BerandaNewsKhasKisah Guru Mengaji di Aceh Raup Puluhan Juta Rupiah Berkat Bendera Merah...

Kisah Guru Mengaji di Aceh Raup Puluhan Juta Rupiah Berkat Bendera Merah Putih

Published on

Fitri Andriani duduk di kursi plastik pinggir Jalan Teuku Umar, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh. Ia menanti pembeli di lapak dagangannya yang digelar persis di bawah pohon rindang yang melindunginya dari panas terik Kamis siang (10/8/2023).

Tepat di depan Taman Gunongan, dagangan Fitri begitu mencolok. Sebab, yang ia jual bendera merah putih dan umbul-umbul peringatan kemerdekaan Indonesia. Barang jualan itu ia bentang di pagar taman hingga digantung di tali.

“Sejak 25 Juli lalu sudah berjualan di sini,” kata Fitri.

Pedagang bukanlah pekerjaan utama Fitri. Sehari-hari, dia menjadi guru mengaji di Dayah Ruhul Fatah, Gampong Paya Bili I, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur. Di sana, dia menemani suaminya yang juga pengajar.

Sejak akhir Juli lalu, sementara waktu, dia jeda dari rutinitas itu, dan pergi ke Banda Aceh. Lantas dia menjual bendera merah putih. Di ibu kota Aceh, Fitri tinggal di rumah orang tuanya di kompleks Taman Budaya. Dari mereka pula, Fitri mengambil jahitan bendera yang berkain katun. “Bendera jenis kain satin kami beli dari Bandung,” katanya.

Dia membuka lapak dagangan dari pukul delapan pagi sampai sebelas malam. Bareng orang tuanya, lapak musiman itu sudah dibuka sejak 1999. Untung besar membuatnya selalu bertahan tiap tahun menjual bendera menjelang peringatan kemerdekaan.

Tahun lalu, dia meraup laba bersih—selama kurang lebih sebulan berjualan—Rp 23 juta. “Omzet saat itu lebih dari Rp 60 juta, per hari bisa laku Rp 3 juta hingga bahkan Rp 12 juta,” kata Fitri.

Bendera yang ia jual tak mahal-mahal amat. Misal, ukuran 80 sentimeter Rp 25 ribu per lembar untuk kain satin dan Rp 50 ribu kain katun. Sementara umbul-umbul bisa sampai Rp 400 ribu per lembar. Yang paling murah: bendera kecil untuk dipasang di sepeda motor Rp 5 ribu per lembar.

Namun penjualan tahun ini agak dikit bagi Fitri bila dibanding tahun lalu. Penyebabnya menurut dia karena lapak penjual musiman itu makin ramai. “Tahun lalu per hari bisa Rp 3 juta. Sekarang Rp 1,5 juta per hari. Jauh merosot,” kata Fitri.

Kendati menurun, pendapatan segitu selama berjualan hingga 18 Agustus nanti tetaplah banyak bila dibanding upah pekerjaan lain. “Kerja lain dalam sebulan belum tentu segini dapatnya.”

Peluang Baru Penjual Musiman

Di tepi Jalan Teuku Hasan Dek, Kuta Alam, bendera merah putih dan umbul-umbul dagangan Marjohan berkibar-kibar tersapu angin. Pria 52 tahun ini membuka lapak tepat di seberang Plaza Aceh.

“Sudah tiga tahun ini di sini,” kata Marjohan.

Sejak 2015, dia menjual bendera merah putih tiap menjelang peringatan kemerdekaan. Mula-mula lapak musiman ia gelar di pinggir jalan kawasan Lampineung. Belakangan, dia pindah ke dekat jembatan Beurawe itu.

Berbeda dengan Fitri yang menjual barang sendiri, Marjohan menjual barang orang lain. Dia tak perlu modal besar. Dia mengambil persen dari tiap bendera dan umbul-umbul yang terjual. Dia berjualan sejak 27 Juli lalu, dan rencana gulung lapak pada 16 Agustus.

“Sehari-hari pekerjaan saya tempel ban dan tarik becak,” kata pria asal Sumatra Barat ini.

Selama berjualan, Marjohan merasakan paling banyak laku pada tanggal muda: 1—5 Agustus. Dalam sehari omzet yang ia dapat Rp 200 hingga 500 ribu.

“Di becak saja sehari belum tentu dapat Rp 50 ribu, saya melihat ini peluang baru yang bagus, kenapa tidak kita ambil,” katanya.[]

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


Artikel Terbaru

Asisten II Ingatkan Jajaran Perkim Aceh Fokus Percepat Pembangunan Venue PON

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh Zulkifli, selaku Wakil Ketua Harian I PB PON...

Razia Judi Online, Danrem Lilawangsa Periksa Ponsel Prajurit TNI

Komandan Korem (Danrem) 011 Lilawangsa, Kolonel Ali Imran menginstruksikan razia pengecekan ponsel ratusan prajurit...

Pj Bupati Aceh Besar Bersama Danlanud SIM Tanam Padi di Blang Bintang

Penjabat (Pj) Bupati Aceh Besar, Muhammad Iswanto bersama Komandan Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda...

Jemaah Haji Aceh Meninggal di Tanah Suci Bertambah 2, Total 7 Orang

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Dua orang jemaah haji 1445 Hijriah/2024 asal Embarkasi...

Pria yang Hilang Terseret Arus saat Mandi di Pantai Lhoknga Ditemukan Meninggal

Seorang pria bernama Agus Mauliadi (29 tahun) yang hilang terseret arus saat mandi di...

More like this

Asisten II Ingatkan Jajaran Perkim Aceh Fokus Percepat Pembangunan Venue PON

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh Zulkifli, selaku Wakil Ketua Harian I PB PON...

Razia Judi Online, Danrem Lilawangsa Periksa Ponsel Prajurit TNI

Komandan Korem (Danrem) 011 Lilawangsa, Kolonel Ali Imran menginstruksikan razia pengecekan ponsel ratusan prajurit...

Pj Bupati Aceh Besar Bersama Danlanud SIM Tanam Padi di Blang Bintang

Penjabat (Pj) Bupati Aceh Besar, Muhammad Iswanto bersama Komandan Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda...