BerandaNewsKhasKesaksian Langsung Terbakarnya Rumoh Geudong 1998

Kesaksian Langsung Terbakarnya Rumoh Geudong 1998

Published on

Prolog 1
Rumoh Geudong terbakar atau dibakar? Pertanyaan itu kerap terdengar setelah peristiwa 21 Agustus 1998, saat api menghanguskan bangunan Rumoh Geudong yang berfungsi sebagai Pos Satuan Taktis (Sattis) TNI di Bili Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie.

Api menghanguskan rumah panggung berkontruksi kayu tersebut, menyisakan tembok di bagian belakang dan undakan (tangga) beton, sesaat setelah Tim Pencari Fakta dari Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) yang dipimpin Baharuddin Lopa datang ke lokasi setelah tentara ditarik dari Rumoh Geudong.

Tim Pencari Fakta itu dibentuk saat Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie menjadi Presiden Indonesia, bertujuan untuk membongkar kekerasan dan pelanggaran HAM saat Aceh berstatus Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, tahun 1989-1998. DOM dicabut pada 7 Agustus 1998 saat era reformasi.

Ragam isu beredar hingga kini, kenapa dulu Rumoh Geudong dibakar. Isu pertama, warga sengaja membakar karena kemarahan agar rumah tersebut tidak lagi menjadi Pos Sattis yang digunakan untuk penyekapan dan penyiksaan. Isu kedua, ada provokasi dari pihak tertentu untuk menhilangkan bukti kekerasan semasa DOM.

Acehkini mendapatkan kesaksian lain, bahwa kebakaran di Rumoh Geudong karena unsur ketidaksegajaan yang dilakukan anak-anak remaja.

Salah seorang saksi, Adam (bukan nama sebenarnya) yang berada di lokasi, melihat langsung muasal api bermula. Setelah hampir 25 tahun, dia berbagi kisah dan menulisnya untuk acehkini.

Kesaksian Adam dan Hangusnya Rumoh Geudong

Usai melaksanakan salat Jumat, Jumat 21 Agustus 1998, kami mendengar kabar tim pencari fakta akan kembali ke Rumoh Geudong untuk mencari jejak kekejaman yang dilakukan tentara selama masa DOM Aceh.

Curi-curi waktu, kami berbegas ke sana, jumlahnya belasan orang. Saya (Adam) masih kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA), kawan-kawan lainnya sebagian masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kami cabut dari pelajaran sore waktu itu.

Jarak dari sekolah kami ke Rumoh Geudong tak sampai 2 kilometer. Kami berlarian menyusuri jalan raya dan melewati pematang sawah untuk sampai ke rumah itu.

Kami tiba berbarengan dengan Baharudiin Lopa dan timnya dari Komnas HAM. Di sana juga telah berkumpul masyarakat lainnya. Saat itu beberapa orang mulai mengorek-ngorek tanah di kolam buangan dari kamar mandi. Lainnya menggali tanah-tanah gembur di sekeliling rumah.

Dari pinggir kolam, tim dibantu warga menemukan tulang-tulang kecil yang saat itu diduga bagian dari tulang manusia. Dari dalam kolam, mereka juga menemukan pakaian diduga milik korban yang telah dieksekusi.

Lokasi Rumoh Geudong di Pidie. Foto: Abdul Hadi/acehkini
Lokasi Rumoh Geudong di Pidie. Foto: acehkini

Saya tak terlalu memperhatikan secara detail apa saja yang dilakukan Baharudiidn Lopa dan timnya selama di area Rumoh Geudong sampai mereka pulang bakda Ashar.

Usai tim pencari fakta pulang, kami dan warga memasuki rumah melalui pintu bagian belakang. Tanpa komando, mereka mulai menyisir setiap sudut rumah.

Rumah Geudong merupakan bangunan berbentuk rumah adat Aceh terbuat dari kayu. Bagian depannya memiliki lantai atas dan bagian belakang berlantai semen.

Di sebuah ruangan di bagian dapur, seorang warga tanpa sengaja menggeser cermin ukuran besar yang diletakkan di sana. Tak disangka, di balik cermin itu terdapat ruang rahasia seukuran 3×4 meter dengan ketinggian satu meter. Bagian atas ruang tersembunyi itu berfungsi sebagai tempat duduk atau tiduran. Jika cermin tidak digeser, tak ada yang mengetahui ruangan itu.

Usai menyisir ruangan bawah, saya dan sebagian warga menaiki tangga menuju ruang atas. Di sana ada tiga ruang yang disekat dengan tripleks.

Di sebuah ruangan, warga termasuk anak-anak remaja mendapati seutas rantai, bantal, dan balok sepanjang 50 sentimeter seukuran lengan orang dewasa, di balok segi empat sisi-sisinya sudah bulat itu masih menempel rambut dan kulit yang diduga kulit dan rambut manusia. Sementara di bantal masih kelihatan bercak-bercak darah yang mengering.

Mendapati itu, emosi warga termasuk anak-anak tersulut, sebagian mulai merobohkan sekat tripleks. Seorang remaja kemudian menyalakan korek api yang dibawanya untuk membakar bantal berbercak darah.

Sekejab saja bantal kapas terbakar, sebagian warga berupaya memadamkannya, dengan cara menginjak dan menendang. Percikan api dan kapas terbang menyebar dan membuat api menyembul besar.

Sementara di luar rumah, massa makin ramai dan riuh. Seorang tentara (yang ikut mengawal kedatangan Baharuudin Lopa) menembak senjatanya ke atas, berniat membubarkan massa. Aksinya malah membuat suasana makin riuh dan dia disoraki massa. Tak lama kemudian tentara itu menghilang dari kerumunan.

Saat itu asap hitam mulai mengebul dari Romoh Geudong. kayu-kayu bangunan mempercepat kobaran api. Tidak ada lagi upaya pemadaman, malah warga yang tersulut emosi dengan aksi tentara tadi mulai melempari Rumoh Geudong dengan benda-benda mudah terbakar.

Menjelang Magrib, massa mulai membubarkan diri, setelah Rumoh Geudong terbakar menyisakan tembok-tembok, rangka bangunan dan tangga beton depan.

Tangga Rumoh Geudong yang tersisa
Lokasi Rumoh Geudong setelah diratakan. Foto: acehkini

Prolog 2

25 tahun setelahnya, saya (Adam) kembali menyaksikan alat-alat berat meratakan tembok bekas kebakaran, termasuk pohon-pohon yang tumbuh di sekelilingnya, kecuali tangga yang tetap dibiarkan.

Di sana akan didirikan tenda tempat kegiatan Presiden Indonesia Joko Widodo yang memimpin kick-off (dimulainya) Penyelesaian Nonyudisial Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu (PPHAM), pada 27 Juni mendatang.

Rencananya, di bekas Rumoh Geudong itu, atas inisiatif PJ Bupati Pidie Wahyudi Adisiswanto, akan dibangun sebuah masjid. Tujuannya, agar warga atau korban bisa melupakan tentang peristiwa yang pernah terjadi di tempat itu pada masa lalu.

Para aktivis menentang, tapi bekas Rumoh Geudong telah rata. Hanya tangga beton yang tersisa. []

Follow konten ACEHKINI.ID di Google News



Artikel Terbaru

Jemaah Haji Aceh yang Wafat di Tanah Suci Jadi 15 Orang

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Husaini Bukhari (49 tahun), seorang jemaah haji asal Aceh...

58 Koleksi Kain Tradisional Dipamerkan di Museum Aceh

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Aceh menggelar pameran koleksi wastra (kain...

Operasi Patuh Seulawah, Polda Aceh Sasar 7 Pelanggaran Lalu Lintas

Kepolisian Daerah Aceh bakal menggelar Operasi Patuh Seulawah 2024 sepanjang dua pekan ini: 15-28...

Sekda Aceh Tinjau Venue PON XXI di Sabang

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Azwardi, meninjau pengerjaan venue Pekan Olahraga Nasional (PON)...

Nanang Indra Bakti Disambut Kalung Bunga di Polres Aceh Utara

Nanang Indra Bakti kini resmi menjabat Kepala Kepolisian Resor Aceh Utara. Berpangkat Ajun Komisaris...

More like this

Jemaah Haji Aceh yang Wafat di Tanah Suci Jadi 15 Orang

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Husaini Bukhari (49 tahun), seorang jemaah haji asal Aceh...

58 Koleksi Kain Tradisional Dipamerkan di Museum Aceh

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Aceh menggelar pameran koleksi wastra (kain...

Operasi Patuh Seulawah, Polda Aceh Sasar 7 Pelanggaran Lalu Lintas

Kepolisian Daerah Aceh bakal menggelar Operasi Patuh Seulawah 2024 sepanjang dua pekan ini: 15-28...