Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon sedang mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan ke Turki. Fadli Zon sempat bertemu Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy, di Ankara, Rabu (9/4) lalu.
Lewat akun media sosialnya diakses acehkini Sabtu (12/4/2025), Fadli Zon mengungkapkan mengungkapkan keinginannya untuk memproduksi film sejarah bersama Pemerintah Turki, tentang hubungan Kekaisaran Ottoman (Turki) dan Kesultanan Aceh di masa lalu.
“Pada kesempatan ini, saya menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia berkomitmen mempererat hubungan sejarah dan budaya antara kedua negara. Salah satu upayanya adalah melalui produksi film bersama tentang Kekaisaran Ottoman dan Kesultanan Aceh,” tulis Fadli Zon.
Selain itu, dia juga berinisiatif membangun kerja sama dalam seni dan busaya, seperti pameran lukisan bersama dan pembangunan rumah budaya Indonesia di Turki. Hubungan Indonesia dan Turki sebagai dua negara berpenduduk Muslim terbesar memiliki banyak kesamaan nilai dan tradisi budaya yang dapat dikolaborasikan. Beberapa di antaranya terkait warisan budaya takbenda seperti tradisi iftar, seni kaligrafi, dan majelis ilmu.
Kolaborasi kedua negara ini diharapkan mampu memperkuat pengajuan bersama ke UNESCO untuk memasukkan elemen budaya tersebut ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia. Hubungan antara masyarakat Indonesia dan Turki telah terjalin sejak abad ke-16, jauh sebelum hubungan diplomatik dibentuk pada 1950.
Beberapa artefak dan manuskrip menunjukkan interaksi bersejarah ini. Di antaranya, koin emas kuno di Gampong Pande, Aceh, yang memuat nama Sultan Aceh Alaudin Riayat Syah Al-Kahar dan Sultan Ottoman, Suleiman I.
“Selain Ada pula ratusan koin dari Dinasti Umayyah dan Abbasiyah di situs Bukit Bongal, Sumatera Utara, serta makam tokoh Ottoman seperti Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi di Bitai, Aceh,” kata Fadli Zon.
Pada kesempatan tersebut, Fadli menyambut baik penandatanganan kerja sama di bidang kebudayaan antara Indonesia dan Turki. Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong pelestarian warisan budaya, pertukaran akademik dan riset, hingga pengembangan talenta di bidang budaya kontemporer seperti film, musik, dan budaya digital. []



