Senin, Maret 4, 2024
More
    BerandaHiburanMusikGrup Musik Jelatank, Lebih Gatal dari Jelatang

    Grup Musik Jelatank, Lebih Gatal dari Jelatang

    Published on

    Fuadi S Keulayu menggenjrang-genjreng gitar klasik yang dipangku pada kaki kanan. Seketika Ibal turut memainkan gitarnya dan membentuk sebuah irama. Tak lama, saat nada mulai sedikit merendah, sayup-sayup suara harmonika ditiupkan Pan, menyertai lirik yang dilantunkan Fuadi.

    Jumat (22/3/2019) sore mereka bertiga, tergabung dalam grup musik Jelatank tampil sebagai penutup pada sebuah diskusi di sekretariat Komunitas Kanot Bu, kawasan Emperom Lamteumen Timur, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

    Kala itu Jelatank mempersembahkan dua judul lagu berbasa Aceh: Bui, dan Uleu Raja Timoh. Bui berarti babi, dan Uleu Raja Timoh adalah sebutan orang Aceh untuk Pelangi Matahari.

    Jelatank termasuk grup musik baru di Tanoh Rencong. Namun ketiga personelnya telah lama berkecimpung dalam dunia musik. Dulunya mereka bergerak pada grup musik masing-masing. Misalnya, Pan sebagai vokalis Pane Band, Fuadi S Keulayu pentolan Seungkak Malam Seulanyan, dan Ibal adalah vokalis Balbarawaz.

    Jelatank hadir pada akhir Desember 2018, dengan gaya dan warna baru dalam belantika musik lokal Aceh. Genre musik yang ditawarkan yaitu rock shuffle atau irama rock yang mengayun. “Menurut kami di Aceh belum ada warna musik yang seperti ini,” kata Pan saat berbincang dengan acehkini, Jumat (22/3).

    Ketiga personel Jelatank punya peran berbeda dalam memainkan alat musik. Seperti, Pan yang sesekali meniupkan harmonika, serta Fuadi dan Bal yang jago gitar.

    Tetapi dalam bernyanyi, mereka punya peran yang sama sebagai vokalis. Makanya pada sebuah lagu, terkadang dinyanyikan bersama-sama atau bergilir-giliran. “Dan itu kayaknya belum ada di tempat kita (Aceh). Tiga-tiga menyanyi terus,” ujar Pan.

    Kehadiran Jelatank bukan menambah persaingan grup musik lokal Aceh. Menurut Pan, di belantika musik Aceh masih terdapat ruang kosong yang belum terisi. Dengan begitu, Jelatank hadir dengan ciri khasnya sendiri.

    Kala pertama muncul, mereka sama sekali tidak berpikir untuk serius terjun dalam industri musik. Tetapi Moritza Thaher justru punya pandangan berbeda ketika melihat mereka satu pentas.

    Pemilik Moritza Studio itupun mengajak ketiganya masuk dapur rekaman. Tawaran untuk memproduksi album itu mulanya disampaikan kepada Pan. Ia kemudian meneruskannya kepada Fuadi dan Bal.

    Proses perekaman telah dimulai sejak Januari 2019 lalu. Dan sebelas judul lagu Jelatank berbahasa Aceh, siap untuk dirilis dalam album perdana akhir April 2019. Lirik semua lagu dominan bercerita tentang isu sosial dan budaya Aceh. “Lagu romantis cuma satu,” kata Pan.

    Dominasi isu sosial pada lirik grup musik ini selaras dengan idiom di balik nama Jelatank. Nama itu diambil dari Jelatang, tumbuhan yang daunnya bermiang dan dapat menyebabkan gatal jika tersentuh kulit. “Biar lebih keren kami pakai K,” ujarnya.

    Ide itu diperoleh saat proses penabalan nama yang membutuhkan waktu sepekan lebih. Jelatank keluar pada hari terakhir dan mengeliminasi sejumlah nama sebelumnya. Misalnya, Sureudok, Nuga, dan Siratsu.

    Nama itu tak berlebihan, karena lirik Jelatank membawa pesan-pesan sosial yang kritis. Jika didengar oleh orang lain bakal terasa gatal. Misalnya orang korupsi akan merasa gatal jika mendengar lirik seperti, “Awak cue peng dalam nanggroe, keu aneuk droe peutamong keurija”. Lirik bahasa Aceh itu bermakna: orang yang mencuri uang dalam negeri, pekerjaan diberikan ke anak sendiri.

    “Kan orang korupsi pasti merasa seperti dinyanyikan untuk dia,” tutur Pan.

    “Jadi seperti terkena jelatang. Tapi idealnya kami hanya ingin mengingatkan kami sendiri sebenarnya, bukan untuk orang lain,” sambungnya.

    Meski baru terbentuk, mereka memiliki penggemar garis kerasnya: Rakyat Jelatank. “Kami selalu hadir dan mendukung Jelatank saat pementasan,” kata Presiden Rakyat Jelatank, Ibnu Hajar. []

    Follow konten ACEHKINI.ID di Google News


    Artikel Terbaru

    Rekapitulasi Suara di Aceh Tamiang Sempat Ricuh, Ketua Bawaslu Korban Pemukulan

    Hari pertama pelaksanaan rekapitulasi suara Pemilu 2024 di Aceh Tamiang sempat mengalami kericuhan. Ketua...

    FJL Aceh: Banyak Sampah Plastik Internasional di Pantai Balu, Pulo Aceh

    Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh menemukan banyak sampah plastik dari berbagai negara mencemari pantai...

    Tokoh Partai Aceh Hasanuddin Sabon Meninggal Dunia

    Mantan Bendahara Umum Partai Aceh, Tgk Hasanuddin Sabon (54 tahun) meninggal dunia di Rumah...

    Dandhy Laksono Berkisah di Balik Dirty Vote saat Diskusi di AJI Banda Aceh

    Sutradara dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono berbagi kisah di balik layar film yang telah...

    APBA 2024 Belum Disetujui DPRA, Gubernur Aceh Terbitkan Pergub

    Anggaran Pendapatan dan Balanja Aceh (APBA) 2024 belum mendapatkan persetujuan bersama dari Pemerintah dan...

    More like this

    Rekapitulasi Suara di Aceh Tamiang Sempat Ricuh, Ketua Bawaslu Korban Pemukulan

    Hari pertama pelaksanaan rekapitulasi suara Pemilu 2024 di Aceh Tamiang sempat mengalami kericuhan. Ketua...

    FJL Aceh: Banyak Sampah Plastik Internasional di Pantai Balu, Pulo Aceh

    Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh menemukan banyak sampah plastik dari berbagai negara mencemari pantai...

    Tokoh Partai Aceh Hasanuddin Sabon Meninggal Dunia

    Mantan Bendahara Umum Partai Aceh, Tgk Hasanuddin Sabon (54 tahun) meninggal dunia di Rumah...