Seniman dan pelaku budaya yang tergabung dalam Suara untuk Kebudayaan Aceh Terarah (SUKAT) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Urun Saran Pemajuan Kebudayaan untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh 2025–2029.
Kegiatan ini berlangsung di Escape Green Bistro, Pango, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (13/5/2025), dihadiri oleh puluhan seniman serta tim penyusun RPJM Aceh.
Koordinator SUKAT, Iskandar Tungang, mengatakan SUKAT berinisiatif memanfaatkan akses yang tersedia dari tim penyusun RPJM untuk menyuarakan usulan ekosistem kebudayaan Aceh ke dalam dokumen perencanaan tersebut.
“Usulan ini perlu didukung oleh Disbudpar Aceh. SUKAT berharap bisa berkomunikasi lebih lanjut dengan Disbudpar Aceh perihal RPJM ini, karena RPJM ini juga berhubungan dengan program kerja Disbudpar Aceh,” ujar Iskandar Tungang.
Ia menambahkan, FGD ini bertujuan menambahkan usulan terhadap indikator tujuan, sasaran, dan program yang telah disusun Disbudpar Aceh agar dapat berdampak pada peningkatan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Aceh. Saat ini, IPK Aceh berada di peringkat 22 nasional dengan skor 53,33, di bawah rata-rata nasional sebesar 57,13.
Dalam FGD tersebut, SUKAT menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya: evaluasi indikator pengukuran IPK dalam RPJM Aceh; penguatan SDM pemajuan kebudayaan; pengembangan lembaga dan ekosistem kebudayaan sebagai bagian dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), cagar budaya, serta ekonomi budaya.
SUKAT juga mendukung penguatan perangkat daerah melalui pembentukan Dinas Kebudayaan yang mandiri, selaras dengan struktur kelembagaan Kementerian Kebudayaan RI saat ini.[]



