuan, itupun saat pembuatannya harus ajukan dulu ke pusat, setelah disahkan, baru boleh pergunakan pada saat acara tertentu. Termasuk bendera partai politik. Bendera Merah Putih itu salah satu lambang negara dan sakral,” kata Kol Ali Imran.
Danrem juga menyinggung maraknya kasus bullying masih menghantui di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, bullying di sekolah sejatinya adalah cerminan dari dua hal, bisa dari kegagalan sistem pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.
Kemudian, rendahnya literasi emosional di kalangan siswa tidak disiapkan secara sistematis oleh lembaga pendidik. Kedua faktor ini saling terkait dan tak bisa teratasi secara parsial.
Bullying secara kasat mata kadang tampak seperti ejekan, olokan dan guyonan biasa bagi anak-anak. Namun, malah bisa sebaliknya. “Jangan kira ini tidak menimbulkan dampak serius karena menutupi kasus perundungan demi menjaga citra institusi. Ini tidak boleh, kita pilih diam atau menutupi.”
“Akibatnya, banyak korban yang akhirnya memilih diam, menderita dalam sunyi, bahkan sayangnya, berdampak berhenti sekolah karena merasa tak berdaya,” ujar Danrem.
Danrem Ali Imran menambahkan, saat ini Presiden Prabowo bersama pemerintah sedang berupaya berjuang untuk mensejahterakan rakyatnya.
Perhatian presiden bukan hanya di Aceh, akan tetapi untuk seluruh provinsi di Indonesia. Baik tentang pembangunan dan kualitas sumber daya manusianya turut menjadi perhatian utama.
“MBG salah satu program unggulan presiden, kita harus dukung, masukan dari semua pihak itu bagus, tetapi bukan hanya bisa mencela, ibaratkan pengen instan, siap jadi, bahkan harus di sulang, tidak demikian ya,” Imbuhnya.
Danrem mengajak para generasi penerus bangsa untuk menjadi motor penggerak, agen perubahan selanjutnya. “Selain mendukung dengan gigih belajar, adik-adik sekalian nantinya dapat menyadari dan mengarahkan pola pikir yang berwawasan luas,” harapnya. []


